Eps 3 : Bergereja Di Era New Normal - GKI Agus Salim Bekasi

All About GKI, Spotlight, 09 August 2020
Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan.

[Disclaimer lagi dan lagi, tulisan ini murni pengalaman saya ketika beribadah di era new normal dan telah menerima ijin dari Majelis Jemaat tempat dimana saya meliput. Meskipun saya tidak meliput suasana ibadah New Normal di gereja saya sendiri (Re: Gereja tempat saya berjemaat) namun saya senang mendapat kesempatan untuk merasakan ibadah tatap muka (onsite) bersama jemaat di tempat yang saya kunjungi. Sekali lagi, tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman saya pribadi dan bukan bermaksud untuk membandingkan gereja yang saya datangi dengan gereja lain namun ini merupakan experience saya dalam beribadah di era new Normal.]

Sabtu, 8 Agustus 2020 - GKI Agus Salim - Bekasi

Sore itu saya memacukan motor mengarungi panjangnya Kalimalang menuju ke arah Bekasi Kota. Waktu menunjukkan pukul 15.00. Siang itu cukup macet dan padat namun saya tetap pergi menuju sebuah tempat di daerah Bekasi. Pukul 16.00 ditemani dengan awan mendung saya tiba di GKI Jl. KH. Agus Salim No 205 Bekasi Jaya untuk melakukan Rapid Test. Sebelumnya saya dikabari untuk mengikuti Rapid Test agar dapat mengikuti Ibadah Hari Minggu di GKI Agus Salim. Sudah merupakan protokol yang ditetapkan oleh Majelis Jemaat berkerjasama dengan Tim Gugus Tugas COVID-19 GKI Agus Salim agar menekan penyebaran COVID-19 ini di lingkungan GKI Agus Salim. Setiap sabtu, mulai jam 14.00-17.00 GKI Agus Salim mengadakan pemeriksaan kepada setiap anggota jemaat dan simpatisannya agar dapat mengikuti ibadah minggu, terutama didalamnya para petugas ibadah yang akan bertugas. Setelah mendaftar, saya mendapatkan kartu lalu mengantri untuk pengecekan. Di dalam aula sudah ada 2 dokter yang akan melakukan rapid test. Tentu jemaat yang menunggu tetap memberlakukan prinsip social distancing

Setelah dilakukan pengambilan darah, saya diarahkan untuk menunggu hasil. Ada sedikit rasa cemas dalam diri saya. Saya baru pertama kali juga mengalami Rapid Test ini. "Bagaimana kalau-kalau saya reaktif (ada potensi Sars-Cov-2 /red)?," pikir saya. "Ah sudahlah saya serahkan saja pada Tuhan." Selang 15 menit menunggu, hasil sudah saya terima dan Puji Tuhan saya non-reaktif.  


Minggu, 9 Agustus 2020 - GKI Agus Salim - Bekasi

Tepat pukul 08.30 saya sampai di area parkir motor GKI Agus Salim. Bila biasanya jemaat dapat memarkirkan kendaraannya di dalam gedung gereja, kali ini jemaat diarahkan untuk memarkir di tempat yang telah disediakan. Jaraknya tidak jauh dari gedung gereja. Setibanya di depan gerbang gereja, saya sudah disambut oleh petugas dari Tim Gugus Tugas COVID-19 GKI Agus Salim. Di pintu gerbang, sebelum jemaat memasuki gereja terdapat bilik penyemprotan disinfektan dan setelah itu saya diarahkan untuk mencuci tangan di spot cuci tangan yang ada. Setelah mencuci tangan, saya diarahkan untuk mengukur suhu tubuh dengan alat pendeteksi suhu tubuh dengan sensor. Juga disediakan thermogun agar jemaat yang bisa langsung menuju meja registrasi. Setelah melakukan pengukuran suhu saya menuju pada meja registrasi dan disambut oleh penatua yang bertugas. Di sini, jemaat yang sudah mendaftarkan diri kepada koordinator wilayah yang ada akan memberitahu nomor bangku yang mereka dapatkan. Nomor bangku ini tersedia bila jemaat sudah melakukan pendaftaran diri lewat koordinator wilayah. Terdapat 7 wilayah yang ada di GKI Agus Salim tersebar mulai dari Ujung Menteng hingga Cikarang.

Di sini, tidak disebarkan kantong persembahan juga tidak memberikan persembahan secara maju ke depan. Jemaat hanya dihimbau untuk menyiapkan persembahannya dari rumah di dalam amplop dan diserahkan di kotak persembahan di meja registrasi. Juga disediakan QRIS bagi jemaat yang hendak memberikan persembahan secara online. Di dalam gedung gereja jemaat juga tetap memperhatikan protokol kesehatan dengan tetap memberlakukan social distancing dan tidak meninggalkan bangku yang sudah ditempati atau berpindah-pindah.

Ibadah kali ini dengan tema "Percayalah" terambil dari bacaan injil Matius 14 : 22-33 yang dipimpin oleh Pdt. Melanie Ayub Egne. Sapaan firman yang sungguh menguatkan kita untuk tetap percaya akan pemeliharaan Allah di tengah situasi seperti sekarang.

Secara liturgi, ada hal baru yang saya alami disini. Nyanyian Jemaat dipimpin oleh Pemandu Nyanyian Jemaat saja. Jemaat hanya bernyanyi ketika nyanyian sebelum firman, nyanyian persembahan dan nyanyian pengutusan. Juga lagu pujian yang dipilih paling banyak hanya dua bait saja. GKI Agus Salim juga hanya menerapkan satu bacaan saja yaitu Bacaan Injil. Ketika persembahan, setelah nyanyian persembahan dilagukan Majelis yang bertugas membawa persembahan jemaat dalam kotak persembahan yang diawal tadi sudah dikumpulkan ke depan altar. Juga terdapat persembahan pujian Virtual dari Guru-Guru TKK dan SDK Penabur Agus Salim dalam rangka HUT BPK Penabur. Setelah berkat, pendeta dan penatua yang bertugas memberikan salam persekutuan dari mimbar setelah jemaat bersaat teduh sejenak. Setelahnya, pendeta dan penatua meninggalkan ruang ibadah. Kemudian jemaat meninggalkan ruang ibadah satu persatu dimulai dari yang paling belakang hingga yang paling depan. Jemaat juga dihimbau untuk tidak berkerumun dan langsung meninggalkan gedung gereja menuju rumah masing-masing. 

GKI Agus Salim mengadakan 2 kali jam ibadah. Pukul 06.30 WIB dan 09.00 WIB. Setiap selesai ibadah selalu diadakan penyemprotan desinfektan di ruang ruang seperti ruang ibadah, balkon dan konsistori guna menekan penyebaran virus dari jam ibadah sebelumnya. 

Kapasitas ruang ibadah yang semula dapat menampung kurang lebih seribu orang kini dikurangi banyak. Daya tampung yang digunakan tiap minggunya tidak diisi sepenuhnya juga. Prinsip social distancing juga sudah dipersiapkan secara matang dan siap. Dari segi sirkulasi udara, GKI Agus Salim memiliki banyak jendela dan pintu yang dibuka ketika ibadah sedang berlangsung agar udara dari luar dapat masuk ke dalam. Sistem pencahayaan juga sudah didukung dari setiap cahaya yang masuk. Air conditioner juga tidak dinyalakan selama ibadah berlangsung. Oleh karena itu, suhu bekasi yang cukup panas dan terik siang itu membuat saya kegerahan dan berkeringat selama beribadah karena saya tepat berada di bawah jendela yang memancarkan sinar matahari. Secara tidak langsung saya sedang berjemur sambil beribadah hehe. 

Setelah ibadah saya berkesempatan bertemu dan berkenalan dengan teman-teman dari Tim Gugus Tugas COVID GKI Agus Salim. Pelayanan ini memang beresiko,  tetapi mereka memilih memberikan diri agar jemaat dapat beribadah secara tatap muka kembali di gedung gereja. Sebelumnya, GKI Agus Salim telah melaksanakan uji coba peribadahan dengan dihadiri oleh dinas kesehatan Kota Bekasi yang ikut menilai dan melihat kesiapan dari gereja ini untuk mengadakan inadah kembali. Setelah ijin didapat, Majelis kemudian membentuk Tim Gugus Tugas yang selalu bertugas di setiap jam ibadah setiap minggunya.

Biasanya, setelah bertugas mereka berkumpul dan mengevaluasi apa yang terjadi di ibadah kali ini. Saya beruntung bisa melihat evaluasi yang diadakan oleh team kali ini. Selama 4 minggu berjalan mulai dari tanggal 19 Juli kemarin tidak ada kendala spesifik yang dijumpai oleh rekan rekan gugus tugas ini. "Pernah ada jemaat yang belum melakukan registrasi ke koordinator wilayah dan belum rapid test waktu itu sekali. Lalu, kami himbau untuk beribadah dari rumah," menurut keterangan Pnt. Untung selaku ketua dari Tim Gugus Tugas. Majelis Jemaat dan Tim Gugus juga menyediakan ambulance yang standby di gereja setiap hari Minggu dan menyediakan juga ruang isolasi kalau-kalau ada jemaat yang kurang enak badan atau tiba-tiba merasa sakit. 

Majelis Jemaat selalu berkoordinasi dengan Tim Gugus Tugas COVID dalam melakukan ibadah onsite setiap minggunya. Mereka inilah yang paling berperngaruh dalam memutuskan sesuatu terkait ibadah onsite  sekaligus yang  paling bertanggung jawab bila ada sesuatu yang terjadi di lingkup jemaat GKI Agus Salim. Sebuah kehormatan bagi saya disambut dengan hangat dan ramah dalam persekutuan yang tetap berjarak dan tetap menaati protokol kesehatan bersama teman-teman gugus tugas. Saling berbagi cerita juga terhadap persiapan gereja di tengah masa pandemi seperti ini.

Menurut saya GKI Agus Salim sudah menjaga dan memelihara kehidupan jemaatnya secara baik, siap, dan matang. Namun demikian, setiap pelayanan apapun yang beresiko menularkan virus Covid tetap terus harus dipantau dan dievaluasi secara terus menerus.


Bersambung ke eps 4 ........

LATEST POST

 

            Pastinya sebagian dari kita sering mendengar atau mel...
by Eva Chrisviana | 30 Nov 2020

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER