Selamat Ulang Tahun! Mari Membangun Rumah Bersama

All About GKI, Behind The Scene, 21 August 2020
Yohanes 17 : 21 (TB) supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

Pada 26 Agustus 1988 bertempat di Bumi Kinasih dalam Persidangan Raya Sinode Am GKI berkumandanglah IKRAR Penyatuan Gereja Kristen Indonesia. Mereka yang semula berada dalam tiga Sinode Besar memutuskan untuk bersatu, berlayar bersama di dalam sebuah kesatuan Sinode Gereja Kristen Indonesia yang sekarang kita kenal dengan nama GKI. GKI Jawa Timur (Jatim), GKI Jawa Tengah (Jateng) dan GKI Jawa Barat (Jabar) bersama sama saling bersinergi dan berkolaborasi dalam mewujudkan Gereja Kristus di bumi Indonesia

GKI Berawal dan bermula dari penginjilan yang dilakukan Zending bagi masyarakat keturunan Tionghoa di ketiga daerah tersebut. Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) merupakan latar belakang yang mendasari adanya Gereja Kristen Indonesia, misalnya THKTKH Gang Kelinci yang menjadi cikal-bakal GKI Patekoan (GKI Samahudi, GKI Perniagaan) yang menggunakan bahasa hokkien dan berkonsentrasi menginjili di daerah Batavia waktu itu,  walaupun sebenarnya  tidak semua GKI  berlatar belakang Tionghoa seperti beberapa gereja peninggalan Belanda atau Gereforemerd Kerk contohnya Gereformerd Kerk Kwitang Jakarta (GKI Kwitang), Gereformerd Kerk Semarang (GKI Gereformerd Semarang) dan Gereformerd Kerk Surabaya (GKI Pregolan Bunder Surabaya). 

 


Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Peribahasa tersebut saya rasa tepat sekali dalam memaknai Hari Ulang Tahun ke-32 Penyatuan GKI tahun ini. Beberapa dari kita mungkin juga ingat dengan semboyan Jas Merah yang adalah Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Tulisan saya kali ini merupakan refleksi saya sebagai anak muda yang memiliki identitas sebagai GKI dan rindu mengenal lebih dalam "rumah" di mana saya beraktivitas dan melayani Tuhan lewat gerejaNya. Menurut saya, tidak ada gereja yang sempurna di dunia ini. Namun semua gereja, dan termasuk di dalamnya GKI, adalah kepunyaan Tuhan. Semuanya terjadi atas kehendakNya dan tiada seorang pun yang dapat mengambil-alih itu semua. Membangun rumah bersama adalah tugas kita semua, baik tua-muda, pria-wanita, kecil-besar. Ini adalah tanggung jawab bersama agar terwujudnya Gereja Kristus yang Esa di tanah Indonesia ini. Gayung bersambut, kerinduan saya mengenal lebih dalam "rumah" kita ini dipertemukan dengan seorang hambanya, bapak Pdt. Em. J.H. Wirakotan yang akrab disebut sebagai Pak Wir. Belau merupakan salah satu saksi sejarah Agustus 1988 di Bumi Kinasih dalam rangka penyatuan GKI yang semula berada dalam 3 Sinode Besar menjadi 1 Sinode yang Am dan Rasuli.  


Dari Gang Kelinci Menuju Gereja Kristen Indonesia

Pagi itu, sebuah diskusi hangat terjadi antara saya dengan Pak Wirakotan di rumahnya yang nyaman dan hangat. Secangkir teh hangat dan air putih menemani perbincangan kami pagi itu. Pak Wir bertutur, kala itu ia masih menjadi seorang pendeta muda  yang mengikuti dan mengamati Moderamen Sinode Am Gereja Kristen Indonesia yang diselenggarakan di GKI Jl. Gang Kelinci Pasar Baru (GKI Samanhudi sekarang)  Jakarta pada tanggal 27 Maret 1962. Yang akhirnya ditunjuk untuk menjadi Sekretaris Umum dan sampai menjelang masa emeritasinya pun Pak Wir tetap berfokus untuk mengupayakan persatuan GKI. Berawal dari Gang Kelinci tersebut api semangat persatuan semakin kuat terasa. Berkumpullah para utusan dari ketiga GKI (Jatim, Jateng, Jabar) untuk mewujudkan gagasan-gagasan penyatuan Gereja Kristen Indonesia. Berlandaskan Firman Tuhan di dalam Yohanes 17 : 21 yang menjadi dasar berpijak dan semangat untuk menyatukan ketiga GKI ini menjadi satu kesatuan. 

"Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."  

Jalan yang ditempuh  oleh ketiga GKI tersebut menuju satu kesatuan ternyata tidaklah mudah. Perjalanan yang panjang, kadang berliku dan menanjak merupakan tantangan yang didapat. Api semangat itu juga sempat mengalami keredupan. Tidak dipungkiri memang, setiap Sinode ini (Jabar, Jateng, Jatim) memiliki kekurangan dan kelebihannya masing masing. Tak heran juga terkadang egosentris dari tiap wilayah mulai muncul dan masalah inilah yang terkadang menjadi hambatan dalam sebuah gereja untuk mewujudkan gereja yang satu. 

Sampai suatu saat, 20-24 Agustus tahun 1972 di Kaliurang, diadakan Pertemuan Raya Pemuda GKI. Di dalamnya kaum muda mendesak agar mimpi dan cita-cita untuk bersatu dapat segera diwujudkan. Semangat kaum muda kala itu menjadi obor yang menerangi para pemimpin kala itu yang sudah mulai meredup semangatnya. Hasrat kaum muda yang menghendaki persatuan ini merupakan semangat yang menjadi motor penggerak bagi ketiga Sinode ini untuk bersatu. Peribahasa "Mangan Ora Mangan asal Kumpul" merupakan semangat anak muda kali itu. Mereka lebih memilih untuk tidak makan asalkan dapat berkumpul dengan sesama saudaranya seiman. Lebih dari itu, makna kumpul bagi mereka merupakan sebuah kebahagiaan sejati yang tidak pernah berkesudahan.


Sebuah semangat yang menurut saya merupakan penggerak untuk terus direnungkan bersama bagi kita kaum muda jaman sekarang.  Dalam kelompok-kelompok kategorial yang ada dalam jemaat GKI, posisi anak muda memiliki peranan yang sangat penting dalam dinamika di gereja. Dalam sejarah Penyatuan GKI setelah tahun 1988 pun kaum muda terus memprakarsai pertemuan-pertemuan mengenai Penyatuan GKI. Kaum muda yang memiliki ciri khas mobilitas dan semangat yang tinggi dengan dibekali potensi-potensi dari pribadi akhirnya menjadi salah satu faktor pendukung kesuksesan penyatuan GKI 26 Agustus 1988 di Bumi Kinasih dan sampai sekarang akhirnya menjadi satu Sinode GKI Am. Percakapan pagi itu bersama Pak Wir diakhiri dengan sebuah pesan bahwa dahulu semangat kaum muda yang berapi-api telah berhasil menyatukan ketiga Sinode GKI, maka bangkitlah anak muda untuk tetap menjaga semangat tersebut.  Terima kasih Pak Wir telah menjadi saksi dan tokoh dalam persatuan Sinode GKI Am.

 

Mari Bersama Membangun Rumah

Pertemuan berharga saya dengan Pdt. Em. J.H.Wirakotan kemudian membuat saya akhirnya merefleksikan bagaimana peranan saya, sebagai anak muda di tengah GKI yang begitu kaya akan sumber sejarah dan kebudayaan. Bercermin dari semangat kaum muda tahun 1972 di Kaliurang, bagaimana dengan kita sebagai kaum muda di tengah tantangan zaman yang ada sekarang? 

Moderenisasi dan globalisasi merupakan tantangan utama bagi kita dan gereja kita sekarang. Di dalam semuanya itu, sudahkah kita sebagai kaum muda GKI menjaga "api" tersebut ? Di tengah segala upaya yang sudah pernah dilakukan para pendahulu kita untuk mencapai GKI yang satu dan Am, apakah kita malah ingin kembali membiarkan ego kita pribadi, ego jemaat kita pribadi, atau ego wilayah kita pribadi mengembalikan ke keadaan yang semula ? Atau kita sibuk memandang "rumput tetangga" yang lebih terlihat menggiurkan dan segar untuk kita singgahi hanya karna merasa rumah kita terlalu tua dan kolot untuk diperbaiki ? 

Sebuah anugerah bagi saya di momen Hari Ulang Tahun dan Peringatan Penyatuan GKI ini untuk benar-benar merasakan dan menikmati "makanan" rumah sendiri walaupun memang terkadang tidak enak rasanya. Bersama sama juga memperbaiki, bila dirasa perlu untuk disesuaikan dengan keadaan zaman yang terus bergerak maju. 

Mari, bersama-sama kita membuat nyaman setiap penghuni rumah agar tidak ada rasa sesal dan sakit hati terhadap satu dan yang lainnya. Dan sebagai anak muda juga tetap menjaga "api" ini agar terus menyala bahkan di situasi zaman sekarang yang terasa gelap dan dingin. Dan memang, lagi-lagi saya menyimpulkan bahwa tidak pernah ada gereja/jemaat/sinode yang sempurna. Tapi di balik ketidaksempurnaan tersebutlah ada cara Allah mendidik setiap umatNya untuk tetap melekat pada DIA yang adalah sempurna. Sehingga biarlah Ia yang menggantikan ketidaksempurnaan kita, gereja kita, sinode kita bahkan bangsa kita.

 

Selamat bersama-sama memperbaiki dan memperindah Rumah Kita Bersama.

Selamat Ulang Tahun  Gereja Kita, Gereja Kristen Indonesia

Soli Deo Gloria

LATEST POST

 

Sebuah Pertemuan23 Januari 2019, GKI Gunung Sahari. Sekitar 1 tahun yang lalu, aku mengenal mereka,...
by Jonathan Joel Krisnawan | 22 Sep 2020

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang...
by Regina Megumi Tandiari | 22 Sep 2020

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seoran...
by Noni Elina | 22 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER