Perut, Pesan-Terima, dan Pandemi: Lapar dan Pemeliharaan Sang Pencipta

Best Regards, Live Through This, 22 April 2020
"Bolehlah kita membeli, bolehlah kita memesan. Namun ingat, makanan itu ialah gizi dari dunia Sang Pencipta."

Di samping berjemur, rasanya ber-jenuh menjadi keseharian baru kita di rumah. Penulis pun juga menjalani hal yang serupa. Memang, kegiatan rumah yang dulu-dulu tetap berjalan seperti biasa. Tapi, entah mengapa, kegairahan di dalam kegiatan-kegiatan itu hilang. Termasuk ketika penulis membaca berita-berita via smartphone. Bosan dengan kanal “Nasional,” penulis beralih ke kanal berita yang kadang penulis lupa klik. “Coba liat berita ‘Ekonomi,’ ah.”

Derita Petani Italia, Tertekan Virus Corona dan Kekeringan,” 20 Maret 2020. 2 hari sebelumnya, di kanal yang sama, CNN telah lebih dahulu merilis “Mendag Yakini Stok Beras Nasional Cukup Sampai Desember 2020.” Penulis bukan pakar ekonomi atau pun pangan. (Apalagi menjalani studi ekonomi atau pun pangan!). Namun, melihat berita-berita ini, penulis dibawa kembali untuk melihat realita apa yang sedang penulis, dan nampaknya kita semua, sedang hadapi. Bukankah kita, orang-orang yang terbiasa lapar dan makan, terdisrupsi oleh keterbatasan kita, sehingga tidak bisa lagi keluar dan membeli makanan?

Photo by Fikri Rasyid on Unsplash 

"Tidak juga!" Mungkin itu jawaban sebagian pembaca. Bersyukur jika di masa pandemi ini, kita tetap punya akses untuk membeli bahan makanan, bahkan makanan jadi. Jika para pendahulu kita terbiasa grow food, kini kita terbiasa gofood, bukan? Karena itu, barangkali kedua berita di atas tidak menimbulkan tekanan di dalam batin kita. “Toh saya tetap pesan lewat app,” pikir kita. 

Kita cenderung untuk berpikir bahwa perkara makanan bukan jadi masalah. Tersedianya makanan, saya yang tentukan. Kenyang perut ini, saya yang tentukan. Mau simpan atau habiskan, saya yang tentukan.

Penulis mengakui kalau dirinya jadi salah satu aktor di balik drama pesan-terima makanan. Bukan karena tidak ada bahan makanan di rumah, tetapi kadang bosan jika harus makan yang itu-itu saja. Jika penulis mau Bakmi Ayam, Seblak, Cireng, bahkan Babi Guling (apalagi karena penulis tinggal di Bali), penulis bisa dapatkan dengan satu kali klik. Nah, itu baru dari pilihan makanan. Belum dari pilihan aplikasi yang penulis bisa gunakan. Tinggal cek di keduanya. “Mana ya, yang lagi ada promo gede-gedean?” Klik, berikan catatan untuk pengirim, lacak di mana posisi pengirim, tunggu..... Tanyakan (atau mungkin protes!) apabila durasi pengiriman lebih lama dari yang terprogram atau dikehendaki. Makin tidak sabar! Ketika makanan sampai, langsung protes karena sudah lama sekali (padahal belum bertanya kenapa bisa lama sekali). Ada yang pernah alami hal serupa?

Photo by Lucian Alexe on Unsplash 

Penulis setuju jika kita, sebagai ciptaan-Nya yang bisa lapar dan butuh makanan, harus berusaha memastikan makanan yang kita pesan datang tepat waktu. Apalagi, makanan yang kita pesan adalah makanan yang jarang sekali kita makan. “Mumpung situasi kayak begini, kenapa gak pesan saja?” Kita cenderung membenarkan situasi, agar bisa pesan makanan “berharga” kita. Makanan tidak lagi menjadi sumber kekuatan tubuh, tetapi lebih kepada sumber kesenangan hidup. Singkatnya: saya makan, karena itu saya senang.

Semakin penulis renungkan, ternyata hal ini bisa menjadi semakin parah apabila pandemi berlangsung untuk waktu yang lebih lama lagi. Bayangkan jika pandemi ini baru selesai 1, bahkan 2 tahun ke depan. Tentu, menipisnya ketersediaan pangan akan mendorong kita untuk mencari cara meredakan “amarah” perut kita. Tak heran, nantinya akan banyak pesanan yang kita daftarkan setiap harinya. Bagaimana dengan para pengirim? Merekalah yang berada di garis terdepan untuk menerima tuntutan kita, para pemesan yang peduli perut! Dan apa hasilnya? Penghargaan terhadap perut kita semakin tinggi, penghargaan terhadap manusia semakin rendah. Inikah yang kita inginkan? Pemenuhan kebutuhan seperti inikah yang kita hendak pertahankan?

Photo by Vincent van Zalinge on Unsplash 

Ketika kembali merenungkan kebenaran Alkitab, penulis dapatkan bahwa manusia pertama adalah manusia yang menerima makanan dari Sang Pencipta. "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu” (Kej. 1:29). Terlepas dari kita adalah vegetarian atau bukan, Alkitab menyatakan bahwa Sang Pencipta adalah Allah yang memberi. Tentu, apa yang Ia beri bukanlah makanan yang hanya untuk mengisi perut kita. Ia berikan makanan itu sehingga manusia dapat memiliki tenaga dan kondisi tubuh yang prima, supaya dapat menjaga dan menata dunia yang telah Allah ciptakan (1:28). Sang Pencipta memberikan gizi yang baik kepada manusia, karena ia adalah gambar dan rupa Sang Pencipta (1:26). Lewat alam ciptaan Allah yang baik, manusia memperoleh tenaga yang baik untuk menjaga tatanan baik ciptaan yang Allah tetapkan. Dan ketika melihat segala yang dirancang-Nya itu, Pencipta melihatnya “sungguh amat baik” (1:31). Dengan demikian, Allah tidak menempatkan manusia hanya untuk mengelola alam; Ia bermaksud supaya manusia dapat mengelola alam untuk manusia dan ciptaan

Kembali kepada realita. Penulis pikir disrupsi dari pesan-antar makanan (tidak sabaran, cepat protes, dsb.) adalah hal yang nyata. Namun, ketika ditelaah kembali, ada kemungkinan bahwa disrupsi ini dikarenakan disrupsi yang lebih awal: disrupsi persepsi terhadap makanan. Selama ini, makanan yang kita pesan dan nikmati mungkin kita pandang sebagai hak milik kita. Semua pembelaan dan pembenaran kita berikan agar pesanan kita terpenuhi. Karena itu, dengan cepat kita memesan, dengan tidak sabar kita menunggu, dan dengan tidak segan kita memprotes para pengirim yang terlalu lama. Tak disadari, justru kita telah jauh dari natur kita: para penerima makanan dari Sang Pencipta.

Photo by Alora Griffiths on Unsplash 

Pandemi belum berakhir, karena itu dunia juga belum berakhir. Masih ada dunia dimana kita berkarya di atasnya. Masih ada kehidupan yang bisa kita jalani dan perbaiki. Dan karena itu, masih ada panggilan dan jalan pertobatan untuk kita hayati dan taati. Ijinkan situasi kini menggelisahkan kita. Bisa jadi, ini cara Sang Pencipta untuk memperbaiki diri kita yang telah lama rusak. Bolehlah kita membeli, bolehlah kita memesan. Namun ingat, makanan itu ialah gizi dari dunia Sang Pencipta. Syukuri. Para pemasak adalah meraka yang Sang Pencipta perlengkapi untuk memelihara kita. Syukuri. Para pengirim adalah mereka yang Sang Pencipta pakai untuk menyampaikan kasih dan pemeliharan-Nya kepada kita. Syukuri.

LATEST POST

 

Ketika aku hidup sentosa aku pernah berkata,"Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!"TUHAN,...
by Samuel Semeion | 10 Jun 2024

Jakarta, 4 Mei 2024 – Generasi muda Indonesia, yang mencapai lebih dari separuh populasi, meru...
by Admin | 29 May 2024

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER