Mengalahkan Pengertian yang Lama

Going Deeper, God's Words, 04 August 2020
Perjumpaan dengan Allah membawa kita bergerak dalam transformasi hidup, yang memberikan dampak dan kesaksian bagi kemuliaan Allah.

Pada November 1971, seorang wanita yang merupakan anggota pasukan gerilya yang pernah membunuh polisi maupun orang sipil datang dalam KKR di Lima, Peru. Ibadah KKR yang dihadirinya ternyata sangat menyentuh hatinya, sehingga ia berkomitmen untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Ia belajar meninggalkan hidup yang lama dan menyerahkan hidupnya yang baru ke dalam tangan Tuhan. Setelah dia bertobat, dia mengurus dua ribu anak miskin di pinggiran Kota Lima, dengan memberikan sarapan dan membangun sekolah untuk mereka di perkampungan miskin di Peru. Ia juga memulai perintisan beberapa gereja di sana.



Dalam konteks Efesus 5:1-21 Paulus memberikan pengajaran kepada jemaat di Efesus bahwa yang dikehendaki Allah bagi umat-Nya adalah meninggalkan segala pengertian lamanya dan menjadi pribadi dalam pengertian yang baru. Rasul Paulus menjelaskan pada saat orang percaya, bahwa untuk menjalani proses menuju kehidupan baru, mereka tidak boleh seperti orang bebal. Kata bebal dalam bahasa Yunani "asophos", dapat diartikan "bodoh". Seseorang yang bodoh adalah orang yang dengan sengaja menghancurkan dirinya sendiri. Orang percaya tidak dapat memungkiri bahwa seringkali, ia masih terjebak dalam pengertian lama yang bodoh. Pengertian ini kerap kali pula membawa kita terjerumus dalam dosa yang hanya memenuhi hawa nafsu dunia, yang seharusnya kita sangkali. Allah menghendaki orang percaya menjadi orang yang arif, atau yang bahasa Yunaninya adalah "sophos", yang dapat berarti orang yang bijaksana. Orang bijaksana adalah orang yang dapat mempergunakan waktu yang singkat dengan baik, penuh dengan hikmat dan tanggungjawab dalam melakukan pekerjaan Allah, serta membawa transformasi hidup kepada nilai-nilai kesucian, dan kerendahan hati. 



Saat kita sudah berkomitmen menjadi murid Kristus, maka kita diajak untuk belajar agar tidak terjebak dalam pemikiran lama seperti orang bebal. Kehidupan kita seharusnya tampak seperti orang arif yang penuh hikmat dari Allah. Kehidupan kemuridan kita seharusnya juga mengalami proses pembaharuan hari demi hari. Kita akan menggunakan waktu yang ada dengan sebaik dan sebijak mungkin untuk melakukan pekerjaan baik, misalnya memperhatikan komunitas kita dengan penuh ketulusan, kasih, dan sebagainya. Kita diajak untuk melakukan peran kita sebagai agen-agen transformasi, yang menuntun orang lain hidup mengasihi, dan menaati Allah, serta mengasihi sesama.

LATEST POST

 

Sebuah Pertemuan23 Januari 2019, GKI Gunung Sahari. Sekitar 1 tahun yang lalu, aku mengenal mereka,...
by Jonathan Joel Krisnawan | 22 Sep 2020

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang...
by Regina Megumi Tandiari | 22 Sep 2020

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seoran...
by Noni Elina | 22 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER