Aku Gereja, Kau pun Gereja: Sebuah Refleksi dari Polemik Hagia Sophia

Best Regards, Live Through This, 27 June 2020
Jika Gereja adalah orangnya, perlukah kita risau akan keputusan pemerintah sebuah negara yang bahkan kita tidak menjadi warga negaranya dan tidak pula tinggal di dalamnya? Bukankah kita meyakini pula bahwa Tuhan tidak terbatas dalam suatu rumah ibadah tertentu dan Ia lebih besar daripada sekedar sebuah Basilika atau Katedral sekalipun?

Hagia Sophia (dibaca "Aya Sofia") adalah sebuah bangunan yang sangat kental dengan sejarah. Pada awalnya, bangunan ini adalah sebuah basilika Kristen Ortodoks yang dibangun oleh Kaisar Justinian I pada 537 Masehi. Tergolong megah pada zamannya dan hingga sekarang. Justinian dikabarkan pernah berujar bahwa ia adalah raja yang lebih hebat daripada Salomo, sebab ia membangun rumah ibadah terbesar. Menjadi ikon kebesaran dunia Kristen pada masa itu, Hagia Sophia banyak dikunjungi oleh jemaat dari gereja-gereja ritus timur. 

Saat pecah perang Salib, pada 1204 Masehi, pasukan Salib menduduki kota Konstantinopel. Meskipun masih berupa gereja, namun peribadatan di Hagia Sophia mengikuti liturgi Katolik Roma. Namun, fungsi Hagia Sophia sebagai gereja Katolik Roma tidak lama. Sekitar 1244 Masehi, pasukan kekaisaran Byzantine merebut kembali Konstantinopel dari tangan pasukan Salib, dan lantas mengubah kembali liturgi peribadatan menjadi liturgi gereja Ortodoks. 

Pada tahun 1453, Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Turki Utsmani. Sultan Mehmet II mengubah fungsi Hagia Sophia dari gereja menjadi masjid. Inilah perubahan fungsi mayor pertama yang terjadi. Selama hampir 500 tahun berikutnya, Hagia Sophia berfungsi sebagai Imperial Mosque, atau masjid resmi milik Kekaisaran Ottoman Turki. Runtuhnya Kekaisaran Ottoman pada 1923 tidak lantas mengubah fungsi Hagia Sophia. Baru pada 1934, bangunan ini diubah oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi sebuah museum bersejarah hingga Presiden Erdogan melalui keputusan kabinetnya mengubah kembali fungsi bangunan menjadi masjid setelah berfungsi sebagai museum selama hampir 90 tahun. 

Banyak sekali reaksi yang ditimbulkan dari keputusan presiden Erdogan ini, baik pro maupun kontra. Bagi yang pro, tentu saja mereka mengacu pada fungsi awal bangunan sebelum dijadikan museum, yakni sebagai masjid milik kekaisaran. Namun, bagi yang kontra, mereka beralasan bahwa itu bisa merusak situs bersejarah. Lantas, bagaimanakah Kristen seharusnya bersikap? Perlukah Kristen ngamuk dan menyerukan protes? Ataukah malah menyerukan pengubahan bagunan kembali menjadi sebuah gereja?

Sabar dulu boss! Mari duduk dulu, minum kopi, biar paham. Karena, masalah ini bukanlah murni masalah agama, melainkan ada unsur politik terkandung di dalamnya. Artikel ini memang tidak akan membahas hal ini secara politis, tapi ini tentang bagaimanakah kita, sebagai orang Kristen dapat bijaksana menanggapi hal ini. 

https://unsplash.com/@emree

1. Kita patut menghormati keputusan pemerintah Turki. 

Ya, bagaimanapun, lokasi Hagia Sophia berada di dalam wilayah kedaulatan Republik Turki. Tentunya, sebagai presiden, Pak Erdogan punya pertimbangan tersendiri dan berhak mengambil keputusan. Meskipun begitu, bukan berarti kita tidak boleh tidak setuju. Tidak apa-apa kita tidak setuju, sebab manusia bisa berbeda pendapat. Namun, jangan sampai ketidaksetujuan kita itu malah menimbulkan reaksi yang berlebihan. 

2. Kita patut ingat, bahwa gereja (Ekklesia) adalah orangnya, bukan gedungnya. 

Lagu anak sekolah Minggu dalam Kidung Jemaat No. 257 juga berkata dengan jelas

Gereja bukanlah gedungnya,
Dan bukan pula menaranya.
Bukalah pintunya, lihatlah dalamnya:
Gereja adalah orangnya.

Jika Gereja adalah orangnya, perlukah kita risau akan keputusan pemerintah sebuah negara yang bahkan kita tidak menjadi warga negaranya, dan tidak pula tinggal di dalamnya? Bukankah kita meyakini pula bahwa Tuhan tidak terbatas dalam suatu rumah ibadah tertentu dan Ia lebih besar daripada sekedar sebuah Basilika atau Katedral sekalipun?

3. Kristen nggak perlu ngamuk. Cukup percayakan saja pada rencana Tuhan.

Ngapain ngamuk, kalau kita yakin bahwa Tuhan itu berdaulat? Kalau kita yakin bahwa Tuhan itu berdaulat atas segala sesuatu, berarti apapun yang terjadi tidak lepas dari kehendak-Nya. Ingat bahwa jika kita percaya bahwa Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu dalam kedaulatan kuasa-Nya, maka kejadian ini pun terjadi atas izin Tuhan. 

Bukankah mungkin ini adalah sebuah teguran bagi kita, yang mungkin terlalu mengagung-agungkan sebuah bangunan bernama gereja, basilika, ataupun katedral yang megah? Mungkin, inilah saatnya kita berefleksi, apakah selama ini kita membatasi Tuhan hanya pada sebuah gedung gereja saja. Ataukah kita sudah menghidupi isi lagu ini bahwa Gereja sebenarnya adalah orang-orangnya, yakni para pengikut Kristus itu sendiri?


Terlepas dari itu, artikel ini bukan dimaksudkan untuk mengkritisi kejadian ini. Tetapi untuk kita berefleksi, apakah kita sebegitu mengagung-agungkan sebuah gedung gereja yang megah? Iya, benar bahwa kadangkala, gedung gereja yang megah menjadi sebuah tempat bagi orang-orang dengan tipe spiritual pathway tertentu untuk nyaman beribadah, tetapi bukan untuk diberhalakan juga bukan? Jika memang tipe spiritual pathway yang kita miliki itu memang seperti itu, kita tidak kekurangan gereja yang megah yang telah berdiri di negeri ini bukan? Jadi, ngapain ikutan protes? Hehehe.

Soli Deo Gloria. 


LATEST POST

 

           Masing-masing manusia memiliki tombol pembangkit amarahnya...
by A.Z. Myra Johanna P. | 04 Mar 2021

Awal tahun 2021 Indonesia dan dunia masih bergulat dengan pandemi Covid-19 yang telah menelan banyak...
by Priska Grace | 04 Mar 2021

Jomblo ngenes. Perawan tua. Bujang lapuk. Nggak laku.Aku yakin Ignite People pernah mendengar istila...
by Febe Kartika | 04 Mar 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER