Mundur dari "Pelayanan": Memaknai Ulang Pelayanan

Going Deeper, God's Words, 29 February 2020
Pelayanan apapun yang kita jalani sekarang, kiranya juga bukan sebuah keterpaksaan hati karena berbagai situasi.

“Boleh ga sih, aku mundur dari pelayanan?” Pertanyaan itu terlontar dari seorang rekan yang datang di sore hari nan mendung. Cerita pilu dan tangis pun ikut mengiringi pertanyaan tadi. 

Pertanyaan di atas, bukan sekali ini datang buat saya. Mulai dari saya usia belasan, aktif di Komisi Remaja hingga sudah berumur sekian, cukup banyak rekan-rekan yang bercerita pengalaman yang kurang menyenangkan dalam pelayanan sehingga muncul pertanyaan “undur” atau “tidak”. Bagi beberapa orang yang pernah aktif pelayanan dan tiba-tiba mundur, pertanyaan di atas tidak mudah dijawab, karena bertambah lagi pertanyaan, “Dosa gak ya, karena kan dulu sudah menyampaikan komitmen?”

IGNITE People pernah mundur dari sebuah pelayanan? Santuy, saya tidak akan buru-buru menghardik klean sebagai pendosa, pembual janji, pengkhianat atau memberi predikat sebagai penghuni neraka jahanam. Ya, karena saya juga pernah undur diri dari pelayanan…


Numpang Cerita Dikit

Mundur dari pelayanan, saya sudah beberapa kali. Dalam pengalaman merantau dan melayani di sebuah komunitas yang besar, ada orang-orang yang menerima kehadiran saya, dan ada pula aktivis senior yang kurang menyambut saya dengan baik. Lambat laun mereka makin menampakkan sikap tidak menerima saya, sehingga saya merasa pelayanan yang saya lakukan tidak pernah dianggap benar dan diapresiasi. Mungkin bagi mereka yang religius akan merespons cerita saya dengan mengatakan, “Pelayanan kan buat Tuhan, bukan sesama.” Pada satu sisi, pernyataan tersebut benar, tetapi ada sebagian orang, termasuk saya, yang merasa sukacita ketika pelayanan saya disyukuri oleh orang lain, terlebih jika mendapatkan apresiasi.

Ada pula momen lainnya, di mana tanpa seizin dan sepengetahuan saya, nama saya dimasukkan menjadi pengurus dari suatu komunitas. Kaget awalnya, tapi saya merasa mungkin Tuhan ingin saya membantu komunitas ini maka saya pun melakukan tugas pelayanan tersebut. Setelah hampir setahun, karena saya harus pergi ke kota lain untuk praktik selama 3 bulan, saya izin tidak bisa hadir dalam beberapa pertemuan. Tak disangka, tanpa sepengetahuan saya dan tanpa penjelasan  juga, saya juga diberhentikan dan diusir (di-kick) dari Whatsapp group komunitas tersebut. Mungkin bagi beberapa orang, hal tersebut lumrah karena saya tidak aktif dalam kurun waktu yang relatif panjang, tetapi bagi saya hal tersebut nampak tidak etis, menunjukkan komunikasi yang buruk.

Dalam pengalaman terbaru, bersama dengan rekan-rekan, kami membangun-ulang sebuah komunitas. Menyenangkan sekali bagi saya, waktu itu, saya rela berkorban banyak waktu, tenaga, uang dan pikiran demi komunitas ini. Namun, saya pun juga mundur, karena saya merasa ada value yang saya rasa tidak tepat lagi. Agak aneh tentunya bagi beberapa orang di sekitar, yang tahu saya membangun komunitas ini dan saya yang juga mundur.


Doktrin Harus Melayani: Ancaman, Jebakan, atau Pilihan?

Hidup ini adalah kesempatan….

Hidup ini untuk melayani Tuhan….

Jangan sia-siakan, waktu yang Tuhan b’ri,

Hidup ini harus jadi berkat.

Ga asing dong, sama lagu yang nge-trend tiga tahun belakangan ini. Bagi beberapa teolog maupun Pendeta, lagu ini menjadi koentji yang disenandungkan dalam mengakhiri khotbah yang dilanjutkan panggilan melayani. Terkadang panggilan melayani ini seperti sebuah ancaman, setiap orang harus dan wajib ambil satu bagian pelayanan dari gereja atau komunitas #10 (baca: kresten).

Doktrin untuk harus melayani di gereja pun kadang disampaikan dengan baik dalam Kebaktian Kebangunan Rohani. Pada sesi altar call dengan lagu cenderung mellow, pembawaan worship leader atau sang pelayan Firman yang terlatih serta aransemen yang epik, anak-anak muda pun merespons dengan berdiri, maju, atau mengacungkan tangan dalam panggilan melayani. Setelah acara, panitia pun melakukan follow-up. Ada yang tertarik melayani dengan sungguh, ada yang melayani karena rasa sungkan, dan ada pula yang ikut melayani di beberapa pertemuan lalu menghilang, dengan atau tanpa kabar.

Melihat orang #10 yang "nganggur" di gereja, hanya sebagai jemaat saja, bisa jadi keresahan bagi beberapa orang. Bila mengetahui teman beragama #10 di kampus, kantor atau tempat lainnya, yang ternyata tidak aktif di gereja mereka, seolah menjadi kesempatan untuk melakukan "transfer pemain" bak pemain bola, agar menjadi aktif di gereja yang baru. Mungkin ada kepuasan tertentu bagi beberapa orang ketika mendapatkan downline aktivis di komunitas ataupun gereja mereka.


Pelayanan, Apa Itu?

Pelayanan, melayani kerap dikristalisasikan dalam konteks gereja atau komunitas #10. Jika kita lihat asal katanya, “layan”, KBBI mendefinisikan sebagai membantu menyiapkan (mengurus) apa-apa yang diperlukan seseorang; meladeni. Dalam bahasa Inggris, ada yang menggunakan kata “stewardship” atau “hospitality”, yang secara keilmuan seharusnya dipahami oleh Ignite People yang menimba ilmu di bidang jasa, terlebih perhotelan.

Konsep pelayanan, melayani, penatalayanan di Alkitab pertama kali bukan dilakukan oleh para Lewi, Imam, maupun pengurus ritual peribadatan. Sebelum terbentuk bangsa Israel di tanah Mesir, para hamba dan budaklah yang menghidupi konsep pelayanan, yang ditujukan pada tuannya. Alkitab menceritakan konsep pelayan dengan konkret pada diri Yusuf, anak Yakub.

Setelah dibuang oleh saudara-saudaranya, Yusuf pun menjadi hamba, dengan tiga kali berganti tuan, Potifar, kepala penjara, hingga Firaun, sang penguasa Mesir. Kitab Kejadian pun menuliskan testimoni positif dari setiap pelayanan yang dilakukan Yusuf pada tuannya: Potifar memberi kepercayaan Yusuf untuk mengurus segala miliknya pada kekuasaan Yusuf (Kej. 39:6); Kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara pada Yusuf untuk diurus (Kej. 39:22); dan Firaun menjadikan Yusuf sebagai penguasa atas seluruh tanah Mesir (Kej. 41:45).

Lalu apa yang menjadi resep dari segala keberhasilan Yusuf? Dalam pasal 41, Firaun menduga bahwa Yusuf dapat mengartikan mimpi yang menggelisahkannya. Dan Yusuf pun menyampaikan:

Yusuf menyahut Firaun: "Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun." (Kej. 41:16)

Segala yang dilakukan oleh Yusuf, selalu difokuskan pada Allah. Apa yang telah dilakukannya, dikembalikan pada kemuliaan Allah. Dan segala yang akan dikerjakannya, juga ia sanggupi dengan penyertaan Allah.


“Boleh ga sih, aku mundur dari pelayanan?”

Melihat kisah hidup Yusuf, melayani Allah seharusnya kita wujudkan dalam hidup secara keseluruhan, tidak dibatasi hanya dalam gereja maupun komunitas #10. Berhenti atau tidak turut andil dalam pelayanan di gereja atau komunitas #10, bukan berarti berhenti atau tidak melayani Tuhan dalam kehidupan.

Pelayanan apapun yang kita jalani sekarang, kiranya juga bukan sebuah keterpaksaan hati karena berbagai situasi. Paulus pun berpesan pada jemaat di Korintus:

Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. (2 Kor. 9:12)

Anyway, saya pun menjawab pertanyaan rekan saya di atas, “Silakan jika ingin mundur dari pelayanan komunitas ini. Tetap layani Tuhan dalam hidup sehari-hari, dan biarkan nama Tuhan dimuliakan dari orang-orang yang kamu layani di hidupmu.”

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER