Jangan Ragu, Percaya Saja!

Going Deeper, God's Words, 04 August 2020
Jadikan aku murid-Mu yang setia pada-Mu Dan ulurkanlah tangan-Mu agar ‘ku pegang teguh (Buku Nyanyian HKBP No. 227:3)

Kita pasti pernah mendengar atau membaca kisah Yesus berjalan di atas air. Kisah itu menceritakan kisah Petrus yang tenggelam akibat kebimbangannya sendiri. Awalnya, Petrus diceritakan mampu, namun entah setelah beberapa langkah, ketika ia merasakan angin mulai berhembus, sontak ia ketakutan dan nyaris tenggelam, sampai Yesus pun mempertanyakan iman Petrus. 

Kehidupan orang percaya hampir-hampir mirip dengan kisah yang satu ini dan seringkali terjadi pada diri kita, baik kita menyadarinya atau tidak. Ada di antara kita yang sudah pasti mengaku sebagai seorang Kristen, lahir dari keluarga Kristen, dibaptiskan di gereja, diajarkan kebenaran Firman sedari kecil, sudah menerima peneguhan sidi, bahkan menikah sampai dimakamkan secara Kristen. Namun tanda-tanda lahiriah yang nampak itu tidak dapat menjadi jaminan apakah imannya kuat atau mudah diombang-ambingkan. 

Jika kita melihat sosok Petrus yang merupakan rasul Yesus (yang di kemudian hari menjadi pemimpin para murid Yesus), tentu di dalam benak kita akan muncul pemikiran yang mempercayai ia merupakan orang yang beriman, karena di sepanjang pelayanan Yesus di dunia, namanya sering disebut mendampingi Yesus. Namun dalam kutipan kisah tadi, kita melihat, bahwa seorang rasul pun dapat jatuh ke dalam kebimbangan dunia.


Kita sudah percaya Tuhan dan mungkin juga memberikan label pada diri kita sebagai Kristen karena kepercayaan itu. Namun  ketika angin kekalutan dunia mulai bertiup dan berhembus, terkadang muncul kebimbangan dan keraguan dalam diri kita, serta mungkin kita bertanya, "Apakah Ia besertaku?" "Apakah Ia mendengarkan aku, atau justru sebaliknya?" 

Berbagai keraguan yang menyeruak merusak fondasi iman kita yang mungkin sedang rentan. Padahal berbagai masalah kehidupan kita akhir-akhir ini agaknya semakin mengerikan dan tidak pasti menjelang Hari KedatanganNya.

Iman sesungguhnya yang Tuhan inginkan adalah iman yang percaya penuh dan berserah (Amsal 3:5-6; Mazmur 62:6; Ratapan 3:25; Mazmur 37:5; 1 Petrus 5:7; Filipi 4:6-7). Tuhan ingin kita percaya saja, hanya padaNya (Lukas 8:50) dan bukan justru percaya pada manusia (Yesaya 2:22). 

Mari bersama-sama, kita belajar terus percaya, terlebih dalam keadaan yang sulit dan menekan.. Ia akan selalu menyertai kita (Ulangan 31:6; Yesaya 41:10; Mazmur 5:12-13; Mazmur 46:2; Mazmur 23) karena Allah itu setia dan kasih setianya adalah untuk selama-lamanya (Mazmur 86:15; Mazmur 103:17; Mazmur 118:29) .

Ia tidak tinggal diam, Ia turut bekerja dalam kehidupan kita. Marilah kita mengundang DIA masuk dan jangan pernah ragu, atau bahkan menolaknya! Ia takkan meninggalkanmu sebab Ia adalah IMMANUEL! Dan kita pun harus ingat, "Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia." (Amsal 10:28 TB)

LATEST POST

 

            Pastinya sebagian dari kita sering mendengar atau mel...
by Eva Chrisviana | 30 Nov 2020

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER