Kepada Kasih Setia-Mu Aku Percaya

Going Deeper, God's Words, 11 July 2020
Di dalam semua situasi yang menakutkan, ingat selalu kasih setia Tuhan yang takkan meninggalkan.


            Setiap orang pernah berada di dalam masa-masa yang sulit, entah soal perekonomian, pendidikan, kehidupan keluarga, kesehatan, dan lain-lain. Berada dalam saat-saat yang sulit merupakan hal yang tidak menyenangkan. Khawatir dan ketakutan adalah dua contoh perasaan yang timbul di saat seseorang berada dalam situasi yang sulit. Dua perasaan inilah yang juga dirasakan oleh pemazmur di dalam Mazmur 13. Namun, menariknya pemazmur di tengah situasi yang sulit itu mengingat satu hal, yaitu kasih setia Tuhan. Kasih setia Tuhan yang kepadanya pemazmur percaya inilah yang menjadi penghiburannya di tengah situasi sulit yang dihadapinya. 

Pemazmur di dalam Mazmur 13 menyatakan keluhannya, yaitu: 

            1. Tuhan melupakan pemazmur terus-menerus (ay.2a)

            2. Tuhan menyembunyikan wajah–Nya dari Pemazmur (ay.2b)

            3. Musuhnya meninggikan diri atas pemazmur (ay.3b)

            Dalam bagian ini, ada dua masalah yang dialami oleh pemazmur. Masalah yang pertama adalah bahwa Tuhan sepertinya melupakan pemazmur dan menyembunyikan wajah-Nya terhadap pemazmur. Pemazmur menyatakan hal ini karena dia sedang ada dalam masalah yang entah sudah berapa lama. Masalahnya belum kunjung selesai dan hal ini membuatnya mempertanyakan kepada Tuhan tentang berapa lama lagi? Dia merasa bahwa adanya masalah yang tak kunjung selesai ini sebagai wujud bahwa Tuhan melupakannya. Bahkan tidak hanya melupakan pemazmur. Hal yang lebih parah adalah bahwa Tuhan sepertinya menyembunyikan wajah-Nya terhadap pemazmur. Ungkapan ini menyatakan ketidakhadiran Tuhan dalam kehidupan pemazmur. Artinya pemazmur tidak merasakan kehadiran Tuhan di dalam hidupnya. Masalah yang kedua adalah bahwa musuhnya meninggikan diri atas pemazmur. Di tengah situasi seperti ini, wajarlah jika pemazmur merasakan dua hal yaitu kekhawatiran dan kesedihan.

            Di tengah masalah yang dihadapinya, muncul kekhawatiran di dalam diri Pemazmur. Dia khawatir soal kapan semua ini akan berakhir? Kapan Tuhan melakukan sesuatu? Dia khawatir kalau-kalau Tuhan tetap melupakan dia dan menyembunyikan wajah-Nya, dia khawatir jangan sampai musuhnya menang atas dia dan lawan-lawannya bersorak lantaran dia goyah. Tidak hanya khawatir, pemazmur juga merasakan kesedihan. Ini sebuah perasaan yang wajar ketika kita dalam masalah. Pemazmur sedih karena masalah yang dialaminya. Tuhan yang sepertinya melupakan dan tidak hadir, serta musuh yang terus menyombongkan diri. Pemazmur berharap semuanya berlalu dan dia bertanya Tuhan, berapa lama lagi? 

            Namun, di tengah-tengah masalah hidupnya, pemazmur menyampaikan harapannya, dia berharap Tuhan memandang dan menjawab doanya. Dia meminta Tuhan membuat matanya bercahaya (memberikan sukacita, kehidupan, melepaskan dia dari masalah) sehingga dia jangan terus menderita, khawatir, dan bersedih hingga tertidur dan mati (ay.4). 

            Setelah menyampaikan apa yang menjadi harapannya, pemazmur menyampaikan sebuah ungkapan yang menyatakan pengenalan-Nya akan Tuhan, yaitu Tuhan yang memiliki kasih setia (ay.6). Di tengah-tengah masalah hidupnya yang membuat pemazmur khawatir dan bersedih, sekalipun di bagian sebelumnya dia menyatakan bahwa Tuhan melupakan dan meninggalkannya, namun pemazmur masih mengingat satu hal.

Dia mengingat Tuhan yang dia percayai, dia mengingat kasih setia Tuhan yang kepadanya pemazmur percayai (ay.6) Ini sebuah ungkapan imannya di tengah masalah hidupnya.

            Kasih setia Tuhan adalah sumber sukacitanya, dia tahu bahwa Tuhan mengasihinya dan tak meninggalkannya. Kasih setia Tuhan bicara tentang relasi Tuhan dengan umat-Nya, bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah pergi dari kehidupan umat-Nya. Dan karena itu dia meyakini penyelamatan Tuhan yang membuatnya bersorak, dan dia mau menyanyikan nyanyian syukur karena Tuhan telah berbuat baik kepada-Nya. Ingatan akan kasih setia Tuhan menghantar pada keyakinan iman melewati segala sesuatu. Ingatan akan kasih setia Tuhan juga mendorong setiap orang percaya untuk mengucap syukur. Kasih setia Tuhan adalah jaminan bagi pemazmur untuk melewati semua rintangan hidupnya. 

            Di tengah kekhawatiran dan kesedihan kita, jangan lupa bahwa kita punya Tuhan yang penuh kasih setia, Tuhan yang tidak akan meninggalkan kita. Dengan demikian, kendati saat ini kita masih mengalami masalah, jangan sampai itu membuat kita lupa tentang kasih setia Tuhan yang pasti akan menolong kita. 


LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER