À la Carte

Best Regards, Live Through This, 22 April 2021
"Kita selalu punya pilihan untuk apa yang kita pikirkan dan rasakan, serta menolak stigma yang dilabelkan kepada kita."

Kalau kita sedang makan di sebuah café atau restoran, biasanya ada pilihan menu paket, menu yang di dalamnya beberapa makanan dan minuman sudah dijadikan satu dan diberi harga lebih murah karena dibeli secara bersamaan. Biasanya pilihan ini jadi favorit anak muda, lebih populer lagi bagi mahasiswa atau anak kos, karena tidak perlu pusing pilih menu, dan harganya sangat bersahabat, apalagi kalau belum gajian atau belum dapet transferan dari ortu. Nah, selain itu, ada juga pilihan menu yang makanan dan minumannya kita pilih satu per satu, atau istilah kerennya à la carte. Dalam Bahasa Prancis, à la carte berarti “sesuai pada menu”, yang artinya kita bebas memilih apapun yang tertera pada menu. Oh, iya, pilihan à la carte biasanya juga cenderung lebih mahal daripada menu paket, karena bisa kita pilih sesuai selera kita.


Saya jadi berpikir, karakter kita juga ada yang seperti “menu paket”, tapi ada juga yang “à la carte”.


Paket karakter tuh yang gimana, ya?

Paket karakter tuh, seperti stigma masyarakat, yang pada umumnya orang berpikir bahwa tipe A ya berarti karakternya pasti seperti ini, kalau tipe B pasti karakternya itu.  Misalnya, kalau orang bertato pasti ngga bener atau berandalan. Kalau juara kelas pasti pintar dan hidupnya baik-baik; kalau yang ngga punya pacar itu pasti orangnya tertutup dan pemilih. Kalau orang yang kocak pasti hidupnya menyenangkan; orang yang kaya pasti pemalas dan mewarisi kekayaan dari orang  tua. Pemusik itu harus seniman dan wajar kalau penampilannya berantakan, Penatua harus orang yang sukses dalam pekerjaan dan karier, pelawat itu harus ibu-ibu yang ngga terlalu sibuk dan banyak waktu, pengurus pemuda itu pasti orang yang ngga punya pergaulan di luar gereja, malas belajar jadi senengnya nongkrong dan rapat di gereja.



Photo by Elle Cosgrave on Unsplash  



Kira-kira seperti itulah paket karakter yang ada di kepala sebagian orang, atau jangan-jangan kita juga punya stigma seperti itu. Padahal di balik semuanya, kenyataan seringkali berkata lain: ada yang sangat berhasil dalam pendidikan namun ditekan oleh keluarga di rumah untuk menjadi yang terbaik di bidang itu; jombloers yang juga bergumul di tengah-tengah teman-teman mereka yang sudah berpacaran (bahkan sudah menikah dan memiliki anak) karena memang menunggu pasangan yang tepat; teman yang jenaka namun depresi; orang kaya yang membangun kekayaan dengan jerih lelah dan kerja keras; penatua dengan latar belakang karier dan keluarga yang sederhana; ada yang memiliki jadwal yang sangat padat, namun masih terpanggil untuk melawat; dan ada yang pengurus pemuda yang mampu menyeimbangkan waktu untuk pelayanan, studi, karier dan pergaulannya.


Jika ditanya, (hampir) semua di antara kita pasti tidak akan memilih untuk memiliki karakter yang buruk, tapi terkadang kita terkaburkan oleh “paket” yang dianggap lumrah oleh pandangan umum. Misalnya, pandangan jika sedang mengejar karier atau baru menikah, maka tidak ada waktu untuk pelayanan. Berat badan yang kurang ideal cenderung membuat seseorang malas untuk berolahraga. Jika mau sukses dalam pekerjaan atau usaha, harus sikut kiri kanan dan harus main uang.  Nah, apakah kita mau terpaku dengan “paket” seperti ini, atau kita mau memilih à la carte, menu yang sesuai selera kita?


Saya mau sedikit mengomentari tulisan Kak Olivia berjudul Sticks and Stone bulan Maret 2021 yang lalu. Di artikel tersebut, ada bagian yang menyinggung mengenai body shaming yang secara sadar atau tidak sadar sering kita lakukan kepada teman kita. “Kok lu gendutan,” itu damagenya sama kayak disambar barbel 10kg di kepala. Secara pribadi, saya sangat setuju dengan Kak Olivia bahwa ngga usah deh ngurusin berat badan orang. Namun dari sisi pemilik tubuh, apakah kita juga mau menerima “paket” bahwa "kalo saya gemuk, saya harus menerima bahwa diri saya tidak cantik atau ganteng, tidak populer, memiliki kasta yang lebih rendah dari teman-teman penghuni gym, dan harus merasa murung dan sedih"? Sama sekali tidak, sih. Saya memilih à la carte apapun kondisi tubuh saya: saya itu pede, teman yang menyenangkan, aktif, dan merasa cukup dengan diri sendiri. Ini bukan legitimasi karena saat ini saya juga termasuk ke golongan orang kelebihan berat badan, ya. Saya paham, sadar, dan tidak perlu diingatkan bahwa gemuk itu sumber penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes. Makanya saya mencoba hidup lebih sehat, lebih memilih makanan yang lebih sehat, dan mencoba olahraga rutin, walaupun timbangan belum mau kasih saya angka lebih kecil (barangkali karena cinta saya pada bakmi, cake dan nasi padang masih lebih besar daripada oatmeal, buah dan olahraga kardio). Sekali lagi, ini bukan pembenaran, namun kita selalu punya pilihan untuk apa yang kita pikirkan dan rasakan, serta menolak stigma yang dilabelkan kepada kita.



Photo by Olha Mishchenko on Unsplash  



Kalau kita mau karier dan usaha kita menanjak, apakah kita wajib mencari muka, menjilat atasan, atau menjatuhkan rekan dan menyuap? Secara teori, kita tahu jawabannya pasti tidak. Saya selalu percaya bahwa Tuhanlah sumber berkat dan rejeki bagi kita. Memang benar Tuhan bisa menggunakan tempat kerja dan usaha kita sebagai "saluran" bagi berkat-Nya yang melimpah, tapi saluran bukanlah sumbernya. Jadi, yang dikejar jangan salurannya, tapi Sumbernya. Salurannya bisa berbeda, bisa berganti, tapi Sang Sumber itu tetap sama. Jika kita memang pantas dan sudah dianggap siap untuk “naik level”, maka Tuhan akan menyediakan jalan bagi kita. Jika kesempatan sepertinya berpihak pada orang lain yang kita pandang kurang pantas, mungkin ada posisi lain yang Tuhan siapkan untuk kita, atau Tuhan ingin kita belajar lebih banyak dulu sebelum memegang jabatan tersebut (atau bahkan di posisi yang lain, yang di luar bayangan kita). Di dunia yang serba cepat, terkadang “proses” adalah fase yang sangat menjengkelkan dan membosankan. Walaupun demikian, mari kita mencoba menikmatinya, sambil menajamkan pendengaran dan pengetahuan kita, karena mungkin ada yang mau Tuhan sampaikan dalam masa-masa pembentukan karakter dan kemampuan kita ini. Ingat saja kisah bangsa Israel perlu waktu 40 tahun dan jalan yang berputar-putar di padang gurun untuk belajar kata taat dan rendah hati. Bukankah Tuhan sendiri berkata bahwa mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk walaupun status mereka adalah sebagai bangsa yang Dia kuduskan, bahkan salah satu peristiwa yang Dia gunakan untuk memurnikan mereka adalah melalui pembuangan?


À la carte adalah memilih dan menghidupi karakter yang ada di menu, sedangkan menu panduan kita adalah Firman Tuhan. Artinya, poin apa yang mau kita pilih berasal dari Firman Tuhan, karakter apa yang kita inginkan kita miliki jugalah sesuai dengan Firman Tuhan. Mengacu pada Galatia 5:22-23, apakah buah Roh yang ada di sana menjadi pilihan kita? Apakah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, dan penguasaan diri menjadi lifestyle pilihan kita? Mari memilih menu à la carte dari Firman Tuhan, karena keputusan itu ada di tangan kita, dan à la carte itu lebih mahal coy, lebih bernilai!

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER