Howl's Moving Castle: Sebuah refleksi dari sudut pandang Christian Worldview

Going Deeper, God's Words, 14 June 2020
Menarik bahwa kita melihat bagian ini bagaimana Sophie memperlakukan orang yang menyengsarakan dirinya. Inilah kasih karunia! Tidak peduli bagaimana orang tersebut sebenarnya pantas untuk dibalas perbuatannya, Sophie malah berbuat baik dan merawat orang tersebut. Sungguh berat mengasihi orang yang tidak layak dikasihi, namun Kristus berkata lain. Kristus sendiri yang mencontohkannya di atas kayu salib.

Baru-baru ini saya menonton sebuah anime garapan Studio Ghibli yang berjudul "Howl's Moving Castle". Film ini adalah garapan sutradara Hayao Miyazaki yang sebelumnya sukses menggarap film berjudul "Spirited Away" pada 2001. Film ini berdurasi agak panjang, namun jalan ceritanya begitu menarik untuk diikuti sehingga bisa dinikmati dalam sekali tonton.

Sejujurnya, semenjak masuk kuliah, saya sudah jarang, atau bahkan tidak pernah menonton anime karena jalan cerita yang agak rumit maupun karakter yang alay. Namun, saya mendapati hal yang berbeda dari film-film garapan studio Ghibli. Menariknya, film-film seperti ini justru lebih memberikan sebuah pelajaran mendalam bagi kehidupan kita yang sedang kita jalani. Saya memulai menonton ini dari film yang agak baru, berjudul "From Up on a Poppy Hill" keluaran 2011, kemudian dilanjut Kiki's Delivery Service (1989), sebelum dilanjut oleh Howl's Moving Castle.

Film ini digarap tahun 2004, 16 tahun sebelum artikel ini dituliskan. Namun, film ini masih sangat baik dan bagus untuk dinikmati. Film ini bekerjasama dengan Disney yang men-dubbing film ini ke dalam bahasa Inggris. Meskipun film ini digarap oleh seorang non Kristiani, namun jalan ceritanya sangat kental dengan nilai-nilai dan sudut pandang Kristiani. Kalian bisa menonton trailernya di bawah ini.

1. Creation: Bagaimana segala sesuatu awalnya dijadikan?

Dalam film ini dikisahkan sebuah dunia yang makmur dan sejahtera, serta kedamaian meliputi negeri itu. Seorang gadis cantik berusia 18 tahun bernama Sophie tinggal di negeri tersebut bersama adik dan ibunya. Negeri tersebut adalah negeri yang kuat: pasukan bersenjata modern pada masanya, raja yang arif, dan masyarakat yang sejahtera.

Sampai di sini kita mengetahui satu hal: pada awalnya dunia dijadikan sungguh amat baik. Ini terlihat dari penggambaran sebuah negeri tempat tinggal Sophie yang awalnya damai dan sejahtera. Bahkan, kita sendiri sudah sering mendengar bahwa Allah menjadikan dunia ini begitu sempurna, sungguh amat baik. Di film ini kita bisa melihat dari gambaran kesejahteraan negeri tersebut. Sama halnya ketika manusia awalnya diciptakan, diletakkan di Taman Eden dan diberi wewenang mengelola taman. But, the story doesn't end here! 

Kisah di film ini berlanjut dengan pertemuan Sophie dengan seorang pria tampan yang mengubah segalanya. Segala sesuatu menjadi tidak sama lagi setelah itu. Suatu malam, ada seorang wanita aneh yang diketahui berjuluk The Witch of the Waste, mengunjungi Sophie di tokonya. Ia menghina semua topi buatan Sophie sebelum mengutuk Sophie menjadi seorang tua berusia 90 tahun. Inilah sesuatu yang tidak pernah Sophie bayangkan sebelumnya. Namun, dengan tabah, ia jalani kehidupannya, pergi dari kota dan akhirnya tinggal di sebuah rumah berjalan yang ternyata milik Howl; dan membawa kita kepada bagian kedua.

2. Fall: Ketika semua tidak berjalan sesuai desain awalnya.

Sebuah awal yang baik, ternyata berakhir dengan tidak baik karena satu hal. Kita belum mengetahui mengapa Sophie dikutuk menjadi seorang nenek berusia 90 tahun, namun setelah Sophie dikutuk, sesuatu yang besar terjadi pada negeri tersebut. Bukan hanya Sophie yang dikutuk, namun ternyata seorang pangeran dari negara tetangga ternyata menghilang dan ini berakibat buruk.

Raja dari masing-masing negara mendeklarasikan perang! Semua tentara dikerahkan dengan persenjataan modern mereka. Semua warga negara diminta mengabdi dalam bentuk apapun, termasuk sorcerer yang dimiliki oleh negara. Sementara itu di tempat lain, Sophie telah pergi dari kota dan mencari tempat tinggal baru. Di sini, Sophie bertemu dengan banyak hal tak terduga: Orang-orangan sawah yang bergerak, kastil bergerak, sang penyihir tampan dan Markl, muridnya.

Pada bagian ini kita lebih difokuskan pada kehidupan Sophie, bagaimana ia bersama Markl berusaha menjalani hidup sekaligus merawat Howl. Menarik sekali bahwa di dalam kondisi seperti ini Sophie berusaha membiasakan diri dengan kondisinya yang sekarang ini. Dimulai dari mencari tempat tinggal baru karena tidak ingin membuat orang-orang disekitarnya kaget, membantu Howl dalam mengelola rumahnya, hingga berusaha melakukan yang terbaik.

Grandma Sophie, demikian ia memanggil dirinya sendiri, berusaha menolong Howl dalam menghadapi kesulitan hidupnya ditengah keterbatasan fisiknya. Bahkan, ia menggantikan Howl bertemu dengan Madam Suliman sebagai ibunya, dimana akhirnya ia bertemu dengan orang yang menyengsarakan hidupnya.

Menariknya, hal tentang kejatuhan ini begitu lekat lagi dengan kehidupan kita yang sedari awal telah jatuh. Semenjak kejatuhan Adam dan Hawa, tidak ada yang sama lagi. Mereka tidak bisa hidup enak di Taman Eden, dan bahkan harus menderita. Jika kita melihat kondisi dunia ini, dengan segala hal tidak idealnya, itulah akibat kejatuhan. Kita tidak menyangkalinya. Begitu pula di film tersebut, Sophie tidak menyangkali apa yang terjadi pada dirinya, tetapi ia memiliki respon yang berbeda

3. Redemption: Kasih karunia yang menyelamatkan.

Sophie yang melihat bahwa penyihir yang membuatnya menjadi wanita tua kini pun juga tak berdaya. Normalnya, kita akan menelantarkan orang tersebut alih-alih menolongnya. Namun, Sophie tetap merawat penyihir tua tersebut. Tak sedikit pun ia mengungkit masa lalu ketika ia merawat penyihir tersebut. Bahkan ketika melihat penyihir tersebut terbakar oleh Calcifer, Sophie tanpa ragu menyiramkan air supaya penyihir tersebut tak mati terbakar.

Menarik bahwa kita melihat bagian ini bagaimana Sophie memperlakukan orang yang menyengsarakan dirinya. Inilah kasih karunia! Tidak peduli bagaimana orang tersebut sebenarnya pantas untuk dibalas perbuatannya, Sophie malah berbuat baik dan merawat orang tersebut. Sungguh berat mengasihi orang yang tidak layak dikasihi, namun Kristus berkata lain. Kristus sendiri yang mencontohkannya di atas kayu salib.

Di bagian ini pula dikisahkan Sophie yang perlahan kembali ke wujud aslinya, yakni gadis remaja berusia 18 tahun, meski warna rambutnya tak berubah.

4. Consummation: Akhir yang bahagia untuk semua (Spolier Alert!)

Kisah dari film ini diakhiri dengan keberhasilan Sophie mematahkan kutukan dari semua tokoh. Semua telah "ditebus" dalam film ini. Howl yang sekarat karena menahan serangan-serangan Suliman dipulihkan kembali. Justin, sang pangeran yang terkena kutukan akhirnya kembali ke wujud manusianya dan menghentikan perang. Penyihir tersebut tetap hidup dan Calcifer dibebaskan juga dari kutukannya yang mengikat dirinya dengan Howl. Perang berakhir. Damai kembali berada di dunia.

Inilah gambaran pasca-penebusan di mana semua berakhir dengan Happy Ending. Sebuah dambaan semua manusia yang hidup di dunia ini. Inilah desire dari kita semua. Menariknya, semua itu ternyata bisa didapatkan dalam Kristus. Sungguh amazing! Film ini merefleksikan bagaimana akhir bahagia itu adalah dambaan semua manusia, dan itu bisa kita temukan dalam Kristus Yesus. 

Film ini saya beri rating 10/10, dan saya merekomendasikannya untuk saudara dapat menontonnya bersama teman-teman untuk akhirnya bisa didiskusikan. Soli Deo Gloria.

LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER