Aliyan

Best Regards, Fiction, 24 June 2020
Itulah mengapa aku berbeda tanpa harus menjadi berbeda, karena sesama liyan bakal jadi teman.

“Ngapain sih kita kumpul-kumpul?”


Begitu biasanya jika aku sudah ketus menghadapi ketidaknyamanan. Di hadapan perempuan berambut gimbal itu, aku memang sering mengeluh. Satu-satunya yang berkembang selama beberapa tahun terakhir adalah aku tak lagi mengeluhkan keadaan diriku, melainkan keadaan orang lain di sekitarku. Bohong. Aku mengeluhkan diriku yang mengembang terkena ragi pergaulan. Aku mengeluhkan diriku di dalam diri orang-orang ini, orang-orang tak jelas ini.


“Kenapa sih kita kemarin rame-rame ngomongin soal solit lah, likuit lah? Emang kenapa sih?”


Dia tahu, ketika mengomel, nyinyir melintir begini, aku sedang kesurupan diri sendiri. Oleh karena itulah, dia diam saja sambil meneruskan sketsanya.


“Likuit, solit, itu kan cuma fase. Kalo kedinginan ya jadi solit. Kalo kepanasan yang jadi likuit. Kalo sampe kepanasan banget, ya jadi fapor, nguap… Ya kan?”


Dia melempar matanya dengan sekali ayunan kepala, tepat ke arah mataku. Ya, sepertinya dia mulai tertarik, antara ingin aku bocor lebih banyak atau ditambal segera. 


“So what gitu loh? Emang kenapa kalo solit? Kenapa juga kalo likuit? Kita kan lagi kepanasan, situasi dunia lagi susah gila-gilaan. Yang masuk akal ya kita jadi lumer, meleleh, jadi likuit. Masa mau nahan-nahan tetep solit? Emangnya kayak Kakak, titik didihnya ketinggalan di rumah?”


Memang, perempuan berambut gimbal ini lebih sering diam, lalu melihat langit, atau jika di ruang tertutup, langit-langit cukup buatnya. Itu yang dilakukannya setiap kali ada suasana yang bikin naik darah. Dia naikkan saja darahnya ke kepalanya, tapi lalu—seperti tadi yang dilakukannya kepadaku—dia melemparkan yang bikin panas itu ke langit—atau langit-langit.


“Iya kalo jadi likuit itu kita bisa ngalir ke tempat yang lebih rendah, kalo enggak? Gimana kalo kita cuma tergenang di situ, atas nama kohesi tingkat tinggi?”


Dia berdiri, meninggalkan pensilnya di atas kertas, juga aku dan meja-kursi. Dia pergi saja menjauh, sementara aku dengan cepat mengintip, apa yang dari tadi dia buat di kertas itu. Tidak banyak, seperti biasanya: guratan-guratan pensil. Aku harus berharap apa? Coretan-coretan bolpen? Sapuan-sapuan kuas? Cukilan-cukilan pisau? Oh, pasti dia sedang mengambil pensil warnanya, yang bisa berubah menjadi cat air itu! 


Bukan. Dia kembali membawa air dalam gelas, satu untukku.


“Bekas Kakak?”


Raut wajahnya mengesalkan kalau sedang begini. Aku belum pernah berhasil memahami, apa maksud segelas air yang diberikannya setiap kali aku mengeluh. Apakah itu artinya turun-minum, aku bisa melanjutkan keluhanku, atau minum-saja, aku berhenti bersama dengan tandasnya air di dasar gelas?


“Kak, aku baca-baca dikit. Soal partikel dan gelombang. Nggak paham. Tapi bayangin deh, kalo kita ini partikel! Kita ini jelas tempatnya, jelas di antara komunitas-komunitas lain. Kita juga jelas punya nilai pegangan yang beda. Tapi gini juga. Kita bisa juga gelombang, jelas getarnya di antara getaran-getaran lain, di antara nada dan warna lain. Kita bisa bener-bener dirasain sama yang lain.”


Tangannya, yang tadi kembali sibuk di atas kertas, berhenti. Pensil masih dijepit ibu jari dan telunjuknya. Aku tahu, dia mau mendengarku atau—seperti biasa—dia sedang memindahkan pikirannya dari kertasnya.


“Persoalannya, Kak, kita mau jadi partikel macam apa? Gelombang macam apa? Kakak kan nggak pernah bilang, kita mau jadi komunitas kayak apa. Kita kan cuma kumpul-kumpul, bikin apa, masak apa, makan bareng. Yang gitaran boleh, yang nyanyinya fales juga boleh. Paling kita ketawain aja.”


Dia berdiri, menyalakan lampu. Aku baru sadar, gelap sudah mulai turun, seperti detak jantung dan deru napasku.


“Yang kutahu sih kayak lampu itu, Kak. Kita kayak lampu itu, gak harus nyala, tapi harus nyala kalo ada yang butuh baca. Kita kayak lampu itu, kayaknya kesepian, gak ada yang mikirin, tapi tetep di atas situ, siap-siap aja pas ada yang mau nyalain. Kakak nggak pernah bilang, kita harus jadi lampu kayak apa, warnanya apa, digantung gitu atau ditaruh di meja.”


Aku berharap, sesekali rambutnya bisa bergoyang ditiup angin petang, lebih lagi ketika keluhanku berubah menjadi puisi. Tapi, dia gimbal dan aku benci orang-orang yang bersembunyi di balik permainan kata-kata.



“Yang penting kita lampu. Ya kan, Kak? Nggak penting panjang gelombangnya berapa, warnanya apa. Nggak penting setinggi apa, di lintang berapa, bujur berapa. Yang penting kita lampu. Ya kan, Kak?”


Aku rindu sekali. Dia sudah pergi, entah berubah menjadi partikel apa, gelombang apa, tapi aku masih bisa merasakannya. Aku menemukan dan merasakannya, entah dengan lampu menyala atau padam, entah di sini atau di jalanan.


Kurasa dia bukan lagi sekadar cahaya di atas gunung, yang harus dikenali dan dipikirkan. Dia adalah jawaban berupa pertanyaan. Dia selalu menjadi “Apa sih aku buat kamu?” bagiku. 


Itulah mengapa aku terus membuat sketsa, tetap masak dan makan, tetap main gitar dan kesal karena suaraku sendiri. Itulah mengapa aku berbeda tanpa harus menjadi berbeda, karena sesama liyan bakal jadi teman.


(Ilustrasi oleh Ronald Jaya)

LATEST POST

 

Ada satu ungkapan yang pernah saya baca dan agak cukup nyeleneh  sekaligus menyedihkan. Ungkapa...
by Ryan Richard Rihi | 02 Jul 2020

“Biarkanlah kurasakan Hangatnya sentuhan kasihmu Bawa daku penuhiku Berilah diriku kasih putih...
by Aditya Seto Nugroho | 02 Jul 2020

Memasuki kelas 11, aku mulai dihadapkan dengan berbagai kepengurusan ekstrakurikuler di SMA aku send...
by Jerell Michael Cussoy | 02 Jul 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER