I'm Almost There

Best Regards, Live Through This, 31 August 2020
"I remember Daddy told me Fairy tales can come true You gotta make 'em happen It all depends on you" Tiana, Princess and the Frog

Princess and the Frog adalah film Disney yang paling tidak berkesan bagi saya waktu kecil. Film Beauty and the Beast sepertinya lebih baik, sebab setidaknya film itu tidak membiarkan dirimu dicium kodok. Eewww... Membayangkannya saja membuat saya merinding. Tapi kali ini saya harus akui bahwa saya mulai jatuh cinta pada film ini ketika sudah dewasa. Bukan tentang kisah asmaranya, melainkan, saya jatuh cinta pada karakter Tiana.

Dibandingkan Princess Disney lainnya, Tiana digambarkan sebagai orang dengan latar belakang yang yahh bisa dibilang related bagi banyak orang. Not all of us born with a silver spoon in our mouth. Yup... begitu juga dengan Tiana. Lahir dari keluarga sederhana, bahkan harus kehilangan ayahnya, membuat dirinya harus mati-matian menggapai impiannya. Namun, semuanya itu ia lakukan dengan gembira mengingat setiap penny yang dia dapatkan akan semakin mendekatkan dirinya pada restoran yang ia mimpikan. Semua orang menganggap dirinya aneh, bahkan Ibunya memintanya untuk memikirkan diri sendiri dan mencari pasangan. Tiana tidak bergeming dan tetap pada pendiriannya. 

If you do your best each and every day, good things are sure to come your way."

Itulah yang dikatakan Tiana pada dirinya sendiri dan saya juga percaya dengan hal ini. Setiap usaha yang baik akan menghasilkan buah yang baik juga bukan? Dalam cerita selanjutnya, semuanya berjalan sesuai rencana sampai pemilik gedung berniat membatakan janjinya. Dari sinilah Tiana merasa hancur. Belum cukupkah ia bekerja keras? Bahkan permohonan temannya, Charlotte, ternyata dikabulkan dengan cepat setelah ia berharap pada evening star. Mengapa dirinya tidak? Bukan hanya itu saja, Tiana  malah bertemu pangeran Naveen dalam wujud kodok. It must be a joke!.

Pengalaman Tiana pasti pernah kita rasakan juga. Kita sudah merncurahkan segala kemapuan dan ide kita ke dalam pekerjaan, tapi hasilnya tidak memuaskan. Atau, kita sudah mati-matian memperoleh IPK tinggi, tapi tidak dilirik oleh perusahaan. Kita sudah menetapkan hati memilih pekerjaan yang berhubungan dengan passion, eh malah dipandang sebelah mata karena gaji yang didapatkan rendah. 

Bagi saya yang barus saja menamatkan jenjang perkuliahan, dunia pekerjaan nampak seperti "dunia lain" yang menyeramkan. Itu adalah tempat di mana ekspektasi tidak sesuai realita, bahkan bisa lebih buruk. Semua orang berlomba-lomba memperlengkapi dirinya dengan memperbanyak pertemanan ataupun kursus online. Sedangkan saya? Saya hanya berdiam di dalam rumah, bukan karena virus corona, melainkan untuk mengurangi pengeluaran keluarga. Sudah terlambat rasanya untuk mulai memperluas jaringan pertemanan bahkan kursus. Apalagi saya pribadi bukan orang yang menyukai pekerjaan monoton seperti bekerja di kantor--karena saya lulusan hukum, kemungkinan besar bekerja di bagian legal perusahaan.

https://unsplash.com/@martenbjork

Hal ini membuat saya bingung bagaimana harus menjalani kehidupan ke depan. Sebagai orang tua tentu saja mereka menginginkan saya bekerja di perusahaan ternama atau setidaknya di kantor pengacara. Tapi jujur saja, hati saya tidak ada di sana. Ini bukan soal uang, tapi soal karir. Saya ingin menekuni pekerjaan yang saya sukai bukan karena sekedar suka. Saya ingin punya pekerjaan yang bisa saya banggakan walaupun hanya pekerjaan kecil, suatu pekerjaan di mana saya menjadi diri saya seutuhnya, seperti Tiana yang berjuang mendapatkan restoran impiannya walaupun dari gedung tua. 

Ya ya ya, saya tau. Saya terlalu naif harus mengorbankan keinginan orang tua saya demi pekerjaan impian yang tidak ada hubungannya dengan latar belakang pendidikan saya. Tapi bukankah hal ini pernah terlintas di pikiran kalian juga? Saya tahu, kebutuhan ekonomi dan juga beban sosial membuat kita mengubur impian kita. Saya tidak berkata kalian salah. Malahan saya kagum, karena kalian mau mengambil jalan yang sulit demi masa depan yang lebih baik. Di saat semua orang berbondong-bondong mengambil jalan pintas, kalian masih mau pergi ke kantor, membuka laptop, dan mengerjaan tugas yang telah dipercayakan kepada kalian. Suatu saat kerja keras itu pasti terbayar. 

Demikian juga dengan saya, walaupun bukan pekerjaan yang bergengsi, saya mau supaya pekerjaan yang saya lakukan dapat saya lakukan dengan tanggung jawab, bukan hanya mencari uang. Untuk itu, walaupun dipandang sebelah mata, saya memutuskan untuk menekuni apa yang saya bisa dan apa yang saya cintai. Seperti Tiana yang akhirnya mendapatkan restorannya, begitu juga saya yang sedang dalam proses mencapai tujuan saya. I'm almost there and the same goes to you. 

Tuhan Allah Beserta Engkau.

“Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina" (Ams. 22:29 ITB).

    

LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER