Yuk beriman!

Best Regards, Live Through This, 20 November 2021
Iman adalah dasar untuk kita percaya bahwa seluruh kepingan Puzzle ini pada Akhirnya tersusun bersama-sama bahkan di saat kita tidak mampu menangkap gambaran besarnya -

https://www.thestressexperts.com/blog/when-life-is-a-puzzle


Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menjadi gambaran utuh. Gambaran besar (blue print) atau gambaran utuh adalah panduan kita dalam menempuh proses menyempurnakan puzzle tersebut. Potongan-potongannya, ketika mulai tersusun, akan menuju ke arah yang sedang kita tuju (yaitu blue print-nya) dan akan saling berhubungan antara gambar yang satu dengan gambar yang lain.

Di dalam masa pandemi seperti saat ini, mungkin kita akan kesusahan untuk merangkai gambaran puzzle di dalam hidup kita, bukan? Entah karena kita hidup dengan dijejali input untuk "memuaskan" logika dan perasaan, atau bahkan kita melupakan jika ada iman yang Tuhan anugerahkan. Hari-hari ini, sebagai seorang pemudi yang dihadapkan dengan bertambahnya umur setiap harinya, saya seolah-olah justru makin menjalani hidup yang dipenuhi dengan logika dan perasaan. Contohnya, di dunia pekerjaan, saya terlalu memakai perasaan:

"Kenapa aku ndak bisa?" 

"Kenapa aku di sini?

"Kenapa aku selalu membuat kesalahan?" 

"Bagaimana masa depan ku nanti, jikalau aku hanya diam saja?" 

"Apakah Tuhan tidak membelaku saat aku direndahkan?" 

"Apa rencana Tuhan untukku?"


dan yang pasti juga masalah percintaan 


"Tuhan, siapa pasanganku?" 

"Tuhan, kenapa aku nda bisa sama dia? " 

"Tuhan, apakah aku akan punya jodoh?"


Ironisnya, pertanyaan-pertanyaan yang cenderung mengedepankan perasaan (bahkan jadi membuat baper (bawa perasaan)) rentan menjadikan seseorang mempunyai mental korban (atau playing victim), dan merasa sebagai orang yang paling menyedihkan di dunia ini. 


https://www.workplaceissues.com/how-is-your-life-like-a-puzzle/


Mungkin mental seperti itu juga saya miliki karena terlalu fokus pada salah satu kepingan puzzle di dalam hidup saya, dan tidak memakai kepingan itu untuk menjadi panduan proses pembentukan iman yang sedang dijalani. Saya sangat diberkati melalui kisah Abraham di Kejadian 12. Pada waktu itu, Tuhan memerintahkan Abraham untuk pergi dari negerinya dan menuju tempat yang Dia perintahkan. Apakah Abraham mengetahui ke mana Tuhan akan bawa Abraham dan Istrinya pergi? Tidak. Meskipun tidak mengetahui ke mana harus pergi, Abraham tetap mengikuti perintah Tuhan. Bagi Abraham, iman memiliki arti lebih dari meninggalkan apa yang dia ketahui selama ini, yaitu tentang bergerak dan maju meski tidak mengetahui tujuannya.

Walaupun setelah itu Abraham beberapa kali melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan (seperti meminta Sara untuk mengakui dirinya sebagai adik perempuan Abraham (dan bukan istri) pada Firaun dan Abimelekh, para pemimpin di negeri tempat Abraham "mengungsi"), Tuhan tetap berinisiatif untuk mengintervensi kehidupannya. Perlahan tapi pasti, Abraham melihat bahwa Tuhan sedang membentuknya untuk beriman tanpa harus melihat bukti fisiknya saat itu juga. Kelak, Abraham dikaruniai anak bernama Ishak, dan setelah itu pun imannya masih diuji. Namun, melalui pengalaman demi pengalamannya bersama Tuhan, dia melihat bahwa Pribadi yang disembahnya itu benar-benar hidup dan sanggup menyatakan kehadiran-Nya di dalam hidupnya. Di kemudian hari, kita mengenal Abraham sebagai bapa bagi banyak bangsa. Ini karena anugerah Tuhan yang memanggil Abraham keluar dari tanah kelahirannya, yang juga diwujudkan melalui imannya kepada Dia yang menggenapi janji-Nya.

Kisah Abraham ini mengajarkan saya dan teman-teman untuk memiliki iman dan tidak "menyerah" saat kita menyusun kepingan puzzle hanya karena tidak mendapatkan blueprint-nya. Mungkin hidup kita sedang dipenuhi dengan ketidakpastian, dan tidak ada seorang pun yang menyukainya, bukan? Namun, masih ada Tuhan yang menjadi satu-satunya pengharapan kita. Dia memang tidak tampak secara fisik, tetapi, yuk, belajar percaya pada-Nya yang mengetahui segala hal dibandingkan kita yang terbiasa menjalani hidup dengan dipenuhin dengan logika dan perasaan saja. Bukankah iman adalah dasar dari segala pengharapan kita atas apa yang tidak tampak (Ibrani 11:1)?


Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, Abraham tidak menyerah. - Kyle Idleman (Don't Give Up)


Kiranya di tengah-tengah kerapuhan sebagai manusia berdosa, kita dimampukan Tuhan untuk berdoa demikian:

"Tuhan, mungkin saat ini Tuhan belum menjawab doa-doaku, tetapi terima kasih karena Engkau telah mengubah cara pandangku untuk melihat rencana-Mu di hidupku melalui iman, bukan melalui logika dan perasaan yang salah. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"


LATEST POST

 

Waktu itu, aku liat tiktok. Trus, ada satu video dialog filsafat dimana ada orang bule bicara tentan...
by Yessi Nadia Giatma Saragih | 11 Jan 2022

 Suatu ketika aku meminta mami untuk dibuatkan kue bolu pandan. Yah, aku suka sekali makan kue...
by Nuel Lubis | 11 Jan 2022

Hanya Dialah yang tahu ‘kan segala rahasia,tiada ‘ku takut ‘kan kuasa gelap.Masa y...
by Sandra Priskila | 02 Jan 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER