Menjadi Manusia Seutuhnya

Best Regards, Live Through This, 04 October 2022
“ Teruslah belajar menjadi manusia seutuhnya ya.. karena aku pun masih terus belajar “

“ Teruslah belajar menjadi manusia seutuhnya ya.. karena aku pun masih terus belajar “ 

Ucap salah satu kakak pembimbingku di gereja.. dalam hati aku tergumam apa maksud dari pernyataannya. Bukankah selama ini kita adalah manusia? Apa ya perbedaannya?

Ma•nu•sia (n) makhluk yang berakal budi (KBBI)

Manusia adalah kasta tertinggi dari seluruh makhluk ciptaan Tuhan, diceritakan dalam Firman Tuhan juga diberikan kebebasan untuk mengelola alam dan ciptaan-Nya dengan hikmat. Manusia juga dibentuk untuk berelasi - menjadi relasi bagi sesama, bukan sekedar menempatkan diri melainkan bagaimana kita menempatkan orang lain di posisi kita. Kita semua adalah ciptaan Allah yang diciptakan serupa dan seturut kehendak-Nya.. apakah kita menjadi "seperti" Allah? Tentu tidak demikian pengertiannya.


Aku teringat pada salah satu kutipan ayat dalam Efesus 2 : 10 Yang berkata demikian
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya". Tidak dapat dipungkiri naluri kita ingin meraih hal-hal tertentu dengan segenap kemampuan kita, dan itu adalah suatu hal positif dan itu suatu hal yang baik sebagai wujud syukur kita atas kehidupan yang Tuhan beri. Hidup yang kita jalani adalah kesempatan untuk melakukan kehendak Tuhan.


photo by Aaron Burden on Unsplash

Sebagai makhluk yang masuk dalam kategori Homo Sapiens kita diciptakan secara utuh dengan penuh cinta kasih-Nya. Tentu setiap orang memiliki proses dan pencapaian yang tidak sama, semua itu wajar terjadi karena kita dilahirkan dari berbagai latar belakang, keluarga, bahkan pengalaman hidup. Namun sebagai orang beriman kita harus tetap memiliki tujuan yang mulia yaitu bertumbuh secara karakter untuk kebaikan bersama. Di luar sana kita bisa menemukan "indikator sosial" contohnya berdasarkan prestasi, padahal kita semua sama di hadapan Allah bukan?

Aku bertemu seorang pembimbing yang sungguh setia mendampingiku, beliau bukan orang yang cakap dalam konseling atau pandai berkata-kata. Beliau mengajarkanku menjadi manusia bukan melulu apa yang kita capai (karier, cita-cita, nama besar) namun apa dampak positif yang sudah kita berikan kepada orang lain. Dampak atau perubahan dapat dimulai dari mana saja, kapan saja, hal sekecil apapun. Bukankah itu hal yang lebih utama sebagai orang beriman?


Menjadi manusia seutuhnya sejatinya tidak hanya dibentuk oleh Tuhan Yesus Sang Pencipta juga dibentuk melalui pengalaman dan orang lain yang diizinkan hadir dalam hidup kita. Hidup sebagai manusia juga bukan untuk menjadi sempurna namun mengalami pertumbuhan dan dibentuk setiap hari. Ada kalanya kita mengalami kegagalan, berbuat kesalahan, tidak semua harapan tercapai dan semuanya itu valid. 


Ada satu pengalaman yang sungguh mengubahkanku, saat itu aku mengalami satu masalah pribadi yang sungguh berat, aku hancur sehancur-hancurnya dan aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa satupun teman tiada yang peduli. Tiba-tiba kakak pembimbingku datang dan berpesan "Tuhan menciptakan gelap dan terang pada hari pertama, Oliver tahu kan kalau gelap itu identik dengan sesuatu yang kurang jelas dan kurang baik, namun dibalik itu ada tujuan Tuhan yang mulia yaitu supaya manusia bisa beristirahat. Demikian juga saat ini Tuhan ijinkan Oliver mengalami situasi yang gelap, pasti Dia juga punya rancangan yang luar biasa diluar akal pikiran kita. Terus berjalan ya". Sejak saat itu aku percaya bahwa pengalaman gelap sekalipun akan membentuk kita menjadi manusia seutuhnya.

photo by Amanda Jones on Unsplash

Aku teringat sebuah doa dalam sebuah acara Kebaktian Kebangunan Rohani
" Tuhan, bentuklah aku menjadi manusia seperti kehendak-Mu, bukan kehendak temanku atau bahkan orangtuaku. Maafkan aku Tuhan jika aku tidak menaati perintah dan perkataan-Mu. Jangan bentuk aku menjadi orang yang sempurna tetapi jadikan aku orang yang terus mau belajar bahkan membuat kesalahan, sebab melalui kesalahan itu aku mengerti hal manakah yang sesuai "

Maka teman-teman terkasih, ijinkanlah hidupmu terus diproses bertumbuh seperti tanaman. Meskipun aku tidak mengenal kalian yang membaca tulisanku ini, aku berharap kalian terus menjadi manusia dan sesama yang berkenan di hati Tuhan dan hati siapapun yang rindu akan kasih-Nya. 

Selamat berjuang menjadi manusia bersama Dia sang pemimpin kehidupan beserta seluruh isinya.
Tuhan memberkati.

photo by Dakota Corbin on Unsplash


LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER