Pentakosta: Momen Peringatan Akan Kesatuan Gereja

Going Deeper, God's Words, 23 May 2020
“Kita satu keluarga dalam Kristus, karna kasih-Nya yang t’lah mempersatukan.” Apa benar?

Tulisan kolaborasi dengan Richard Lecourtbushe Bogar.

31 Mei 2020 adalah hari yang dirayakan oleh gereja Kekristenan Barat sebagai hari Pentakosta, di mana Roh Kudus turun kepada murid-murid pertama Yesus. Kekristenan lahir sebagai sebuah komunitas yang didasarkan pada kasih Kristus. Pada awalnya komunitas ini dianggap sebagai kelompok sesat oleh pemuka agama Yahudi dan ancaman bagi Kekaisaran Romawi, saat ini kekristenan menjadi sebuah gerakan global dengan jumlah penganut sekitar 2,3 miliar jiwa.

Seperti yang kita ketahui, jumlah penganut kekristenan terbagi atas beberapa kelompok, yang dapat kita sebut sebagai denominasi. Ada beberapa saat di mana pengelompokan ini menimbulkan perpecahan, kebencian, dan bahkan, perang saudara. Hal ini sungguh miris, terutama jika kita mengingat doa Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia ditangkap:

“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 17:21 TB)

Mengapa Gereja terpecah?

Alkitab mencatat bahwa dalam peristiwa Pentakosta, 3.000 jiwa memberi diri dibaptis, tepatnya setelah Petrus bersaksi mengenai apa yang ia alami bersama Yesus selama Ia berada di dunia. Lalu kemudian orang-orang yang telah memberi diri tersebut berkumpul tiap-tiap hari, memecahkan roti, serta hidup berkomunitas. Tokoh lain yang berjasa dalam perkembangan komunitas Kristen adalah Paulus, salah seorang rasul yang menyebarkan kekristenan di luar bangsa Yahudi. Gereja Tuhan mulai mengalami gesekan saat tak lagi ada kesamaan, seperti dicatat pada Galatia 2:11-14, ketika jemaat mulai mengelompokkan diri menjadi kelompok jemaat Petrus (jemaat Yahudi) dan kelompok jemaat Paulus. Tidak hanya itu, jemaat asuhan Paulus di Korintus juga mengalami perpecahan karena adanya strata sosial dan budaya, sehingga dalam suratnya kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 12:12-31), Paulus menggambarkan gereja sebagai persekutuan Tubuh Kristus di mana terdapat banyak anggota, tetapi satu tubuh.

Ilustrasi Skisma Gereja, sumber: Complete Christianity

Kita mungkin mengenal istilah Skisma Gereja (Perpecahan di dalam tubuh Gereja) yang diawali dari Skisma Gereja Timur (yang berpusat di Konstantinopel) terhadap Gereja Barat (yang berpusat di Roma) dalam sebuah polemik untuk mengakui kepemimpinan tertinggi di dalam tubuh gereja. Gereja Timur akhirnya memisahkan diri sebagai Gereja Orthodox dan Gereja Barat menjadi Gereja Katolik Roma. Setelah peristiwa tersebut, kita tentu mengenal skisma di dalam Gereja Barat itu sendiri, yaitu Reformasi yang dipelopori oleh seorang biarawan Ordo Agustinian bernama Martin Luther, lebih dari 500 tahun lalu. Setelah Martin Luther diasingkan oleh Gereja Katolik Roma, tokoh reformasi lainnya, seperti John Calvin, Wesley Bersaudara, Huldrych Zwingli dan John Knox pun bermunculan.

Mengapa terpecah? Di sini tidak akan dibahas secara detil mengapa Gereja terpecah sampai memiliki banyak aliran/denominasi. Namun, yang mau ditekankan adalah bahwa sepanjang perjalanannya berziarah di dunia, gereja Tuhan terus menerus memiliki pembaharuan pemikiran sesuai zaman dan perkembangan lainnya. Yang menjadi permasalahan dari zaman gereja mula-mula adalah bagaimana gereja, yang adalah orang-orangnya, menyikapi setiap perbedaan yang sangat indah di dalam tubuh gereja.


Ekumenisme?

Menurut KBBI, ekumenisme adalah “gerakan yang bertujuan menyatukan atau menghimpun kembali gereja sedunia dan akhirnya menyatukan segenap umat Kristen.” Ensiklopedia Britannica menjelaskan bahwa ekumenisme berasal dari kata oikoumenē (dunia yang ditinggali) atau oikos (rumah). Ekumenisme juga dikenal oleh kalangan gereja Injili dengan sebutan “interdenominasi”.

Sebuah contoh nyata Gerakan Ekumenisme di dalam Tubuh Gereja di Indonesia yang mungkin kita kenal adalah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia atau PGI. Pada sisi Gereja Katolik Roma di Indonesia, terdapat Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Selain itu, juga terdapat Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) dan Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII). Lembaga-lembaga ini menaungi gereja-gereja yang memiliki asas atau ajaran yang sejalan. Tidak heran bila ada Gereja yang berada di dalam dua organisasi sekaligus (misalnya PGI dan PGPI, atau PGPI dan PGLII) karena kesamaan ajaran yang diterima. Tapi apakah kehadiran lembaga-lembaga tersebut saja sudah cukup ekumenis? Tiap orang memiliki pandangannya sendiri terhadap seberapa ekumenis kekristenan yang ada di Indonesia. GKI sendiri memandang ekumenisme sebagai anugerah Allah bagi kita.

Photo by Hannah Busing on Unsplash 

Pdt. Prof. Joas Adiprasetya dalam Blog GKI Pondok Indah menjelaskan bagaimana GKI berusaha menjadi gereja yang ekumenis dan terbuka, namun tetap kritis dalam menghadapi tantangan zaman. GKI sendiri yang dulunya terpisah 3 bagian (Sinode Wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur) kemudian bersatu di dalam satu Keesaan Gereja, dengan mengakui bahwa Kristus adalah Sang Kepala Gereja. Hal ini mengingatkan bahwa Kristus akan menyatukan umat-Nya di bawah otoritas Allah. GKI menyadari pentingnya menata jemaat melalui konsep yang disebut pembangunan jemaat, yang tercermin nyata di dalam Tata Gereja dan Tata Laksana yang menjadi dasar usaha membangun jemaat Tuhan yang misioner. Selain itu, GKI juga berpartisipasi aktif di dalam badan badan ekumenis baik di Indonesia (lewat PGI), atau di luar, seperti CCA (Christian Conference of Asia) dan WCC (The World Council of Churches).


Komunitas Taizé sebagai contoh gerakan ekumenisme

Salah satu komunitas internasional yang mempraktikkan ekumenisme adalah Komunitas Taizé. Ketika mendengar kata Taizé, mungkin kita langsung mengingat 12 lagu terakhir pada Pelengkap Kidung Jemaat. Beberapa orang juga mungkin pernah mendengar nama ini sebagai jenis doa.

Suasana Taizé, sumber: Flickr

Taizé adalah sebuah komunitas yang dibentuk di Perancis pada tahun 1940 oleh Roger Schütz (Bruder Roger, 1915-2005) di tengah maraknya Perang Dunia II. Pembentukan komunitas ini tidak lepas dari latar belakang Bruder Roger yang dipengaruhi oleh kehidupan neneknya, yang mengharapkan masa dimana gereja tidak lagi memandang perbedaan denominasi, tapi memandang setiap orang percaya sebagai saudara. Taizé menjadi komunitas monastik ekumenis dengan anggota sebanyak 100 saudara dari gereja Katolik maupun Protestan.

Saat ini, komunitas Taizé tetap menjadi komunitas yang menyambut orang percaya yang ingin menyegarkan kembali iman mereka dengan harapan akan pemulihan hubungan antar gereja. Selama hampir 80 tahun pelayanan, komunitas Taizé sudah menyambut Paus Yohanes Paulus II (kepala Gereja Katolik Roma), Patriark Ekumenis Konstantinopel (kepala Gereja Ortodoks Timur), Uskup Agung Canterbury (kepala Gereja Inggris), dan banyak pemimpin gereja dari denominasi lainnya. Warisan Bruder Roger ini menjadi contoh bahwa gereja, tanpa melihat latar belakang denominasi, adalah satu di dalam Kristus.

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:27-28 TB)

Pentakosta dapat menjadi momen peringatan bagi kita, bahwa Roh Kudus datang bagi semua orang yang percaya di dalam nama Yesus, tanpa memandang bangsa, ras, dan bahkan denominasi. Kiranya kita dapat membawa damai Kristus di manapun kita berada. Damai Tuhan besertamu.

“When tirelessly the Church listens, heals and reconciles, it becomes what it is at its most luminous—a communion of love, of compassion, of consolation, a clear reflection of the Risen Christ.” – Bruder Roger

LATEST POST

 

Ada satu ungkapan yang pernah saya baca dan agak cukup nyeleneh  sekaligus menyedihkan. Ungkapa...
by Ryan Richard Rihi | 02 Jul 2020

“Biarkanlah kurasakan Hangatnya sentuhan kasihmu Bawa daku penuhiku Berilah diriku kasih putih...
by Aditya Seto Nugroho | 02 Jul 2020

Memasuki kelas 11, aku mulai dihadapkan dengan berbagai kepengurusan ekstrakurikuler di SMA aku send...
by Jerell Michael Cussoy | 02 Jul 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER