Happiness—Psalms Way

Going Deeper, God's Words, 05 July 2020
Kebahagiaan selalu diidentikkan dengan kepunyaan, dengan apa yang dimiliki; harta-benda, jabatan-posisi, jenis pekerjaan, uang yang melimpah, kesehatan, cinta, kenyamanan hidup, dsb—ini bukan sama sekali kebahagiaan.

            Salah satu problem manusia dari dulu sampai sekarang adalah kegagapan mendefinisikan sesuatu. Hal ini pun telah dikatakan oleh Socrates ribuan tahun lalu. Ia mengatakan bahwa, seringkali orang berkata, "bunga itu indah", atau "orang itu pemberani atau berbudi luhur", namun tidak memahami apa makna "indah", "berani", dan "berbudi luhur". Begitu pun dengan saat ini, sering kali seseorang mengatakan ia bahagia, ia menderita, tapi tidak tahu apa itu bahagia dan apa itu menderita. Sehingga tidak mengherankan jika kita sering mendengar ungkapan yang demikian, “Hidup yang penting bahagia, percuma kamu punya segala sesuatu tapi hidupmu menderita.”

Banyak orang memandang hidup hanya dua warna saja: kalau tidak bahagia, menderita, kalau tidak baik ya jahat, kalau tidak putih ya hitam, kalau tidak rohani ya duniawi, dst. Kebahagiaan selalu diidentikkan dengan kepunyaan, dengan apa yang dimiliki; harta-benda, jabatan-posisi, jenis pekerjaan, uang yang melimpah, kesehatan, cinta, kenyamanan hidup, dsb — ini bukan sama sekali kebahagiaan. Semua pemahaman ini berasal dari konstruksi masyarakat, nilai-nilai yang diserap dari sekeliling kita yang diterima dan kemudian membentuk diri kita dalam melihat kebahagiaan. — memiliki ini dan itu dulu baru dapat disebut bahagia, jika tidak maka penderitaan yang ada. 

Jika mau jujur, sebenarnya Mazmur 1-3 dengan jelas memperlihatkan apa itu kebahagian, dikatakan, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh” (Mazmur 1:1). Beberapa terjemahan Alkitab, misalnya KJV, NIV menerjemahkan “BERBAHAGIALAH” dengan “BLESSED”, “Diberkatilah”. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang diberkati. Saya berbahagia karena kita diberkati TUHAN, bukan karena apa yang dimiliki dan siapa kita di dalam keseharian hidup kita. 


Pertanyaannya apa itu berkat, apa yang saudara pahami mengenai berkat TUHAN? Mazmur 1:1 menjawab dan mengatakan bahwa berkat TUHAN adalah ketika kita tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, ketika kita tidak berdiri di jalan orang berdosa dan duduk dalam kumpulan pencemooh. Orang fasik, orang berdosa, kumpulan pencemooh di sini dapat diterjemahkan juga sebagai “orang-orang yang tidak mengenal TUHAN”. Dengan kata lain, berkat TUHAN adalah ketika kita mengenal-Nya. Pengenalan akan Dia adalah berkat , itulah kebahagiaan. Saya secara pribadi pun mengalami hal yang demikian. Salah hal yang paling saya syukuri di dalam kehidupan ini adalah ketika TUHAN memberikan saya kesempatan untuk terus berproses untuk semakin mengenal-Nya. Ya, mengenal TUHAN adalah kebahagiaan yang sejati, mengenal adalah sebuah proses yang harus terus dilakukan, bukan seseuatu yang final. 

Dalam tata bahasa Ibrani, kata mengenal (yada) tidak hanya dapat diartikan dengan mengetahui, namun dapat diartikan juga sebagai “relasi yang sangat intim”, senantiasa bergaul dengan-Nya. Mengenal TUHAN juga berhubungan erat dengan kehidupan kekal. Yohanes 17:3 berkata, “inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”. Dengan kata lain, kebahagiaan juga berkaitan erat dengan kehidupan yang kekal, yakni ketika kita mengenal Allah dan juga mengenal Yesus Kristus. Dan itu bukan nanti, namun telah dimulai saat ini, saat Allah menjadi Raja (me-Raja) di dalam kehidupan kita.

Di dalam menjalani kehidupan, seringkali orang terjebak dalam pemahaman yang mengidentikkan kebahagiaan dengan kesenangan dan kesakitan dengan penderitaan. Padahal jelas bahwa kedua hal tersebut  berbeda. Akibatnya banyak orang kemudian jatuh kepada sikap konsumerisme, hedonisme, melakukan hal-hal duniawi lainnya yang menyenangkan dirinya karena berpikir itulah kebahagiaan. Dan pada akhirnya karena sedikit saja keadaan berubah, di mana semua rencana, angan-angan, ekspektasi mereka tidak berjalan sebagaimana yang telah mereka tata dan kemas dengan baik, mereka pun kecewa dan seketika itu juga lenyaplah kebahagiaan yang kesenangan itu, dan akhirnya keadaan mereka pun semakin terpuruk, menderita.


Walaupun kebahagiaan adalah berkat dan pengenalan akan TUHAN, kita perlu tahu bahwa kebahagiaan itu memerlukan partisipasi kita, kebahagiaan itu bukan juga sesuatu yang datang begitu saja. Mazmur 1:2 berkata, “Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Jelas di sini dikatakan bahwa orang yang bahagia adalah orang yang menyukai dan merenungkan Firman Taurat TUHAN. Menyukai di sini bukan hanya sekedar suka begitu saja, namun memiliki hasrat yang mendalam, sementara Taurat TUHAN di sini dapat diartikan sebagai panduan hidup yakni Firman Tuhan. Sehingga dapat dikatakan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa memiliki hasrat terhadap Firman TUHAN dan Firman TUHAN itu adalah panduan, menjadi gaya hidupnya

Di dalam Mazmur 1:3 orang berbahagia diibaratkan seperti pohon di tepi aliran air. Dengan kata lain, hendak memberitahukan kepada kita bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang dekat dengan sumber kehidupan. Air sering diidentikkan sebagai sumber kehidupan. Jika merujuk kepada Yohanes 4, Yesus sendiri diidentikkan sebagai air kehidupan, mata air kehidupan, sumber kehidupan. Sehingga dapat dikatakan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang dekat dan lekat dengan Yesus, menggantungkan dirinya dan kehidupannya kepada-Nya seperti pohon yang  di tepi aliran air itu. Apakah kita mau bahagia? mendekat dan melekatlah pada-Nya. 

Dikatakan lagi bahwa orang yang berbahagia ibarat pohon menghasilkan buahnya pada musimnya dan itu tidak layu daunnya, apa saja yang diperbuatnya berhasil. Metafora ini hendak menunjukkan bahwa kebahagiaan adalah proses—orang yang berbahagia adalah orang yang memproses diri di dalam kehidupannya, sehingga ia berhasil (matang) melewati musim-musim kehidupan yang silih berganti; keadaan memang berubah, banyak hal yang terjadi, panas terik matahari dan kencangnya angin kehidupan tidak mempengaruhi kebahagiaannya. Ia jadi matang melihat segala sesuatu, sehingga hal-hal yang terjadi yang mengitarinya tidak merengut kebahagiaannya, walaupun penderitaan menimpannya, daunya tidak layu. 


Mungkin tidak pernah terpikir oleh kita bahwa kita akan disapa oleh pandemi yang tidak terduga seperti sekarang ini. Sehingga kebahagiaan pun rasanya menipis bahkan pergi. Namun jika kita berefleksi dan memeriksa diri, bisa jadi saat-saat ini adalah pergantian musim dalam kehidupan kita yang dibicarakan pemazmur di atas, tantangan kehidupan kita. Pemazmur mengingatkan kita, bahwa apa pun yang terjadi kita masih dapat berbahagia, karena kita senantiasa melibatkan TUHAN dalam segala hal, tinggal dekat dan lekat dengan-Nya. Kita berbahagia dari dalam diri sendiri, karena TUHAN memberkati kita, menganugrahkan pengenalan akan Dia dan menanamkan kerinduan di dalam diri kita untuk terus ingin semakin mengenal dan menjalin relasi dengan-Nya, lewat pelayanan kita, lewat kehidupan spiritualitas kita, lewat doa-doa kita, dan lewat keseluruhan hidup dan karya kita.

LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER