Anda Tidak Boleh Berpendapat Secara Bebas!

Best Regards, Live Through This, 22 July 2021
Banyak orang awam yang tanpa pengetahuan khusus merasa berhak berpendapat melawan akademisi, ahli medis, ahli hukum, atau ahli lainnya yang berpengalaman bertahun-tahun dan beranggapan bahwa pendapat mereka harus dihormati terlepas dari pendapat ahli, serta data dan fakta yang ada. Mereka juga enggan mencari informasi dari sudut pandang lain dan berdalih, β€œini pendapat saya, IMHO, IMO, menurut saya ya, no debat!” Yang pada akhirnya mereka lari dan tidak mempertanggungjawabkan pendapatnya.

Apa semua orang bebas dan berhak untuk berpendapat? Bagaimana jika pendapat yang disampaikan berpotensi membahayakan orang banyak? Sebut saja yang sedang ramai pada saat ini: Vaksin adalah konspirasi elit global untuk menguasai dunia; covid-19 adalah hoax ciptaan; dll. Apa ada batas dalam kita mengemukakan pendapat? Bagaimana cara menyampaikan pendapat yang baik dan benar?

Jenis-Jenis Pendapat

Patrick Stokes membagi opini/ pendapat menjadi tiga. Pertama, tentang selera atau preferensi; kedua, tentang hal yang melibatkan nasib banyak orang seperti keputusan politik/ kebijakan pemerintah; dan ketiga, tentang hal yang perlu dasar kemampuan tertentu seperti hukum atau sains.

Pendapat jenis pertama boleh disampaikan oleh siapa saja tanpa argumen pendukung. Kita akan terlihat konyol jika mendebat pendapat jenis pertama ini, misalnya memperdebatkan/ meributkan selera orang yang memilih memakan telur rebus setengah matang dibanding mata sapi. 

Sayangnya, kita sering menempatkan pendapat jenis kedua dan ketiga seperti pendapat pertama, pendapat kita tidak bisa didebat dan pasti benar. Itulah mengapa banyak orang awam yang tanpa pengetahuan khusus merasa berhak berpendapat melawan ahli medis, akademisi, ahli hukum, atau ahli lainnya yang berpengalaman bertahun-tahun dan beranggapan bahwa pendapat mereka harus dihormati terlepas dari pendapat ahli, serta data dan fakta yang ada. Mereka juga enggan mencari informasi dari sudut pandang lain dan berdalih, “ini pendapat saya, IMHO, IMO, menurut saya ya, no debat!” Yang pada akhirnya mereka lari dan tidak mempertanggungjawabkan pendapatnya.

Jika saya simpulkan bagian ini, yang menjadi keprihatinan saya adalah:

  1. Orang berpendapat tanpa dasar yang jelas.
  2. Tidak mendalami pendapat lain yang berseberangan.
  3. Bersikeras pendapatnya benar dan harus dihormati atau bahkan diakui sebagai kebenaran.
  4. Lari dari tanggung jawab untuk mempertahankan pendapatnya



Dampak dari Pendapat yang Tidak Dipertanggungjawabkan

Orang-orang seperti ini yang seringkali membuat saya gemas dan membuat tulisan. Izinkan saya berbagi beberapa kisah interaksi saya dengan mereka.

  1. Ketika saya menulis artikel mengenai neoliberalisme. Meskipun saya sudah memakai acuan dari para ahli, sebut saja: 
    1. Rizky dan Majidi dengan kontribusi dari pemikir dan pengamat ekonomi. Ada para praktisi bisnis, keuangan, dan kaum profesional. Ada birokrat, pengambil kebijakan, dan para politisi. Ada pula para pegiat sosial, pemberdaya masyarakat, dan para aktivis gerakan. 
    2. Miguel De La Torre Professor of Social Ethics and Latinx Studies at the Iliff School of Theology in Denver, Colorado.
    3. C. Ha-Joon Chang & Ilene Grabel: Chang: mengajar di fakultas ekonomi Cambridge sejak 1990; 20 World Thinkers versi prospect magazine di 2013; konsultan bagi: the World Bank, the Asian Development Bank, the European Investment Bank, as well as to Oxfam and various United Nations agencies; Grabel: Distinguished University Professor, University of Denver, Josef Korbel School of International Studies; Co-director, Graduate Program in Global Finance, Trade, and Economic Integration; Affiliated Faculty, Scrivner Institute of Public Policy, Josef Korbel School of International Studies
    4. Watts dan Hodgson berlatar belakang sosial. Keduanya dosen senior di Edith Cowan University.
    5. Neil Brener, Jamie Peck dan Nik Theodore: Brener: Professor of Urban Theory at Harvard’s Graduate School of Design and as Professor of Sociology and Metropolitan Studies at New York University; Peck: Canada Research Chair in Urban and Regional Political Economy; University of Manchester, BA, Honours; University of Manchester, 1988, PhD; Theodore: professor of urban planning and policy and associate dean for research and faculty affairs in the College of Urban Planning and Public Affairs.
    6. Rutger Bregman: Sejarawan rock and roll (dalam artian gaul hehe).
    7. Agung Wardana: dosen fakultas hukum Universitas Gadjah Mada.

Alih-alih mendapat kontra argument berdasarkan tulisan saya, banyak komentar ditujukan pada cara penulisan, ketidaktahuan saya, bahkan menyerang pribadi dengan opini tidak berdasar, contohnya (saya yakin mereka juga tidak membaca ketiga artikel saya secara lengkap):

“Pendukung FPI & GNPF 212 nya kauu..?? Berapa MILYAR kau DIBAYAR untuk MENJUAL IMANMU..?”

“"Prasangka" ...? "Jebakan Konflik"..? Ya Tuhaan....πŸ˜‚πŸ˜‚ Itu Tugasmu "Mencari KEADILAN" dasar bocil... Ini akun GKI ya, adiikk...JANGAN DAGANG POLITIK disini...JANGAN JUAL KRISTUS... 😊😊😊”

        2. Masalah RS PGI Cikini

Singkatnya, ada seorang pendeta senior yang mengklaim kalau RS PGI Cikini akan dijual dan tanpa kesepakatan 91 sinode anggota PGI.

Saya menentangnya, karena saya adalah mitra pemuda PGI yang mengikuti setiap persidangan PGI sejak 2019. Saya sempat jadi notulis dan dua tahun terakhir peserta sidang. Jadi saya mengetahui dengan persis bahwa pendapatnya salah dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Alih-alih menjawab argument saya, pendeta dengan gelar doctor ini merendahkan saya berulang kali dengan berkata:

a. kamu ini anak kecil, jangan ajari orang tua.

b. kamu ini undergraduate, saya doktor, jangan ajari saya.

c. nggak usah ngajarin orang tua, apalagi kau jauh di bawah pengalaman dan perjalanannya studi.

Ia juga sempat menyebut dua orang pendeta senior lainnya dengan kata “menjijikan”

Cara berpendapat atau beropini seperti di ataslah yang membuat komunitas kita tidak maju dan toxic. Apa pentingnya beropini atau berpendapat yang dapat dipertanggungjawabkan? Banyak contoh ekstrim dalam sejarah, ketika pendapat atau opini yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan berbau kebencian menjadi awal dari tragedi, sebagian kecil contoh adalah:

  1. Black Death: orang Yahudi dicurigai meracuni sumur-sumur di kota dengan tujuan membunuh dan menghancurkan Kekristenan lalu menguasai dunia. Eksekusi dimulai pada 1348, di Perancis orang-orang Yahudi diseret dari rumah-rumah mereka dan dilemparkan ke api unggun.
  2. Perang Dunia I: Presiden Amerika, Woodrow Wilson, merenungkan Yehezkiel 33:2-6 dan menggunakannya untuk mengklaim PDI adalah righteous war. Ia mengubah populasi pasifis menjadi pendukung perang, bahkan para penentang perang dipersekusi pada saat itu.
  3. Perang Irak vs Amerika: rakyat Amerika terus diyakinkan bahwa perang melawan Irak adalah hal yang baik dan patut untuk diperjuangkan.



Pendapat dan Kebenaran

Lalu, bagaimana dengan kebebasan berpendapat? Apa kita masih memilikinya? Ya tentu! Kita bebas untuk berpendapat apapun, asal siap diperdebatkan dan dipertanggungjawabkan dengan dasar yang logis dan sesuai! Yang sayangnya tidak selalu terjadi, saya dengan sengaja menulis judul “Anda Tidak Boleh Berpendapat Secara Bebas!” ringkasan seperti di atas untuk melihat ada berapa pembaca yang hanya membaca judul dan bereaksi tanpa membaca isi tulisan ini hehehe. 

Anda tidak perlu juga untuk menjadi ahli untuk berpendapat. Selama memiliki acuan yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan, Anda bebas untuk mengemukakan pendapat anda. Pernah saya curhat kepada satu dosen hukum UGM mengenai artikel saya mengenai neoliberalisme yang ditentang banyak orang. Ia berkata “Tidak apa-apa di-bully, Mas. Kita tidak perlu hidup di jaman jurrasic untuk tahu bahwa dinosaurus itu pernah ada. Kita percaya pada para ilmuwan yang memahami hal tersebut.” Zaman sekarang, sangatlah mudah bagi kita untuk mencari buku, jurnal, maupun tulisan para ahli untuk mendukung pendapat kita di internet. 

Lalu, bagaimana caranya agar argumen atau opini kita mendekati kebenaran? Seperti yang tertulis dalam Keluaran 23:1, "Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar." 

Jullian Baggini menjelaskan sepuluh jenis kebenaran (Eternal, Authorative, Esoteric, Reasoned, Empirical, Creative, Relative, Powerful, Moral, dan Holistic; untuk penjelasan lebih lanjut mengenai jenis-jenis kebenaran, anda bisa membaca bukunya) dengan tujuan untuk menunjukkan mengapa kita terkadang tidak bisa mencapai kebenaran yang ada. Ia menyimpulkan beberapa hal untuk mencari kebenaran:

  • Spiritual ‘truths’ should not compete with secular ones but should be seen as belonging to a different species.
  • We should think for ourselves, not by ourselves.
  • We should be sceptycal not cynical.
  • Reason demands modesty not certainty.
  • To become smarter, we must understand the ways we are dumb.
  • Truths need to be created as well as found.
  • Alternative perspectives should be sought not as alternative truths but as enrichers of truth.
  • Power doesn’t speak the truth; truth must speak to power.
  • For a better morality we need better knowledge.
  • Truth needs to be understood holistically.

Berani berpendapat berarti berani juga untuk mempertanggungjawabkannya, DAN berani mengakui kekurangan atau kesalahan jika memang ada. Kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan diri juga menjadi hal penting untuk kita miliki.


Daftar Acuan

Auerbach, Jonathan, and Russ Castronovo, eds. The Oxford Handbook of Propaganda Studies. New York: Oxford University Press, 2013.

Baggini, Julian. A Short History of Truth: Consolations for a Post-Truth World. Paperback edition. London: Quercus, 2018.

Chomsky, Noam. Media Control: The Spectacular Achievements of Propaganda. 1st ed. The open media pamphlet series 2. New York: Seven Stories Press, 1997.

Galli, Mark. 2020. “When a third of the world died: The catastrophic Black Death.” Disunting oleh Bill Curtis. Christian History: Plagues and epidemics Christian responses past and present (135): 17-23.

Hankins, Barry. 2017. “Sacred conflict or unfortunate necessity.” Faith in the Foxholes: Seeking hope amidst war’s despair, 2017.

Ramachandra, V. “War.” Edited by William A. Dyrness and Veli-Matti Kärkkäinen. Global Dictionary of Theology. InterVarsity Press, 2008.

Stokes, Patrick. “No, You’re Not Entitled To Your Opinion.” Patrick Stokes, October 5, 2012. Accessed July 22, 2021. http://www.patrickstokes.com/?p=232.

 

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER