The Hardest Choice

Going Deeper, God's Words, 01 August 2022
Tuhan berkata kepada kita untuk tidak mengikatkan hati kita pada apa yang kita miliki atau apa yang dapat kita lakukan. Ia mengajak kita untuk menaruh identitas kita sebagai anak-anak Allah. Bagaimana jika Allah menyuruh kita untuk meninggalkan semua kepunyaan, pencapaian, dan pekerjaan kita untuk mengikuti Dia? Apakah kita mampu meninggalkan semua itu dan mengikut dia, atau apakah kita bersedih seperti Si Sultan Muda itu?

Halo Ignite People!!! Siapa di sini yang belum pernah dengar tentang cerita Orang Kaya Sukar Masuk Kerajaan Allah? Mungkin kita sudah berulang kali mendengar cerita ini dari khotbah atau renungan ya. Yuk sama-sama kita bahas cerita ini dari sudut pandangku.


Cerita ini menceritakan tentang seorang "sultan" muda yang bertanya kepada Yesus tentang bagaimana memperoleh hidup kekal. Si Sultan Muda (sebut saja begitu ya) ini sudah menaati SEMUA Hukum Taurat yang ada saat itu (jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormati orang tuamu, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri). Kalo kita lihat dari segi pencapaian rohani, pasti Si Sultan Muda ini sudah patut diacungi jempol ya. Tapi anehnya, Yesus justru memandangnya dengan kasihan (Markus 10:21). Lalu Yesus menyuruh Si Sultan Muda ini untuk menjual segala miliknya dan mengikut Yesus. Ketika Yesus mengatakan itu, Si Sultan Muda ini ekspresinya langsung menjadi sedih karena hartanya buanyakkkk bangettt. Ya namanya juga Sultan, pasti hartanya banyak dong, ga kaya kita yang hobinya numpang Wi-Fi di kosan temen. Yesus pada akhirnya menyimpulkan bahwa orang kaya susah masuk Kerajaan Allah. Bahkan lebih muda untuk unta masuk ke lubang jarum daripada orang kaya masuk ke Kerajaan Allah!!??

Mungkin kita bertanya, kenapa ya kok Si Sultan Muda itu sulit untuk masuk Kerajaan Allah? Apakah kalo kita kepingin kaya secara material atau mungkin memiliki financial freeedom di usia tertentu itu salah? Apakah ketika kita sekedar menginginkan kehidupan yang lebih baik dari segi ekonomi itu bertolak belakang dengan Firman? Well, daripada kita melihat salah benarnya, bagaimana kalo kita melihat dari sisi keterikatan hati kita? 


Yesus tidak berkata bahwa bekerja keras untuk memiliki taraf hidup yang lebih baik itu salah. Tetapi yang jadi pertanyaannya adalah apakah kita mengikatkan hati kita kepada harta yang kita miliki atau kepada Tuhan? Apabila Tuhan meminta kita untuk menolong orang yang membutuhkan dengan sebagian tabungan yang kita miliki apa kita bersedia? Apabila Tuhan meminta kita untuk menyisihkan sebagian uang jajan atau penghasilan kita untuk diberikan kepada orang yg berkekurangan apa kita rela?


Melalui cerita Si Sultan Muda ini, Tuhan ingin berbicara kepada kita semua untuk tidak mengikatkan diri kita kepada harta benda atau pencapaian kita sekalipun. Harta dan pencapaian kita bisa lenyap karena berbagai hal yang tidak bisa kita kontrol. Yuk mari bersama kita renungkan gimana kalo Tuhan meminta kita untuk meninggalkan segala kepunyaan, pekerjaan, & pencapaian kita untuk mengikut-Nya? Apakah kita akan meninggalkan semua itu & mengikut-Nya, atau kita akan kecewa dan bersedih seperti Si Sultan Muda?

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER