Haruskah Depresi Menjadi Alasan untuk Bunuh Diri? Sebuah Refleksi dari Kisah Ayub

Going Deeper, God's Words, 12 May 2020
Bolehkah kita depresi? Atau depresi adalah dosa yang harus kita hindari?

Mungkin saya akan memulai artikel ini dengan sebuah pernyataan kontroversial Ayub. “Mengapa orang fasik tetap hidup, menjadi tua, bahkan menjadi bertambah-tambah kuat?” (Ayub 21:7). Berangkat dari pernyataan Ayub ini, saya memunculkan sebuah buku karya Philip Yancey, “Kekecewaan terhadap Allah”.

Jika membaca keseluruhan kisah Ayub, nampaknya kita perlu berhati-hati kawan. Baiklah, saya setuju, bahwa ketiga, atau mungkin bagi saya keempat teman Ayub memang tidak lepas dari kesalahan. Mereka menganggap, segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, semata-mata akibat perbuatan kita. Mereka “menghajar” Ayub habis-habisan dengan pemikiran, “kamu telah berdosa, maka kamu dihukum Allah." Apakah ini juga yang menjadi andalan orang Kristen masa kini? Anggaplah seperti ini, “kamu kena HIV, karena Allah sedang menghukum kamu yang nakal dengan perbuatan seksmu.” Tunggu dulu, apakah Allah menghukum? Sejahat itu kah Allah? Lalu mengapa orang yang membunuh, merampok secara membabi buta, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang masih hidup? Sebuah pertanyaan refleksi selanjutnya adalah, di manakah Allah dalam ketidakmampuanku?

Saya akan mencoba memberikan pemikiran saya tentang Ayub, yang saya pikir sering disalahartikan. Saya akan memulainya dengan tanda-tanda depresi: (1) orang yang sedang sedih hingga “jatuh ke tanah”, sulit untuk mendengarkan orang lain; (2) kehilangan arti hidup, seakan hidup itu kosong dan tidak mampu menjawab keinginan dan pergumulan; (3) menunggu jawaban yang bagi seseorang itu penting, namun tak kunjung datang; (4) merasa telah bersalah, dan berdosa. Ayub ada di tiga poin pertama. Ayub merasa dia benar, tetapi mengapa Allah “menghukumnya”?

Kemudian, datanglah Elifas, Bildad, dan Zofar. Ketiga sahabatnya secara satu suara percaya bahwa Ayub sudah bersalah, dan berdosa pada Allah. Kehadiran mereka bertiga, justru membuat Ayub semakin down. Mereka merasa benar (paling tidak, mereka tidak melakukan apa yang Allah tidak suka). Oleh karenanya, Ayub membalas pernyataan mereka dengan berbagai alasan. Lengkapnya, bacalah kitab Ayub dari awal sampai akhir. Bahkan berkali-kali, Ayub justru “meminta pertanggungan jawab dari Allah.” Ayub “penasaran” dengan sebab musabab dia menderita sedemikian rupa. Ayub 6:24 misalnya. “Ajarilah aku, maka aku akan diam; dan tunjukkanlah dalam hal apa aku tersesat”. Ayub ngeyel pada ketiga temannya, seakan ingin mengatakan, “Woy! Gua ga salah apa-apa, kenapa gua yang dihukum?”

Ayub pun seperti itu. Ayub 13:18 misalnya, “Ketahuilah, aku menyiapkan perkaraku, aku yakin bahwa aku benar.” Lalu Ayub 13:24: “Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu?” Ayub masih merasa ia ada di posisi yang benar, lalu mengapa aku harus menderita? Mengapa orang benar harus menderita? Mengapa orang benar juga bisa depresi?

Dari pernyataan dan pertanyaan di atas, saya ingin memberi satu istilah, yang pada masa Covid-19 ini sering disebut. Istilah "Theodice". Segala sesuatu itu, ada di bawa kendali dan otoritas Allah. Dosen saya DKL sering menggaungkan istilah ini, bahkan sejak saya ada di semester satu. Segala sesuatu yang ada di bawah kendali Allah itulah yang kemudian sering dipersalahkan atau sering disalah-artikan sebagai hukuman Allah. Kembali lagi, saya bertanya, apakah Anda yakin Allah menghukum Ayub? Segala sesuatunya ada di bawah kuasa Allah, lalu mengapa orang benar menderita? Saya kira jawabannya sama, apapun yang terjadi pada kita, tidak bisa hanya kita batasi dengan hukum sebab-akibat. Hukum jika A maka pasti B. hukum logika macam seperti ini, kadang tidak berlaku pada kamus Allah.

Nah, berkaitan dengan depresi, dan kemudian mempersalahkan Allah akan segala hal yang Ia lakukan, saya kira ini juga menjadi masalah. Depresi yang kita alami datangnya dari Yesus? Benarkah? Yesus kah yang membuat kita depresi? Hati-hati kawan, lihat kembali apa itu depresi, dn bagaimana menanggulanginya. Saya sempat menulis sebuah artikel tentang bunuh diri, mungkin ini bisa menjadi referensi kita, kalau mau mempersalahkan mereka yang siap untuk bunuh diri, karena mereka tidak dapat melihat Tuhan.

Dalam ilmu psikologi yang sempat saya pelajari (walau sedikit), saya memahami, bahwa depresi, sesungguhnya bukan sebab dari bunuh diri. Justru penyebab bunuh diri yang cukup saya pahami adalah karena kita yang ada di sekitar orang itu “gagal” untuk memahami bahwa depresi atau emosi apapun yang sedang terjadi padanya. Kita masih sering menjadi “malaikat” yang membawa ribuan ayat Alkitab, dan kemudian mempersalahkan kehendaknya untuk bunuh diri, padahal mungkin yang dibutuhkan oleh para penyintas bunuh diri hanya hal kecil, “Dengarkan aku!” Sudahkah kita mendengarkan sekitar kita? Atau kita sama seperti sahabat-sahabat Ayub yang sesungguhnya tidak memahami apa yang dibutuhkan Ayub, dan mempersalahkan Ayub dalam setiap pemikirannya. Memang Ayub juga tidak seratus persen benar, beberapa kali ia juga mempersalahkan Allah yang tidak adil baginya, tapi fungsi pastoral yang Allah lakukan pada Ayub mungkin menarik untuk dilihat.

Allah menunjukkan pada Ayub, siapa Dia dan siapa kita lewat berbagai perumpamaan Ayub 38-41 mungkin menjadi referensi utamanya. Jadi, jika ditanyakan pada saya, apakah depresi menjadi alasan satu-satunya untuk bunuh diri, saya kira tidak benar. Dan kembali, dari artikel saya soal bunuh diri sebelumnya, saya cukup mengecam keras para “sahabat” yang menggunakan Alkitabnya untuk menyalahkan si penyintas bunuh diri ini. Bagi saya, berlakulah, sebagai seorang sahabat. Sahabat yang rela menemani perjalanan hidup kawannya yang sedang “depresi, atau bahkan bunuh diri” (baca Lukas 24:13-35).

Selamat menjadi sahabat di dalam peziarahan kawan kita! Bagi para penyintas, ingatlah, kamu tidak sendiri! Peziarahanmu di dunia ini masih panjang, dan Ia ada besertamu. Maukah kita berjalan bersamanya, menuju ke Yerusalem kita? Tuhan memberkati.

LATEST POST

 

            Pastinya sebagian dari kita sering mendengar atau mel...
by Eva Chrisviana | 30 Nov 2020

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER