Saat Rencana Kita Jauh dari yang Terlaksana

Best Regards, Live Through This, 08 May 2019
Kakak tersebut memperlihatkan sukacitanya dan saya pun ikut merasakan sukacita yang ia nampakkan.

Kita, sebagai manusia, pasti mempunyai rencana dalam hidup; mulai dari bangun pagi sampai kita kembali tidur di malam hari. Kita tentunya punya rencana, baik jangka pendek maupun jangka panjang; rencana bagaimana menjalani hari ini, hingga merencanakan cita-cita hidup kita ke depannya. Setiap manusia pasti menginginkan yang terbaik, siswa-siswi merencanakan cara mereka belajar agar memperoleh nilai yang baik, mahasiswa-mahasiswi merencanakan bagaimana pengerjaan skripsinya agar cepat wisuda. Bahkan pada masa tua pun manusia pasti punya rencana untuk menghabiskan sisa hidupnya.. Tapi dari setiap rencana yang kita buat, apakah kita yakin itu juga yang dikehendaki terjadi oleh Tuhan?

photo by pixabay.com

Kita bisa merencanakan yang terbaik dalam versi kita, namum kita tidak boleh lupa bahwa ada versi terbaik dari Tuhan yang mungkin berbeda dari versi kita. Tidak semua rencana kita dapat terlaksana, meskipun kita sudah berusaha merencanakannya matang-matang, secara mendetail, disertai dengan plan B, plan C atau bahkan sampai plan Z. Rencana kita mungkin bisa gagal, tapi kita punya Allah. Allah kita adalah Allah segala masa, Ia telah merencanakan semuanya yang terbaik, bahkan sebelum kita sempat memikirkan hal-hal yang akan kita lakukan.


Pada 1 Mei lalu saya pergi ke Surakarta untuk mengikuti One Day Workshop (ODW). Jauh hari saya telah merencanakan bagaimana saya akan pergi ODW, bahkan sampai rencana kembali ke Purwokerto. Perencanaan sudah saya buat sedemikian rupa. Awalnya saya  berencana berangkat dari Yogyakarta, sepulang saya sekolah, menggunakan kereta lokal pada tanggal 30 April, kemudian saya bermalam di tempat teman saya di daerah Kadipiro, dan berlanjut pagi hari saya berangkat ke Demangan, tempat ODW dilaksanakan. Rencana tersebut dilanjutkan setelah ODW; saya pulang menggunakan kereta lokal kembali singgah di Yogyakarta dan kembali ke Purwokerto.


Photo by JK on Unsplash


Menurut estimasi, biaya itu jauh lebih murah karena tiket kereta malam dari Yogya lebih murah dan mendapat tarif khusus, tidak seperti dari Surakarta, dan rentangnya pun banyak. Atau bila tidak mendapat tiket kereta saya bisa turun di bandara dan naik bus, bagi saya yang penting berjaga-jaga dulu membeli tiket kereta lokal. Urusan naik bus atau kereta, belakangan. Di satu sisi, saya tidak enak merepotkan orang tua bila harus menggunakan kereta semahal itu dari Surakarta, tapi di satu sisi saya pun harus pulang untuk menjadi wali bagi acara perpisahan adik saya. Jadi pilihan yang ada adalah, saya berpacu dengan waktu menggunakan kereta lokal yang berjarak setengah jam dari akhir sesi menuju Yogyakarta, kemudian melanjutkan naik kereta kembali yang di beli go-show di Yogya dengan selalu memantau melalui aplikasi. Bila tiket kereta itu habis, saya harus langsung turun di bandara dan naik bus yang pasti lebih lama dan melelahkan.


Orang tua saya merasa empati bila saya harus pindah dan berganti-ganti transpotasi. Beliau meminta (dengan sedikit memaksa) saya memesan tiket kereta dengan pemberangkatan dari Surakarta meski mahal. Saya merasa tidak enak, bahkan sempat jengkel, mengapa mereka tidak percaya saya bisa, padahal perbandingan biayanya bisa sampai tiga kali lipatnya. Di satu sisi saya merasa tidak enak karena bisa saja saya dianggap boros, tapi di sisi lain saya juga tidak bisa membantah orang tua saya.


Photo by bmx22c on Unsplash


Setelah acara ODW selesai, saya langsung menuju stasiun Balapan, saya duduk menunggu di dekat tempat check-in karena saya diminta tolong mencetak boarding pass milik teman ibu saya. Saat saya menunggu, ada seorang wanita yang umurnya mungkin tidak jauh berbeda umurnya di atas saya, duduk di samping saya. Saya masih sibuk melihat highlights acara ODW yang tadi saya ikuti, mengacuhkan kakak itu, hingga akhirnya ia mengajak saya berbincang. Ia bertanya saya naik kereta apa dan basa basi lainnya. Kakak itu bercerita kebingungannya dikarenakan tidak mendapat tiket kereta lokal untuk pulang ke Yogyakarta. 


Saya pun teringat bahwa saya punya tiket kereta lokal untuk pulang ke Yogyakarta, yang rencananya ingin saya gunakan untuk menyambung perjalanan kereta. Saya pun bercerita bahwa saya punya tiket kereta lokal untuk malam itu. Kakak itu heran dan kebingungan saat saya menawarkan apakah dia mau menggunakannya atau tidak. Ia awalnya tidak yakin bahwa tiket yang saya tawarkan untuk hari itu. Ia mengecek ulang, sejenak diam lalu, kemudian dia tersenyum senang. 


Photo by Lesly Juarez on Unsplash


Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih. Ia bertanya, mengapa saya tidak menggunakannya, padahal saya sudah membelinya jauh jauh hari. Saya pun menjelaskan kepadanya. Sangat bahagia rasanya melihat kakak tersebut yang sebelumnya cemas dan khawatir lantas berubah menjadi sukacita. Ia terus tersenyum melihat saya, mulai dari dia beranjak berdiri,  check-in, bahkan hingga naik ke dalam gerbong kereta. Kakak tersebut memperlihatkan sukacitanya dan saya pun ikut merasakan sukacita yang ia nampakkan.


Sejenak setelah itu saya diam dan berpikir. Awalnya saya berencana menghemat biaya agar tidak merepotkan orang tua, tapi yang terjadi lain dari yang saya rencanakan. Saya merasakan sukacita yang lebih dari rasa ingin tidak merepotkan orang tua, yaitu rasa sukacita karena dapat membantu orang lain kembali merasakan sukacita. Mungkin tindakan berbagi tiket tersebut, terlihat tidak berarti bagi saya, tetapi hal tersebut sangat berarti bagi kakak tadi. 


Kalian mungkin berpendapat, “Ahh,, itu hanya keberuntungan dan ketidaksengajaan.” Namun pernahkah terlintas, bagaimana yang terjadi bila kakak itu tidak menyapa saya? Bagaimana jika saya dari awal tidak punya rencana untuk menyambung transpotasi perjalanan? Bagaimana jika saya tidak mengalah dengan orang tua saya? Atau bahkan bagaimana jika saya tidak langsung menuju ke stasiun seusai kegiatan ODW? Jawabku, mungkin kakak tadi tetap sedih tidak bisa pulang dan mungkin saja saya tidak kembali ke Purwokerto karena terlambat. 


Dari segala kemungkinan tadi saya sadar bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah, yang melebihi semua yang kita rencanakan. Rancangan Allah ialah agar kita menjadi berkat bagi sesama kita. Rencana-Nya mencakup aspek luas, bukan hanya pada kita dan keluarga kita, tetapi juga sesama manusia. Jadi jangan mudah merasa kecil hati bila rencana kita gagal, karena di balik rencana kita Tuhan punya rencana yang terbaik.


Yesaya 55:8-9

"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."

LATEST POST

 

Satu hari telah berlalu di tahun ke-25nya. Ya, kemarin adalah hari ulang tahunnya. Tidak lama kemudi...
by Noni Elina | 19 Jun 2019

Aku Agak MaluAku agak malu membaca bukuIa berbicara padaku tentang bagaimana menjadi akuMenjadi aku...
by Ester Novaria | 19 Jun 2019

Branding pada dasarnya adalah sebuah usaha yang masuk dalam strategi marketing. Banyak sumber yang m...
by Noni Elina | 19 Jun 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER