Bertanya, Berkeluh-kesah, Salahkah?

Going Deeper, God's Words, 02 May 2020
"Bertanya dan berkeluh-kesah bukan berarti kita ragu apalagi tidak percaya, bukan pula berarti kita kekurangan iman, namun justru karena kita beriman, makanya kita bertanya."

Dalam Mazmur 103:15-16 dikatakan, 

“Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.”

Pemazmur memperlihatkan bahwa hidup itu rentan dan rapuh, hidup itu hanyalah sementara. Dalam kesementaraan itu, manusia senantiasa bergumul dalam kerentanan dan kerapuhan, tidak hanya ia bergumul di dalam dirinya, namun juga karena hal-hal yang terjadi mengitari kehidupannya. Dalam bahasa Pemazmur, dikatakan bahwa angin yang melintas saja pun dapat menghancurkan hidup. Manusia selalu saja dihampiri oleh pergumulan, entah kapan pun itu dan bagaimana pun ceritanya. Hidup manusia susah ditebak dan penuh misteri dan dalam pergumulan kemisterian itu, manusia tentu saja saja bertanya dan bahkan berkeluh-kesah. 

Ayub bertanya dan berkeluh-kesah kepada Tuhan karena penderitaan yang menimpanya, bahkan ia berkata, 

“Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitanku." (Ayub 10: 1). 

Tidak hanya Ayub, para Pemazmur pun bertanya dan berkeluh-kesah kepada Tuhan. Mazmur 43:5 berkata, “Mengapa Engkau tertekan hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku,” Mazmur 44:25 berkata “Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami?” Demikian juga dengan Mazmur lainnya, seperti: Mazmur 74, 79, 80, 83, 89, dan sebagainya, di mana umat dengan leluasa; baik secara individu maupun komunal berkeluh-kesah dan bahkan bertanya kepada Tuhan. Kenyataannya, model ibadah di gereja-gereja sekarang ini tidak lagi memberikan tempat bagi hal yang demikian, bagi umat untuk mempertanyakan tindakan Allah berkenaan dengan pergumulan hidup yang mereka hadapi. Hal ini telah lama hilang di dalam gereja maupun di dalam kehidupan spiritualitas pribadi umat. Bahkan bertanya dianggap mencobai keagungan Tuhan. Padahal, model ibadah yang lebih apresiatif terhadap keluhan umat nampak dari peribadahan umat Israel kuno melalui sejumlah Mazmur yang dinyanyikan dalam liturgi-liturginya.


Para tokoh-tokoh iman itu bertanya dan berkeluh-kesah kepada Tuhan karena impitan masalah-masalah hidup dan sakit-penyakit yang mereka alami. Lalu apakah bertanya dan bahkan berkeluh-kesah kepada Tuhan salah? Tentu tidak. Bahkan, dengan tidak bertanya, kita telah kehilangan banyak hal; karena dengan tidak bertanya kita tidak mungkin berefleksi. Sebagai manusia biasa, bertanya itu wajar-wajar saja. Dengan bertanya berarti kita berefleksi, sehingga kita akan melihat kehidupan melampaui apa yang nampak saja, bahwa ada rencana Tuhan di balik semua kejadian yang terjadi, melongok kepada misteri kemengertian hidup.

Tidak hanya para tokoh iman tersebut yang bertanya dan berkeluh-kesah. Para filsuf Yunani kuno, salah satunya adalah Socrates juga membenarkan betapa pentingnya sebuah pertanyaan di dalam kehidupan. Ia berkata bahwa hidup yang tidak dipertanyakan tidak pantas dihidupi, dengan kata lain hidup yang tidak direfleksikan tidak pantas dijalani.  Bertanya dan berkeluh-kesah bukan berarti kita ragu apalagi tidak percaya, bukan pula berarti kita kekurangan iman, namun justru karena kita beriman, makanya kita bertanya. Bertanya dan berefleksi menunjukkan bahwa kita peduli. Bahkan akan sangat berbahaya jika kita tidak bertanya dalam kehidupan. 


        Jangan-jangan kita telah kehilangan banyak hal, jangan-jangan kita telah jatuh kepada fatalistis, apatis, atapun kehambaran hidup? Saat ini banyak di antara kita mungkin bertanya dan berkeluh-kesah: "Mengapa ini terjadi? Bagaimana kehidupanku dan keluargaku nantinya? Kapan semua ini berakhir?" Mungkin kita dirundung kekecewaan dan kepahitan akibat pandemi Covid 19 ini maupun karena masalah-masalah lain dalam kehidupan kita. Bertanya dan berkeluh-kesahlah, tidak apa-apa. Justru dengan bertanya dan berkeluh-kesah, kita akan berefleksi dan mencari tahu apa yang sebenarnya Allah mau sampaikan di balik semua kejadian ini; sehingga kita mau semakin mencari dan mengenal-Nya, ingin mengetahui isi hati-Nya lewat firman-Nya. 

Para tokoh iman pun bertanya dan berkeluh-kesah karena dihimpit keadaaan, dengan begitu justru mereka semakin yakin dan berpengharapan kepada Tuhan. Apa pun yang terjadi di dalam kehidupan kita, tetaplah berpengharapan kepada rencana Tuhan. Rencana yang indah dan damai sejahtera sebagaimana yang dikatakan Yeremia, 

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer 29:11).

LATEST POST

 

Kitab suci umat Nasrani terdiri dari 66 kitab (39 kitab perjanjian lama, 27 kitab perjanjian baru)....
by Nuel Lubis | 01 Jun 2020

Ini suara saya yang sekarang melayani di salah satu another liquid place, yaitu dunia pendidika...
by Febrima Yuliana Mouwlaka | 01 Jun 2020

Hai Ignite People, bagaimana kabar kalian semua? Aku berharap kalian semua dalam kondisi yang baik d...
by Kevin J. Darmawan | 01 Jun 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER