Perkenalanku dengan Sosok J yang Membuatku Tersadar

Best Regards, Live Through This, 14 December 2020
"Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Janganlah tertipu: “Pergaulan yang buruk menghancurkan kebiasaan-kebiasaan yang baik.” - 1 Korintus 15:33

Well, foto di atas itu terinspirasi dari seorang teman. Teman dari teman, maksudku. Aku mengenal J (inisial saja, yah) dari seorang teman dunia maya, yang kukenal karena suatu kegemaran yang sama. Hebat juga, yah?! Hanya dari Facebook, aku bisa berhubungan dengan seseorang, yang lalu mengenal orang ini, orang itu. Sekali lagi, luar biasa!

Kembali ke si J yang tinggal di Surabaya. Enam tahun lalu, itu kali pertama aku berhubungan dengan J via BBM. Saat itu, J ini sangat menarik perhatian aku. Ia berpose mirip dengan foto aku. Latarnya di pemakaman. J tengah tersenyum sembari berkacak pinggang. Menurut pikiran aku saat itu, itu sangat tidak biasa. Aku beranggapan pemakaman itu bukanlah tempat yang mana diri kita bisa tersenyum apalagi berkacak pinggang. 

Enam tahun pun berlalu. Lambat laun, entah apa yang terjadi, sepertinya aku mulai paham dengan foto J tersebut. Apalagi, setelah tahun 2014, Mami meninggal. Aku cukup sering berziarah ke makamnya juga. And then, well, I'm getting used to the thing called cemetery. Aku mulai terbiasa dengan segala hal yang berbau pemakaman. Makamnya, baunya, suaranya, hingga hawa serta auranya. Pemakaman bukanlah tempat di mana kita harus bersedih atau merasa ngeri. Maka dari itu, aku mulai merasa paham dengan foto J di 2014 tersebut.



Ijinkan aku bercerita sedikit tentang diriku saat kanak-kanak dulu. Dulu, bulu kuduk aku hampir selalu merinding setiap aku memikirkan tentang kematian. Aku selalu terpikirkan satu ide jika aku meninggal nanti, akankah itu menjadi sesuatu yang menakutkan. Ke surgakah? Atau, ke nerakakah? Opsi terakhir, jelas itu membuatku merinding setengah mati. Yang tadinya aku sudah mau terlelap, malah hampir batal. Serius nih, gara-gara memikirkan tentang kematian, aku jadi bangkit berdiri. Aku berlutut dan berdoa. Sejak saat itu, aku selalu seperti itu sehabis terpikirkan tentang kematian. Bulu kuduk aku  jadi merinding. Aku seperti menabukan segala hal yang berbau kematian. Kalau tidak mendesak sekali, aku enggan membicarakannya.

Itu adalah pribadi aku yang dahulu, yang sebelum mengenal sosok J tersebut. Tepatnya, sebelum melihat foto nyentrik J tersebut. Ah, foto J itu cukup mengubah pemikiranku tentang kematian. Sekarang, bagiku, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Bukankah takdir manusia memang harus mati? Salah satu ayat di kitab suci berkata, 

"Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu" (Kejadian 3:19).

Di kitab suci sendiri, kata 'kematian' lumayan sering disebutkan. Di setiap kitab, selalu ada. Di Kejadian, ada. Di Keluaran, ada. Hingga, di kitab Wahyu pun ada. Bahkan, seorang anak tukang kayu dengan gagah berani menyerahkan nyawanya ke pasukan Romawi. Bayangkan, si Anak Tukang Kayu ini yang dulu pernah membangkitkan orang mati, seharusnya bisa menggunakan kuasa-Nya untuk melawan dengan mati-matian pasukan Romawi tersebut. Tapi, itu tidak Dia lakukan. Sungguh kematian itu bukanlah suatu momok yang harus ditabukan. Bahkan, kematian pun punya ketakutan sendiri. Apa ketakutan kematian?

Salah satunya itu tercantum dalam 1 Korintus 5:26. Di sana tertulis: 

"Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut."

Bahkan, di dalam kitab Wahyu (yang banyak berisi nubuatan) juga makin menegaskan hal tersebut. Salah satu ayat dalam kitab yang ditulis oleh Rasul Yohanes itu berbunyi: "Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."

Sebetulnya masih banyak lagi ayat di kitab suci yang berkata tentang kematian. Kalian bisa cari sendiri. Dan, aku sangat bersyukur bisa mengenal sosok J tersebut. Laki-laki itu sangat mengubah pemikiranku tentang kematian. Yah, kematian (mungkin) tidaklah semenyeramkan yang kita duga. 

Oh iya, selain tentang kematian, J ini juga berhasil membukakan pikiranku tentang pergaulan. Pernah dengar, jika kita berteman dengan tukang minyak, maka kita akan tahu banyak tentang minyak? Itulah yang kumaksud. Seperti perkenalan dengan sosok J dan foto J yang nyentrik tersebut. 

LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER