Bolehkah Bernazar?

Going Deeper, God's Words, 14 April 2020
"Orang yang berbantah dengan Tuhan akan dihancurkan; atas mereka Ia mengguntur di langit. Tuhan mengadili bumi sampai ke ujung-ujungnya; Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapi-Nya." - 1 Samuel 2: 10

Jadi,  dalam masa Tri Hari Suci lalu, aku tengah menekuni hobi lamaku: Menonton video Youtube dari beberapa tokoh agama. Aku tak tahu sejak kapan. Ah, mungkin sejak aku masih
remaja, aku sudah menyenangi sesuatu hal yang sifatnya religius tersebut.

Dalam video-video tersebut, ada satu pendeta dari satu gereja tertentu menyampaikan sebuah kebenaran dari kitab suci. Itu tentang nazar. Kalau bicara nazar, aku kali pertama mengenal kata tersebut sejak kecil. Di telingaku, kata itu sangat dekat dengan sesuatu yang, maaf, klenik--atau mistis.

Lucu, yah? Sebab, aku memang suka dengar kalimat yang seperti ini, "Kalau gue bohong, gue siap disambar petir!" Yang beberapa saat kemudian, ada petir siap menyambar. Bahkan, beberapa FTV atau sinetron pernah menggambarkan kata 'nazar' tersebut, yang hampir seperti itu. Katanya, kalau nazar tak dituruti, sesuatu yang buruk terjadi, yang mirip seperti orang bermain Jalangkung atau Ouija

Photo by Breno Machado on Unsplash 

Lalu, salahkah bernazar? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nazar merupakan  janji (pada diri sendiri) hendak berbuat sesuatu jika maksud tercapai; kaul. Yah, nazar sama kaul itu sama. Yang entah mengapa kata kaul jauh lebih enak didengar di telinga, yang terdengar lebih modern saja. Lantas, kembali ke pertanyaannya, salah atau tidak, rasanya tidak juga. Setiap orang bebas bernazar/berkaul. Namanya juga berjanji ke diri sendiri, tak ada seorang pun berhak melarang, kan? Itu menurut pendapatku saja.

Masalahnya, apa yang terjadi jika tidak ditepati, benarkah akan terjadi seperti yang tertera di dua paragraf awal? Entahlah, aku tak tahu. Aku sendiri tak pernah sembarang berjanji entah ke diri sendiri maupun ke orang lain. Bukan takut kenapa-napa--atau mengalami sesuatu yang horor, namun  janji itu sakral untuk aku, apalagi harus bernazar. Walau demikian, yah aku tak menyangkal jika Tuhan punya caranya sendiri untuk mengingatkan seseorang menepati nazarnya sendiri. Salah satunya, batin kita mungkin akan dibuat gelisah sendiri, atau ada semacam dorongan untuk melakukan sesuatu yang seperti dinazarkan tersebut.

Aku jadi teringat dengan beberapa kontestan sebuah ajang pencarian bakat. Mereka langsung loncat ke dalam sebuah kolam air mancur setelah dinyatakan lolos. Nah, itulah yang kumaksud dengan 'adanya semacam dorongan' tersebut. Hal ini  juga dialami oleh seluruh pemain timnas Spanyol yang langsung menepati nazarnya masing-masing saat timnas Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010 silam.

Photo by Fauzan Saari on Unsplash 

Hal yang  sama seperti dilakukan oleh Elkana, suami dari Hana, ibu kandung Samuel, hakim terakhir bangsa Israel saat itu. Istri kedua Elkana yang bernama Hana, diceritakan mandul.  Walau Elkana sudah mengusahakan yang terbaik untuk kedua istrinya (1 Samuel 1: 8), tetap saja Hana ingin menyenangkan suaminya juga. Itulah sebabnya Hana suka pergi ke Bait Allah dan berdoa hingga mulutnya komat-kamit dan ditegur imam Eli. Hana pun menceritakan keluh-kesah dan Eli berkata, "Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya." Singkat cerita, Hana mendapatkan apa yang diinginkannya. Hana mengandung.

Selanjutnya, tanpa pikir lagi, Elkana langsung memberikan korban sembahan kepada Tuhan. Hana sontak teringat akan nazarnya ke Tuhan. Dia berkata, "Nanti apabila anak itu cerai susu (sudah tidak menyusui lagi, maksudnya), aku akan mengantarkan dia, maka ia akan menghadap ke hadirat Tuhan dan tinggal di sana seumur hidupnya." Beruntungnya Hana memiliki suami yang pengertian macam Elkana.

Photo by John Bussell on Unsplash 

Aku tak tahu apakah Hana memiliki pergumulan batin atau tidak. Namun, kurasa ada. Seperti yang kuberitahukan sebelumnya? Ada semacam dorongan agar kita menepati nazar tersebut. Mungkin Hana mengalami gelisah-gelisah sendiri, yang sama seperti Abraham yang memiliki kegelisahan batin untuk mengusir Hagar dan Ismael. Bagaimanapun Ismael itu anak biologis Abraham juga, walau bukan datang dari istri sahnya. Tentu saja Abraham berat untuk mengusir Hagar dan Ismael demi anak dan istri sahnya. Karena itulah, Hagar dan Ismael mendapatkan pengasihan Allah saat berada di padang gurun dan mengalami kehausan. Segala sesuatunya terjadi menurut rancangan Allah. Allah pernah berjanji kepada Abraham dalam Kejadian 15: 5, yang mana Allah akan memberikan banyak keturunan kepada Abraham sebanyak jumlah bintang di langit. Dan, Allah memang menepati janji-Nya sampai Abraham harus mengalami suatu peristiwa supranatural nan mistis, di mana Sara dibuatnya tertawa.

Begitulah, Kawan, apa yang akan terjadi jika kita bernazar. Tak harus kita mengalami peristiwa supranatural nan mistis--yang terkadang horor. Karena Tuhan memiliki caranya sendiri agar kita menepati nazar kita sendiri. Mungkin batin kita dibuat gelisah, ada bisikan dari sesama kita (seperti tetangga kita sendiri), atau oleh suatu kejadian sepele. Misalkan: kita berdoa agar bisa masuk perguruan tinggi favorit, dan doa kita terkabulkan, kita loncat-loncat sendirian saking senangnya, hingga kita terjatuh dari atas tempat tidur. Di saat terjatuh itulah, mendadak kita teringat oleh nazar kita sendiri. Yang begitu sering terjadi, bukan? 

Photo by Ben White on Unsplash 

Lantas, dari sederetan kisah di atas tersebut, bolehkah bernazar? Menurutku, mungkin boleh. Mungkin Tuhan memang mengijinkan kita untuk mengucapkan sebuah nazar/kaul. Sama seperti yang dialami oleh Manoah dan istrinya, yang mana keduanya merupakan orangtua dari manusia terkuat sepanjang sejarah umat manusia (menurutku, loh), Simson. Atau, sama  seperti peristiwa kelahiran Yesus. Tuhan yang melalui malaikat Gabriel, bahkan meminta Yusuf untuk mengucapkan nazar.

Dari situlah, aku memiliki pandangan bahwa ada sebuah kehendak dan/atau rancangan
Tuhan di balik sebuah nazar. Maka, berhati-hatilah dalam mengucapkan nazar.

Ah, ini hanya semacam self-reminder saja. Jangan terlalu dianggap serius, yah. Sekiranya damai dan berkat Tuhan selalu menyertai kita semua. Mau bernazar atau tidak, itu semua kembali ke pribadi kita semua.

LATEST POST

 

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Pagi itu, aku hendak berangkat ke gereja dan melihat ada yang berbeda dari helm papaku. Ada stiker b...
by Emmanuela Angela | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER