Mencari Kehendak Tuhan: Jesus FEAR

Going Deeper, God's Words, 17 April 2020
Satu-satunya manusia yang tahu persis bagaimana akan mati begitu lahir di dunia ini adalah Yesus Kristus. Nah sekarang bayangin kalau kamu menjadi manusia yang seperti Yesus Kristus...

Kak, gimana caranya tahu kehendak Tuhan?

Suatu kali saya pernah ditanya begitu. “Pake urim dan tumim.” Jawab saya becanda. Eh, tapi dikiranya saya serius, “Urim dan tumim itu apa?”. Ya sudah, saya jawab serius aja:

Cari tahu kehendak apa dulu, nih? Jodoh, kerjaan, atau di mana tempat nanti mau makan?” Karena usianya masih muda, hal-hal yang membuat galau biasanya seputar itu saja.

Jodoh.” Lalu dia mulai cerita soal beberapa orang yang dia sukai.

Hmm... kalau kamu sangat suka yang pertama, pasti kamu gak bakal suka juga sama yang kedua. Lalu kalau kamu beneran suka sama yang kedua, gak mungkin juga kamu bakal suka lagi dengan yang ketiga. Simpel. Kamu gak berpikir buat ‘bertiga’in mereka, kan?

Ya gak sih, Kak. Makanya aku mau tahu caranya tahu kehendak Tuhan.

Tapi sebelum itu, sebelum cari tahu apa kehendak Tuhan soal yang mau diseriusin yang mana... aku mau tanya: seberapa deket hubunganmu sama Tuhan?

Dia diam. Matanya melihat ke saya tapi kayak nembus gitu. Mengawang.

Hmm?

Susah Kak jelasinnya.

Tiap hari berdoa, selain sebelum makan?

Dia hanya menggeleng.

Baca Alkitab? Instal aplikasi Alkitab?

Ya ada sih, Kak. Install kok. Tapi ya... gak pernah dibuka juga kecuali pas hari Minggu di gereja.

Padahal kehendak Tuhan ya di situ. Jadi gimana caranya mau tahu kehendak Tuhan, sering-sering aja baca Alkitab.

Gitu aja?

Plus bergaul akrab sama Tuhan. Berdoa. Doa itu kan gak selalu harus minta atau bersyukur. Ya anggap aja Tuhan di depanmu, lalu bilang apa saja yang kamu mau bilang, kayak curhat. Kalau kamu punya hubungan yang akrab dengan Tuhan, atau dengan seseorang, pasti kamu bakal saling percaya kan?

Maksudnya?

Kamu punya teman akrab? Karib? Atau dengan saudara... orang tua?

Ada.” Lalu dia menyebutkan sebuah nama.

Nah, kalau kamu nanya: ‘Cari pita Jepang di mana ya?’ Lalu aku nyuruh kamu pergi ke Mirota Kampus dan dia nyuruh kamu ke Toko Merah. Kamu pergi ke mana?

Mm... ke Toko Merah sih, Kak. Tapi bukan berarti aku gak percaya sama kakak lho...

Iya, itu maksudku. Kamu lebih percaya ke sahabatmu kan? Gak apa-apa. Itu wajar... karena kita juga jarang ngobrol, jarang ketemuan juga.

Oh... ngerti, Kak. Jadi bangun hubungan dengan Tuhan itu kayak sama temen gitu ya?

Iya lah. Bangun trust, rasa percaya. Coba kalau kamu gak duluan bangun hubungan sama Tuhan, lalu pas kamu nanya: ‘Tuhan, aku baiknya pacaran sama Cindy, Herlin, atau Vinca?’ dan Tuhan jawab, ‘Kehendak-Ku adalah kamu hidup selibat dan melayani-Ku dengan sepenuh hatimu, sepanjang usiamu.’ Nah lho... reaksimu bisa aja jadi mendebat Tuhan. Atau malah tawar menawar soal kehendak-Nya itu. Terus Tuhan kesel kan, ‘Lha tadi tanya kehendak-Ku? Kok jadi sangsi gitu?’.



Terus Tuhan jadi males ngomong lagi... hahaha

Gak sih menurutku. Tuhan gak pernah males ngomong ke kita. Kitanya aja yang sering males ngobrol sama Dia. Bahkan karena saking penginnya Dia bangun hubungan sama manusia, Dia sampai rela mati dengan penderitaan hukuman salib.

Hening.

Jadi bangunlah hubungan dulu sama Tuhan. Karena hubungan yang erat, bisa bikin keakraban. Lalu karena akrab, timbul rasa percaya. Tuhan pasti bicara kok kalau kamu dirasa udah siap dengerin apa kehendak-Nya...

Obrolan berlanjut sampai larut... dan ketika momen Paskah kemarin saya teringat obrolan tersebut.

********/*******

Satu-satunya manusia yang tahu persis bagaimana akan mati begitu lahir di dunia ini adalah Yesus Kristus. Nah sekarang bayangin kalau kamu menjadi manusia yang seperti Yesus Kristus...

Begitu kamu lahir, kamu langsung tahu kalau bakal mati dengan cara ditabrak ojek online. Terus apa yang akan kamu lakukan? Terus-terusan menghindar kan? Mungkin setiap hari di rumah agar gak ketemu ojek online di jalanan.

Atau misalnya setelah beberapa tahun kamu lahir, kamu dikasih tahu oleh Tuhan kalau kamu akan menderita karena cinta. Cintamu akan selalu ditepuk sebelah tangan olehnya, oleh siapa pun yang kamu cintai dengan setulus hatimu. Apa yang akan kamu lakukan? Berhenti mencintai dengan menutup hati agar tidak terlukai?

Atau jika kamu tahu setelah lahir, orang-orang yang serumah denganmu akan menolakmu, apa yang akan kamu lakukan? Jahatin mereka dulu biar “impas”, gitu? Atau tetap berbuat baik karena, siapa tahu, mereka akan menerimamu, walaupun ternyata kenyataannya gak akan seperti itu...



Nah, kembali kepada Tuhan Yesus. Dia tahu persis bagaimana Dia akan mati: dengan diserahkan oleh murid yang dipercayai-Nya memegang perbendaharaan selama masa pelayanan-Nya di dunia. Dia akan mati: difitnah oleh mereka yang pemahamannya akan Allah Bapa coba diluruskan-Nya, tapi mereka tetap keras kepala dan tidak mempercayai Dia. Dia akan mati: ditinggalkan dan disangkal oleh murid-murid yang setiap hari bersama-Nya dan yang dikasihi-Nya. Dia akan mati: diludahi oleh orang-orang yang mungkin saja sudah diberi-Nya makan melalui mukjizat-Nya dengan 5 roti dan 2 ikan . 

Dia tahu persis bagaimana Dia akan mati dengan dicambuk, dipaksa memanggul kayu salib, dipaksa menahan berat tubuh-Nya dengan paku tertancap di kaki dan tangan-Nya, hingga mati dengan perasaan kesepian, sendirian, karena Bapa-Nya meninggalkan Dia... dan mungkin, karena sudah tahu semua itu, Dia mencoba tawar menawar kehendak Bapa-Nya setiap hari (dengan berdoa), hingga pada akhirnya Dia berkata: 

Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.

Tuhan Yesus tidak pernah lari. Tuhan Yesus tidak pernah menghindari mereka yang mengambil peran dalam kematian-Nya di Kalvari. Dari sisi manusia yang Yesus miliki, saya bisa ikut merasakan rasa takut pada kehendak Bapa-Nya ini. Tapi pada akhirnya, Dia memilih untuk tetap taat sepanjang hidup-Nya; bahkan sampai hari kematian-Nya.

Sekarang bagaimana dengan kita?

Sudahkah kita membangun hubungan akrab dengan-Nya? Jika sudah, apakah kita masih takut pada kehendak-Nya yang dinyatakan pada kita?



Mungkin kemudian bayang-bayang akan kesusahan akan muncul di benak kita kalau menuruti kehendak-Nya. Atau membayangkan tekanan-tekanan yang akan didapatkan jika mengikuti apa perintah-Nya. Seperti Yesus yang juga 100% manusia, adalah wajar jika ketakutan lalu membayangi hidup kita. Tapi Yesus pada akhirnya tetap taat pada kehendak Bapa-Nya, bukan? Dan Bapa-Nya selalu memberikan kekuatan, hingga akhirnya Yesus keluar sebagai menjadi pemenang dan menerima kemuliaan. Jesus FEAR: Face Everything And Rise.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:5-8)

LATEST POST

 

Kitab suci umat Nasrani terdiri dari 66 kitab (39 kitab perjanjian lama, 27 kitab perjanjian baru)....
by Nuel Lubis | 01 Jun 2020

Ini suara saya yang sekarang melayani di salah satu another liquid place, yaitu dunia pendidika...
by Febrima Yuliana Mouwlaka | 01 Jun 2020

Hai Ignite People, bagaimana kabar kalian semua? Aku berharap kalian semua dalam kondisi yang baik d...
by Kevin J. Darmawan | 01 Jun 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER