Pertobatan Ekologis

Best Regards, Live Through This, 03 December 2022
Jika pertobatan dosa sering kita dengar, namun bagaimana dengan pertobatan ekologis? Sejauh mana perlu kita pahami dan lakukan?

Jika pertobatan dosa sering kita dengar, namun bagaimana dengan pertobatan ekologis? Sejauh mana perlu kita pahami dan lakukan?

to.bat (v) sadar dan menyesal akan dosa dan berniat memperbaiki tingkah laku dan perbuatan (KBBI)

eko.lo.gi (n) ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (KBBI)

Isu lingkungan hidup akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan. Berbagai kerusakan alam yang terjadi menimbulkan keprihatinan banyak pihak, seperti banjir yang masih terus terjadi akibat penumpukan sampah atau kebakaran hutan yang akan dialihfungsikan menjadi permukiman. Krisis ekologi merupakan masalah moral manusia yang menuntut adanya tanggungjawab bersama.

Namun sebelum membahas apa itu pertobatan ekologis, kita akan menelusuri apa sih penyebab kerusakan alam? Berdasarkan sumbernya dibagi menjadi dua, yaitu peristiwa alam dan perbuatan manusia. Kerusakan alam akibat peristiwa alam di antaranya gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor. Sedangkan kerusakan alam akibat perbuatan manusia diantaranya alih fungsi hutan, pencemaran lingkungan, bahkan yang terparah yaitu masalah sampah. Berdasarkan data KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia) pada tahun 2021 mencatatkan jumlah sampah di Indonesia mencapai 21,88 juta ton. Tentu angka ini bukanlah angka yang menggembirakan, mengingat gerakan sadar lingkungan telah dilaksanakan sejak dahulu. Pendidikan di sekolah pun sudah mengimplementasikannya dalam pelajaran pengembangan diri.


photo by Vivianne Lemay on Unsplash

Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpancaran dan awan menitikkan embun. Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu”

Amsal 3:19-22 

Melalui kutipan ayat di atas, Tuhan mengatakan kepada kita untuk memelihara alam, bukan merusak atau menghancurkan alam itu sendiri dengan perlahan-lahan. Tuhan telah menciptakan alam semesta beserta isinya dengan sangat amat indah. Itu merupakan anugerah yang amat besar yang telah Dia sediakan sebelum menciptakan manusia. Teman-teman pasti pernah mendapat pelajaran dalam katekisasi mengenai pertobatan. Ketika kita melakukan sebuah dosa atau kesalahan lalu datang kepada Tuhan dalam doa menyesali kesalahan dan memohon ampun, serta berjanji tidak akan mengulang perbuatan tersebut. Itulah yang dinamakan bertobat. Bagaimana dengan pertobatan ekologis? Kita kembali diingatkan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu ketika sudah meninggal, maka selama hidup Tuhan memberi amanat untuk kita mengusahakan dan memelihara alam. 


photo by Ben White on Unsplash

Dalam tulisannya yang berjudul “Laudato Si”, Paus Fransiskus menyampaikan perlunya pertobatan ekologis, yakni kesadaran religius untuk memperhatikan terwujudnya kondisi lingkungan berkelanjutan di bumi yang menjadi rumah bersama seluruh ciptaan. Apakah pertobatan ekologis hanya berakhir dari penyesalan dan pertobatan saja? Tentu saja tidak.

Berikut hal-hal yang bisa kita lakukan sebagai anak -anak Tuhan dalam melestarikan lingkungan:

  1. Bergabung dalam komunitas “Eco Ministry”. Program ini tengah menjadi perhatian dan gereja saat ini, beberapa karya yang dihasilkan antara lain pembuatan ecobrick, pembuatan peralatan mandi dari tumbuhan, pembuatan eco enzyme, bahkan minuman dari berbagai tumbuhan. Selain membantu bumi menjadi lebih sehat tentunya kita juga menjalankan misi gereja untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi umat untuk mengambil bagian dalam pelestarian dan penyelamatan lingkungan hidup.
  2. Menerapkan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan, di antaranya mengonsumsi makanan sehat, berhenti menggunakan kantong plastik untuk berbelanja, mematikan peralatan listrik jika tidak digunakan, membawa tumbler ketika bepergian, mengatur suhu AC tidak terlalu dingin (antara 24-250C). dan tentunya membuang sampah pada tempatnya.
  3. Mensyukuri alam yang telah Tuhan ciptakan. Yaps, jika kita tidak belajar terlebih dahulu bersyukur atas apa yang alam telah berikan bagi kehidupan kita selama ini rasanya akan cukup sulit mengumpulkan niat dan ikut bertindak dalam pelestarian ekologis ini.


photo by Fateme Alaie on Unsplash

Tiga hal di atas hanyalah contoh, dan memang tidak akan bisa memperbaiki bumi jika kita melakukannya sendirian. Namun, ada kemungkinan lain jika kita—sebagai tubuh Kristus—melakukannya bersama-sama. Toh akan ada dampak yang lebih baik bagi lingkungan yang menjadi lebih nyaman dan terawat, tidak hanya untuk saat ini tetapi juga generasi selanjutnya. Semua golongan usia diharapkan terlibat yang dimulai dari kesadaran hati lalu dimulai dengan aksi. Lantas, bagaimana jika selama ini kita kurang “sadar” akan kebersihan lingkungan dan merawat bumi? Jangan terlalu merasa bersalah, selagi belum terlambat mari kita mulai gerakan ini dari sekarang, supaya kelak generasi mendatang tetap bisa merasakan suasana sejuk dan alam yang lestari. 

Salam lestari! Tuhan Yesus memberkati


“Alam semesta adalah anugerah. Jangan dijarah, hidup bersama adalah sukacita, jangan diubah menjadi nestapa." —Rm. Aloys Budi Purnomo

LATEST POST

 

Tahun baru, seringkali dijadikan momen untuk orang-orang membuat resolusi yang baru. Semua orang ber...
by Mikhael Artur Darmakesuma | 28 Jan 2023

Tahun 2023 baru saja berjalan selama 13 hari, tetapi tanggal 13 Januari lalu adalah momen ketika Tuh...
by Azarya Zefanya | 28 Jan 2023

Selamat tahun baru 2023 (dan 新年快乐), Ignite People!Kalau Ignite People ingat, awal tahun 2023 ini...
by Yessica Anggi | 23 Jan 2023

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER