Shalom : Damai Sejahtera Bagi Kamu

Best Regards, Live Through This, 28 April 2021
“Apakah Allah itu benar-benar baik ?” “ Kalau Tuhan itu baik, mengapa hidupku penuh dengan masalah ?” “Sepertinya Allah telah meninggalkanku, percuma saja bagiku untuk berdoa”

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos saya. Di dalam perenungan saya, saya kembali melihat fakta bahwa hidup saya sedang tidak baik-baik saja. Ada begitu banyak masalah yang terjadi di dalam kehidupan saya. Belum lagi ketika saya mencoba memikirkan masa depan. Terasa begitu kelam, gelap, tidak pasti dan begitu mencekam. Kemudian saya tersadar, malam itu saya sedang overthinking karena  begitu berlebihan memikirkan segala sesuatu. Memikirkan suatu hal secara berlebihan dan terus menerus.

Saya tersadar, bahwa overthinking ini adalah keputusan saya sendiri yang saya lakukan pada malam hari selama hampir lima bulan belakangan. Saya memilih untuk begitu memikirkan segala sesuatu yang bahkan belum terjadi. Hampir setiap malam ketika saya memutuskan untuk tidur dan beristirahat, sebuah pemikiran kecil yang terbesit dapat membuat saya overthinking hingga akhirnya tidak dapat tertidur sampai pagi menjelang. Selain jam tidur saya berkurang, saya pun merasa seperti kurang bergairah dalam menjalani kehidupan karena kekhawatiran saya akan hidup saya yang begitu pelik ini. 

Kesendirian dan kesepian adalah teman yang sangat akrab bagi saya selama beberapa bulan terakhir ini. Ketika saya merasa ada begitu banyak hal dan orang-orang yang mengecewakan saya, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari sosial. Saya menarik diri begitu ekstrim dan tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa. Awalnya saya mengira bahwa hal tersebut baik bagi saya. Namun, ternyata saya terjebak pada sebuah perangkap mematikan yang saya buat sendiri. Kondisi kesepian dan sendiri membuat saya ternyata diliputi dengan overthinking

Kesepian menciptakan bagi saya sebuah emotional pain yang membuat luka yang tidak terlihat bagi saya. Saya tidak aware dengan keadaan tersebut dan terlena dengan kesendirian itu. Saya membentuk dan menciptakan tembok dinding mental yang begitu tebal sehingga mengurung jiwa saya. Kesepian atau loneliness terkadang menjadi sesuatu yang menjebak dalam diri. Seringkali kita menyepelekan diri kita saat berada di dalam kondisi kesepian. Tak jarang akhirnya kesepian meracuni keadaan dan persepsi kita yang sudah kita. Sehingga tak jarang akhirnya kita menjauhkan diri kita, menutup diri kita dari dunia luar dan orang lain. Serta akhirnya menjebak kita pada sebuah pemikiran bahwa tiada satupun yang dapat mengerti keadaan dan kondisi kita. 

Lelah, itulah yang akhirnya menjadi kata-kata yang tepat ditengah segala kondisi yang begitu takut didalam diri saya. Segala kesendirian dan overthinking ini membuat saya begitu lelah dengan semua hal yang terjadi. Lantas kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri, “di manakah kedamaian hidup?”. Saya pun kembali kepada pertanyaan dimanakah Tuhan ? saat saya mengalami begitu masalah kehidupan serta dihantui oleh setiap overthinking. Mempertanyakan dan meragukan kuasa Tuhan dalam moment-moment terendah di dalam diri saya akhirnya kerap menjadi sebuah pertanyaan yang menyerang keimanan saya. 

Menarik kemudian, ketika akhirnya saya ditegur secara pribadi dalam sebuah perikop bacaan alkitab. Yohanes pasalnya yang ke 20 : 19-23 menjadi penguatan bagi saya ketika saya membacanya. Situasi yang begitu mencekam dan tegang di tengah konspirasi kebangkitan Yesus serta berita-berita  yang berhembus di masyarakat yahudi kala itu membuat para murid akhirnya harus mengurung diri didalam sebuah ruangan tertutup. 

Para murid mengasingkan diri dari dunia luar karena begitu takut dengan keadaan yang sedang terjadi. Saya kemudian memposisikan diri menjadi para murid yang berada di dalam perasaan yang bercampur aduk. Kesedihan, keraguan dan ketidakpastian dan ketakutan yang begitu besar  bisa jadi menjadi salah satu aspek yang membuat mereka akhirnya mengurung diri dari dunia. Menurut beberapa tafsiran dikatakan juga bahwa para murid takut ketika harus menghadapi berita-berita  palsu yang dibuat oleh para imam (Matius 28 :11-15) soal kebangkitan Yesus di hari minggu pagi tersebut.

Dikatakan dalam ayatnya yang ke 19 :  Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpul lah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi.  Mereka menutup diri rapat-rapat dari dunia luar. Mereka membangun sebuah pembatas antara dunia luar dengan kondisi mereka yang sedang tak menentu. Namun ditegah batas yang mereka ciptakan, Yesus hadir menembusi ke dalamnya dan menampakkan diri kepada mereka semua serta berkata “Damai Sejahtera bagi kamu”. 

 Sebuah sapaan yang begitu kuat menyapa para murid yang sedang mengurung diri serta berada didalam keadaan yang tidak pasti. Yesus hadir menyapa mereka dengan Shalom yang membawa kepenuhan hidup. Dalam Yohanes 20 : 19-23 ini sekurang-kurangnya dua kali Yesus menyapa mereka dengan Shalom. Kehilangan damai di dalam hati, itulah yang menjadi latar belakang kisah diceritakan. Mereka seharusnya telah mendengar Yesus telah bangkit. Tapi mereka belum percaya sepenuhnya dengan berita itu, dan itu yang membuat mereka tetap saja takut, tidak tenang. 

Ditambah, mereka sekarang merasa tertuduh dan dikejar-kejar. Yesus yang betul-betul bangkit dan hidup hadir nyata menembus tembok-tembok yang mereka bangun dan membawa Shalom bagi mereka semua ditengah kondisi yang penuh dengan kebingungan itu. Shalom yang biasanya diterjemahkan sebagai damai, memiliki arti yang lebih luas dari sekedar damai tapi juga  mengandung makna dari sebuah keutuhan hidup. Lebih lanjut, Yesus pun menghembusi para murid dan berkata “Terimalah Roh Kudus” (ayat 22). 

Di dalam minggu-minggu Paskah kita diajak untuk melihat bagaimana Yesus yang benar-benar hidup itu sejatinya sungguh hidup. Hidup di dalam setiap pribadi kita dan akan selamanya menghadirkan damai bagi setiap kita. Kondisi kehidupan kita yang rumit  dan perjalanan kita di dunia yang begitu berat dan melelahkan memang terkadang membuat kita menarik diri dan akhirnya berada dalam keadaan sendirian dan kita pun tak jarang  juga membangun tembok-tembok isolasi kita terhadap dunia luar. Ketika berada didalam tembok-tembok isolasi kita, kita kehilangan arah dan tujuan, terlalu cemas dan overthinking. Akhirnya kita kehilangan damai sejahtera tersebut. Kehilangan damai di hati akhirnya membuat kita tidak peka terhadap sesuatu yang sedang dirancang Tuhan dalam hidup kita. Kita menjadi kehilangan jejak Tuhan dan membuat seolah-olah Tuhan tidak ada dan tak bekerja dalam keadaan paling terpuruk dalam kehidupan kita. 

Yesus yang benar-benar hidup, sejatinya memanggil dan mengutus kita untuk tetap ada didalam dunia ini. Sama seperti Bapa mengutus Aku,  demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.(Ayat 20).  Kita mungkin kerap tidak sadar bahwa Tuhan yang hidup sejatinya sedang menjumpai kita di dalam kondisi kita sekarang dan menunjukkan damai sejahteraNya yang sejati kepada kita. Yesus yang hidup mampu menembus dinding-dinding tebal dan menjumpai para murid yang tengah berada di dalam kondisi yang tidak baik. Yesus yang hidup pula yang mampu menembus segala dinding-dinding kecemasan kita, overthinking kita dan keraguan kita. Dia sungguh hadir menembus hati kita dan membawa Shalom bagi kita semua

NKB 87 berjudul Junjungan Yang Kupilih [https://www.youtube.com/watch?v=TJA4loJziWM] mempersaksikan bahwa DIA benar benar hidup dan hadir menembus kerasnya hati kita dan membawa Shalom, damai sejahtera yang tak akan pernah hilang didalam diri kita. Ia hidup, Yesus betul-betul hidup didalam diri setiap kita. Maukah kita sekaran,  percaya bahwa Yesus sanggup memberikan Shalom itu kepada kita ?


2. Di mana, kapan saja KasihNya pun jelas.
Di saat ‘ku gelisah dihibur ‘ku lekas.
Di hujan, angin ribut, dipimpin langkahku,
‘ku yakin, kami nanti ‘kan bertemu.

Reff : Benar, benarlah hidup Yesusku.
Bersamaku di jalanku, suaraNya ‘ku dengar.
Benar, benarlah hidup Yesusku.
Dimana Dia ‘ku dengar? Di dalam hatiku!


Selamat Paskah! Selamat menyambut Pentakosta
Soli Deo Gloria 


LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

TAGS

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER