Harapan, Di Manakah Engkau Sekarang?

Going Deeper, God's Words, 14 April 2020
"Harapan itu ibarat sauh bagi jiwa. Bagaikan sebuah kapal ketika hendak berlabuh di tengah lautan yang dalam, maka sauh atau jangkar akan diturunkan ke dasar laut, sehingga kapal tidak akan goyah dan terbawa arus lautan yang deras. Demikianlah Harapan. Ia merupakan sauh bagi jiwa kita, sehingga ketika gelombang seperti apa pun menimpa bahkan mendera di dalam kehidupan kita, kita tetap tenang."

Masa Paskah yang berjuta rasa itu telah berlalu, menyisakan banyak cerita baru dalam kehidupan setiap orang yang mungkin tidak akan terlupakan. Saat ini, begitu banyak orang didera kegalauan, kepanikan, kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan hidup, mengalami penderitaan, kehilangan orang-orang yang dicintai, paling tidak kehilangan aktivitas yang dicintai, dan kesemuanya itu berujung kepada keputusasaan. Bencana ini merenggut banyak hal, meruntuhkan banyak ekspektasi, menggoyah kehidupan banyak orang, namun juga sekaligus menunjukkan bahwa manusia itu rentan, rapuh. 

Dalam bahasa Mazmur 103: 15 dikatakan bahwa, 

"Hari-hari manusia itu seperti rumput, seperti bunga di padang, demikian ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka ia tidak ada lagi." 

Di dalam keadaan seperti ini, apa yang sedang kita pikirkan, apakah yang seharusnya kita lakukan? Menurut saya adalah berefleksi, bertanya, "Apakah gerangan semua ini? Di manakah Harapan itu sekarang?"



Banyak dari kita mungkin akan berpikir, “Kok bertanya sama Tuhan, emangnya loe siapa?” belum lagi jika kita bertemu dengan orang-orang yang 'keminter' atau sok pintar, mungkin kita akan langsung dijatuhi hukuman tanpa pengadilan, yah minimal hukuman perspektif, bahwa sebagai ciptaan, tidak seharusnya kita bertanya kepada Penciptanya. Lalu apakah benar demikian? Apakah bertanya itu salah? Tentu tidak. Bahkan dengan tidak bertanya kita telah kehilangan banyak hal. Bertanya itu wajar-wajar saja. Filsuf-filsuf Yunani kuno mengatakan bahwa hidup yang tidak dipertanyakan adalah hidup yang tidak pantas untuk dihidupi. 

Dengan bertanya, kita sampai kepada dalam dan luasnya kehidupan untuk direngkuh oleh kita, yang adalah bunga yang menjadi debu ini. Dengan bertanya, kita akan melihat kehidupan melampaui apa yang nampak saja, melongok kepada misteri kemengertian hidup yang lebih daripada arti itu. Bertanya bukan berarti kita ragu apalagi tidak percaya, bukan pula berarti kita kekurangan iman. Justru karena kita beriman makanya kita bertanya. 

Karena dalam iman itu selalu ada pengharapan dan pengharapan itu tidaklah pernah mengecewakan (Roma 5:5). 

Bertanya juga menunjukkan bahwa kita peduli kepada segala sesuatu, peduli kepada hal-hal yang terjadi di sekeliling kita, peduli kepada yang kepadanya kita bertanya itu. Bahkan akan sangat berbahaya jika kita tidak bertanya dalam kehidupan. Jangan-jangan kita telah kehilangan banyak hal? Jangan-jangan kita telah jatuh kepada fatalistis, apatis, atapun kehambaran hidup?



Jika kita perhatikan Alkitab kita dengan seksama, maka kita akan menemukan bahwa Pemazmur pun banyak bertanya bahkan berkeluh-kesah kepada Tuhan. Pemazmur merasa dekat dengan Tuhan, sehingga keluar ungkapan pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan dari mulutnya (Mazmur 13, 79, 94, dst). Bertanya bukanlah karena kita ragu, bukan pula sebuah dosa, justru ketika seseorang bertanya berarti ia sangat peduli. Mungkin sering kita dengar ungkapan ini “Jika aku diam, tandanya aku sudah nyerah dengan kamu, aku sudah tidak peduli, aku ngomel, bertanya, tandanya aku peduli!

Paskah yang tidak biasa, yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya baru saja kita lewati. Namun apakah kita ingat dengan jelas apa yang terjadi di kayu salib? Keluar ungkapan sebagaimana kebiasaan orang-orang Yahudi ketika mereka berada di dalam kesengsaraan, yakni bertanya. Tuhan Yesus mempertanyakan, 

Eli, Eli, lama sabakhtani? Artinya Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku” (Matius 27: 46).

Bertanya mencari jawaban, bertanya tentang pengharapan. Ini bukanlah momok bagi orang-orang Yahudi ketika itu, bahkan hal itu telah dibuktikan oleh Yesus sendiri di kayu salib. Saya pikir, kebanyakan orang akan setuju, bahwa ketika Yesus bertanya bukan berarti Ia ragu apalagi kurang iman. Ia bertanya, merupakan ungkapan dari kedalaman hati-Nya, karena Ia dekat dan memiliki relasi yang istimewa yang luar biasa dengan Allah. Bagaimana dengan kita? Di tengah kegalauan, kekalutan, kekhawatiran, bahkan kesengsaraan kita, apa yang kita lakukan? Apakah kita datang kepada Tuhan, ataukah semua, hari demi hari berlalu begitu-begitu saja, tanpa adanya refleksi yang mendalam? Jika demikian bagaimana mungkin kita melihat cahaya di dalam kegelapan yang sedang melanda ini? Bagaimana mungkin kita dapat melihat bahwa semua ini bisa jadi sebuah peluang ataupun kesempatan menuju sesuatu perubahan? Apalagi melihat bahwa kejadian ini semua merupakan sebuah kesempatan untuk lebih lagi mencari dan mengenal-Nya lebih baik lagi?



Paskah telah berlalu, Yesus telah bangkit dan menang dari kuasa maut dan dosa. Namun, meskipun demikian, apa yang terjadi kepada murid-murid-Nya? Mereka masih hidup di dalam kegalauan, kekalutan, keputusasaan, bahkan mereka takut untuk keluar rumah. Mereka masih trauma dengan yang terjadi, ketika guru mereka disalib dan mati. Dalam keadaan yang demikian, tentu begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam hati mereka. Sehingga tidak mengherankan ketika Yesus datang, mereka pun terkejut (Lukas 24: 37). Saat ini pun banyak murid-murid Tuhan Yesus yang mungkin sedang mengalami hal itu disebabkan oleh pandemi ini, ataupun disebabkan oleh masalah-masalah kehidupan lainnya. Banyak orang mungkin bertanya, “Harapan, di manakah engkau sekarang?”

Setelah Yesus bangkit, apa yang dilakukannya? Yah jalan-jalan, keliling, ke sana ke mari menunjukkan diri-Nya. Saat ini adalah masa-masa setelah kebangkitan Yesus. Entah kebetulan atau tidak, kita memiliki momen-momen yang sama dengan murid-murid-Nya ketika itu. Jika kita bertanya di manakah Tuhan, di manakah Harapan itu, maka jawabannya adalah di sini dan saat ini. Sebab, Yesus adalah adalah Harapan itu sendiri. Jawaban dari kegalauan, kekalutan bahkan keputusasaan murid-murid-Nya dan juga kita sekalian sebagai murid-murid-Nya juga. 

Ia hadir dan datang menghampiri mereka. Sekarang pun demikian, Tuhan Yesus melalui Roh Kudus pun hadir di dalam setiap hal, setiap kejadian di dalam kehidupan kita tidak pernah terlepas dari campur tangan-Nya. Konon katanya, seseorang bisa kehilangan segalanya, tetapi tidak bisa kehilangan Harapan, sebab ketika kehilangannya maka ia kehilangan hidupnya. 

Harapan itu ibarat sauh bagi jiwa. Bagaikan sebuah kapal ketika hendak berlabuh di tengah lautan yang dalam, maka sauh atau jangkar akan diturunkan ke dasar laut, sehingga kapal tidak akan goyah dan terbawa arus lautan yang deras. 

Demikianlah Harapan. Ia merupakan sauh bagi jiwa kita, sehingga ketika gelombang seperti apa pun menimpa bahkan mendera di dalam kehidupan kita, kita tetap tenang. Yesus adalah sauh bagi jiwa kita, Ia adalah pengharapan kita. Sehingga dalam keadaan bagaimana pun di kehidupan ini, kita akan tetap tenang bersama-Nya. 

            

LATEST POST

 

Kitab suci umat Nasrani terdiri dari 66 kitab (39 kitab perjanjian lama, 27 kitab perjanjian baru)....
by Nuel Lubis | 01 Jun 2020

Ini suara saya yang sekarang melayani di salah satu another liquid place, yaitu dunia pendidika...
by Febrima Yuliana Mouwlaka | 01 Jun 2020

Hai Ignite People, bagaimana kabar kalian semua? Aku berharap kalian semua dalam kondisi yang baik d...
by Kevin J. Darmawan | 01 Jun 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER