Jangan Lupakan Paskah!

Best Regards, Live Through This, 26 March 2020
Jangan lupakan Paskah! Sebab Paskah adalah hari di mana Kristus bangkit dan menjadi dasar pengharapan bagi kita.

Di tengah pandemi yang mungkin masih menghantui masyarakat global, termasuk Indonesia, kita melihat begitu banyak kebijakan yang mau tidak mau harus ditempuh. Mulai dari pembelajaran jarak jauh untuk sekolah dan perkuliahan, bekerja dari rumah, tempat hiburan dan wisata yang ditutup, pusat komersial yang ditutup, termasuk juga peribadahan yang tidak lagi dibatasi gedung gereja. Anjuran awal yang diberikan memang dua minggu untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan kerumunan orang di suatu tempat. Namun, jika melihat perkembangan yang terjadi sepertinya hal ini akan diperpanjang. Beberapa gereja bahkan telah memutuskan untuk menunda kegiatan peribadahan sepanjang bulan April nanti sebagai langkah preventif. Kita bisa sama-sama setuju bahwa ini merupakan langkah berat yang harus diambil oleh gereja.

Photo by Andrew Seaman on Unsplash 

Selain fenomena-fenomena yang tadi telah disebutkan, ketika melihat kepada media, entah itu media sosial, media cetak ataupun media elektronik lainnya kita akan menemukan kampanye yang kian hari ramai digemakan, yaitu #workfromhome, #dirumahaja dan lain sebagainya. Di saat yang bersamaan orang-orang juga memberikan perhatian khusus pada tenaga medis, pegawai bank, driver online, kurir dan para pekerja lain yang harus tetap bekerja demi merawat para pasien, memastikan roda ekonomi tetap berputar, termasuk memastikan kebutuhan kita yang tinggal di rumah tetap bisa terpenuhi. Salah satu kalimat yang umum ditemukan adalah, “We stay at work for you, you stay at home for us.” Kalimat ini ingin mengatakan pada kita bahwa ada orang-orang yang rela membahayakan dirinya demi “keselamatan” kita. Bukankah ini terdengar familiar?

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8)

Ayat ini bukan hanya sekadar social campaign yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Paulus. Ini adalah kebenaran dan kabar sukacita yang disampaikan bagi umat manusia di muka bumi.

Kita menemukan betapa masifnya media menggemakan keprihatinan kepada para garda terdepan dalam menangani pandemi ini. Kita pun ikut prihatin, ikut peduli bahkan tak segan memberikan donasi bagi mereka. Namun di tengah banyaknya kampanye sosial di sekeliling kita, ingatkah kita bahwa kita masih berada dalam masa Pra-Paskah dan beberapa hari lagi kita akan memperingati kematian dan kebangkitan Kristus. Masihkah kita mengingat dan merenungkan makna Paskah di tengah wabah global ini? Atau justru kita sudah terlarut dalam kampanye sosial yang membombardir kita setiap harinya?

Photo by Debby Hudson on Unsplash 

Sekarang memang bukan waktu yang paling nyaman untuk kita bisa beribadah. Bukan pula waktu yang paling ideal untuk merenung. Ada desakan dalam hati untuk bisa berkontribusi bagi dunia ini. Namun jika kita sadar bahwa pengorbanan Kristus di kayu salib adalah untuk keselamatan kita, apa yang sudah kita lakukan bagi-Nya? Kristus tidak menuntut apa-apa dari kita. Lagi pula apa yang bisa kita berikan kepada Dia, bukankah segala sesuatu di alam semesta ini adalah milik-Nya? Setidaknya satu hal yang bisa kita berikan bagi Kristus, yaitu kasih dan kesetiaan kita pada-Nya.

Masa Pra-Paskah yang diawali dengan Rabu Abu bermaksud untuk mengingatkan kita bahwa kita ini berasal dari debu dan abu, dan nantinya kita akan kembali kepada debu dan abu. Pandemi yang sedang kita hadapi ini seharusnya mengingatkan kita bahwa hidup kita ini layaknya uap yang dalam sekejap bisa lenyap. Sebagai orang percaya, kita tidak perlu mengkhawatirkan ketika kita harus meninggalkan dunia ini. Sebab Kristus tidak hanya telah mati ketika kita masih berdosa, tapi ia juga telah menang atas maut untuk menganugerahkan hidup kekal bagi kita.

…Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Korintus 15:54-57)


Photo by Jon Tyson on Unsplash 

Sengat maut yang sejati adalah dosa, bukan sekadar Covid-19 atau virus baru yang mungkin masih akan muncul lagi di masa depan. Kristus telah menang melawan maut dan inilah yang menjadi dasar pengharapan kita. Suatu saat hidup kita akan lenyap, entah itu karena Covid-19 atau penyakit lain atau mungkin kecelakaan dan lain sebagainya. Bukan berarti kita bisa bebas membahayakan diri kita di tengah pandemi ini juga. Sebaliknya marilah kita dengan penuh pengharapan menjalani kehidupan ini.

Jangan lupakan Paskah! Sebab Paskah adalah hari di mana Kristus bangkit dan menjadi dasar pengharapan bagi kita. Selamat menyambut dan merayakan Paskah, walau tidak kita rayakan di dalam gedung gereja.

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER