Apakah Aku Hidup Esok Hari?

Going Deeper, God's Words, 23 March 2020
"Ajarku berdiam, dekat di hati-Mu" sebuah lagu yang mengajak kita menarik mundur dari rutinitas kita sesaat wabah pandemik Covid-19. Banyak hal yang kita bisa petik pada saat keadaan #diRumahAja

Sejak merebaknya Virus Covid-19 di Indonesia, pemerintah menghimbau untuk melakukan social distancing selama dua minggu. #DiRumahAja adalah sebuah tagline yang disuarakan berkali-kali oleh semua orang untuk menggaungkan social distancing demi mengurangi penyebaran Covid-19 ini, meskipun masih ada beberapa perusahaan yang tidak memberlakukan work from home.

Ada beberapa elemen masyarakat yang tetap harus bekerja di luar rumah, misalkan dokter dan tenaga medis yang harus bekerja untuk pasien, ojek online yang bekerja mencari nafkah, mengantarkan makanan hingga mengirimkan paket, polisi dan aparat keamanan untuk menjaga ketertiban selama social distancing berlangsung, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang bersifat vital.



Tidak hanya pekerjaan atau kuliah yang dilakukan di rumah, ibadah pun dilakukan secara daring atau online. GKI adalah salah satu gereja yang memberlakukan ibadah online demi keamanan jemaatnya. Semua hal dilakukan demi mengurangi penyebaran atau pun jaga-jaga agar tidak tertular (walaupun kita tidak tahu bahwa kita pun berpotensi sebagai carrier). 

Hiruk-pikuk kehidupan kita yang selalu sibuk dengan pergi ke kantor, kampus, atau sibuk dengan rutinitas dunia semua berubah sejak adanya pemberlakuan social distancing. Awalnya kita biasa terfokus dengan “gak cukup waktu” akhirnya kita terdiam sejenak karena banyak waktu kosong. 



Ada yang bilang, dunia sudah terlalu lelah dengan manusia sehingga Tuhan memberikan wabah pandemik Covid-19 ini. Sehingga kita diminta menarik diri dari rutinitas kita dan dilakukan di rumah (tetap produktif ya). 


Perihal menarik diri - pernahkah kita berpikir kalau kita sudah jauh dari Tuhan?

Hari-hari yang sibuk, keadaan kita yang sangat sering disibukkan dengan rutinitas wajib yang kadang menyita waktu kita untuk berbicara sebentar saja dengan Tuhan, baik melalui saat teduh atau berdoa sebentar saja kepada Dia kadang kita sering lupakan karena kita sudah terlalu lelah menjalankan rutinitas-rutinitas yang sampai menyita waktu istirahat kita. Hal sederhana yang kadang dilupkan adalah menyisihkan waktu untuk menyapa Tuhan, walaupun kita bisa berdoa dimana saja, kapan saja, dan dengan cara apa saja. 



Namun, pada kondisi ini kita diajak untuk kembali intim dengan Tuhan. Intim untuk merajut hubungan yang sempat renggang. 

Selain hubungan dengan Tuhan, kita juga diajak untuk pelayanan kembali. Meskipun bukan melayani di gereja sebagai penatalayan, namun kita mendukung pelayanan teman-teman yang memiliki fungsi vital seperti tenaga medis, aparat keamanan, dan relawan Covid-19 yang terjun ke lapangan untuk memerangi virus ini. Walaupun dengan berdiam diri di rumah kita sudah melakukan pelayanan kepada mereka yang bekerja sekuat tenaga bahkan merelakan kesehatan mereka demi kita semua. 


Pernahkah kita menghitung berkat-berkat dari Tuhan setiap harinya? 

Saat kita sibuk, kita hanya terfokus dengan target, target, dan target. Kita hanya terfokus untuk mencari, mencari, dan terus mencari atau rencana, rencana, dan rencana, sehingga sering sekali kita mendengar sambatan-sambatan, keluh kesah, kekesalan-kekesalan sampai lupa akan apa tujuan kita bekerja? Apakah untuk uang semata? Atau kita bekerja karena kerja pun adalah bagian dari pelayanan seperti kata Kolose 3:23?

"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."

'Gue butuh kerja karena gue butuh uang untuk hidup, tapi bos gue orangnya otoriter, jarang ngasih libur, dsb.'  

'Gue bosen tiap hari ngantor, tapi gue butuh duit buat makan.'

Sering kan mengeluh seperti itu? Sampai kantor itu menjadi bukan tempat bersukacita, melainkan tempat yang tidak menyenangkan. Nah, untuk yang masih kuliah, kita sering sekali mengeluh tentang dosen kita, bukan? Teman-teman kita di kampus? Skripsi? Tugas? Batal hangout? Dan masih banyak lagi.


Sepertinya hidup kita memang tidak menyenangkan. Hanya saja, respons kita terhadap hal yang tidak menyenangkan inilah yang membawa kita semakin merasa terpuruk dan tidak sukacita. 

Saat #diRumahAja kita diajak untuk merenung; sebenarnya kita sendiri melakukan rutinitas itu tujuannya apa selain memenuhi kebutuhan hidup? Apakah ada yang lain? Pada dasarnya tidak ada pekerjaan yang sempurna dan enak bagi kita sekalian; tapi respons kitalah yang berdampak bagi diri kita sendiri.

Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. - Pengkhotbah 9: 10 (TB)

Kita pun kembali diajak untuk mensyukuri pekerjaan-pekerjaan yang sudah kita pilih dan kita jalani selama ini. 

Bagaimana kalau besok saya mati? 

Covid-19 adalah virus yang memiliki tingkat penularan yang cukup tinggi mencapai 100 kali lebih cepat dari 100 kasus pertama (ourworldindata.org/coronavirus). Meski kita saat ini sehat walafiat kita bisa menjadi carrier  virus tersebut. 

Mungkin untuk sebagian orang akan berkata 

"Halah cemen banget lu! Kita kan punya Tuhan, santai aja kali!"

"Halah parno banget sih lu!"

Pernahkan terpikirkan apa saja yang sudah kita lakukan di dunia ini? Pernahkah kita terpikir akan dosa-dosa kita selama di dunia ini? Kita mungkin bisa berkata Allah kita maha pengampun, namun bagaimana jadinya kalau kita tidak menyadari hal se-simple itu? Atau lebih parahnya, kita tidak merasa memiliki dosa? Sebenarnya apakah hidup kita terbuang sia-sia?



#diRumahAja mengajak kita kembali untuk merenungkan semua perbuatan kita selama di dunia ini, tidak lupa juga akan bertobat secara pribadi kepada Tuhan. Meminta pengampunan dan diubahkan olehNya untuk hari ke depan, yang tidak tahu kita berada di mana.

Pada akhirnya memang kita tidak tahu akan hari esok, kita pun diajak untuk berjaga-jaga dan berdoa. Social distancing ini juga mengajak kita semakin berjaga-jaga beberapa hari ke depan. Tidak hanya untuk hal-hal fisik, namun hal-hal spiritual seperti hubungan kita dengan Allah, memohon pengampunan pribadi, dan sebagainya.


Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” -  Matius 26:41 (TB)


LATEST POST

 

“How Can I Keep From Singing” Merupakan sebuah himne yang kemungkinan besar dikarang ole...
by Eka Gilroy Kharis | 26 Sep 2020

"Play with Life" merupakan tagline yang saya baru tahu dari life simulation game kesu...
by Eveline Meilinda | 26 Sep 2020

Family Drama – tidak dipungkiri bahwa ini merupakan hal yang sudah pasti ada dalam setiap kelu...
by Monica Petra | 26 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER