Saat Saya Menjadi Seorang Suami dan Seorang Ayah

Best Regards, Live Through This, 23 October 2020
Tanyakan pada saya, apa lagu terbaik yang pernah diciptakan di sepanjang abad? Cicak-cicak di dinding. Sebab lagu tersebut sangat ampuh membuat anak saya tertidur lelap.

Jika saya ditanya, mana yang lebih berat menjadi seorang suami atau seorang ayah? Keduanya nampak tidak terlalu sulit. Menjadi suami, menikahlah. Menjadi ayah, milikilah seorang anak. Sebab hakikatnya sebuah peran adalah sebuah konsekuensi dari sebuah tindakan.

Berbeda halnya jika ditanya mana yang lebih berat menjadi seorang suami yang baik atau seorang ayah yang baik? Sesungguhnya keduanya berat. Namun jika harus memilih salah satunya, memilih menjadi seorang ayah yang baik sungguh tidak mudah.

Kebaikan hati seorang ayah sesungguhnya adalah seorang anak yang berbahagia di hari depannya. Sebaliknya, keburukan perilaku seorang ayah sesungguhnya adalah kenangan buruk bagi seorang anak kelak dirinya dewasa.

Bagi pasangan, kebaikan hati seorang suami sesungguhnya adalah tawa bahagia seorang istri pada hari ini. Sebaliknya, keburukan hati seorang suami sesungguhnya adalah tangis lirih seorang istri pada saat itu juga. Sebagai seorang suami, saya akan menuai kebaikan atau keburukan yang saya tuai sekarang, tidak besok atau nanti.

Photo by J Torres on Unsplash

Misalnya, istri saya bisa langsung protes kenapa saya harus berkata kasar serta membunyikan klakson panjang kepada pemotor yang sembarangan bermanuver: “Tet!!!! Punya mata gak loe!” Di saat yang sama, anak saya hanya dapat terdiam kaku ketika teriakan ayahnya menghentak suasana ceria saat dirinya menonton video “Tek Kotek”. Anak saya yang berumur kurang dari dua tahun tidak sanggup protes, apalagi komplain. Ia hanya bergumam: “Pa, pa, pa” dengan tatapan mata kosong dan tangan terkulai lemas karena kaget. Entah berapa lama dia terdiam kaku hingga tablet pun terlepas dari genggaman.

Saya tidak pernah berpikir panjang untuk bagaimana menjadi suami atau ayah di masa depan. Saya selalu berpikir keras untuk bagaimana menjadi suami dan ayah yang baik pada hari ini.

Menyoal pakaian, saya tidak pernah pusing dengan apa yang istri saya kenakan. Pakaian itu katanya soal kenyamanan dan kepantasan. Ketika belum memiliki anak, jeans potongan skinny kerap kali digunakannya. Namun, setelah melahirkan semua ukuran dan model tersebut tidaklah sesuai dengan kondisi tubuhnya. Apa yang paling nyaman sesungguhnya adalah daster atau baju khusus yang memudahkan pergerakannya ketika harus menyusui.

Photo by National Cancer Institute on Unsplash

Lanjut mengenai karir. Selama dua tahun menikah, sudah puluhan kali istri saya berkata ingin berhenti dari pekerjaannya. Alasannya sederhana, mau mengurus anak secara penuh waktu. Lalu saya kembali bertanya, bagaimana dengan panggilanmu merawat dan memulihkan pasien yang terluka sebagai perawat? Mau ditinggalkan begitu saja? Ia terdiam, dan menjawab lirih: “Ya gak sih, tapi aku kelelahan 10 tahun gini-gini aja, kerja shift pagi-sore-malam harus ninggalin kamu dan Duma.” Sering kali pembicaraan soal resign terhenti begitu saja ketika kami berdua kembali teringat bait pertama pujian “He Giveth More Grace”:

He giveth more grace when the burdens grow greater, 

He sendeth more strength when the labors increase; 

To added afflictions He addeth His mercy, 

To multiplied trials, His multiplied peace.

Janji saya kepadanya, “Jika sebagai ayah saya tidak becus mengasuh Duma sewaktu kamu harus dinas, berhentilah kapan saja kamu mau. Akan tetapi, jika saya masih sanggup untuk memandikannya dengan baik, memasak dan memberi makannya dengan baik, hingga menidurkannya dengan lelap, tenang dan fokuslah bekerja, sebab suamimu bisa kamu andalkan sepenuhnya.”

Pekerjaan bukanlah menyoal kenyamanan, tetapi memberi diri untuk melayani dan memikul salib. Sebab tak lama kemudian dia pun harus terisolasi selama 14 hari, terpisah dari anak suaminya oleh karena terindikasi positif Covid. Tidak bisa lagi menyusui, apalagi sekadar bertemu dan bercanda. Terpisah total dengan anak perempuan yang begitu dikasihinya.

Photo by freestocks on Unsplash

Ada fakta menarik lainnya. Banyak yang tidak tahu kalau ia adalah wanita “bertato”. Ia memiliki tato sayatan melintang sepanjang 10 cm di perutnya. Tidak kalah keren dengan tato yang hanya mengandalkan torehan warna menggunakan suntikan tinta melalui media jarum. Tatonya dibentuk oleh potongan melintang pisau tajam menembus kulit dan daging dan dijahit sekitar 7 lapisan mulai dari kulit perut sampai dinding rahim yang akan dijahit satu per satu demi usaha penyelamatan seorang jabang bayi. Awalnya dia mengeluh perutnya gak karuan bentuknya. Tetapi setelah beberapa waktu, terlihat keren juga! Menjadi luka sayatan manis yang bisa kami kenang selamanya.

Sebagai seorang ayah, saya tidak pernah tahu akan menjadi apa anak perempuan saya kelak. Proyeksi paling dekat, ya gak jauh dari profesi mamanya, seorang perawat. Tidak menjadi penting barang apa yang dia sukai untuk dimainkan. Boneka cantik atau mobil balap tidak menjadi soal. Namun, nampaknya dia lebih menyukai sapu, pel, dan serokan daripada mainan yang kami belikan. Sebab, saban hari ia melihat ayahnya memegang alat bersih-bersih, alih-alih memainkan kontrol stik video game. Apa yang menjadi penting adalah teladan dan didikan, bukan mainan yang diberikan.

Perihal asmara putri saya, jujur saya tidak sanggup memikirkannya sekarang. Entah dia terpikat dengan siapa, pacaran dengan cowok mana, hingga menikah dengan lelaki mana yang melamarnya dengan cakap. Hal terdekat yang sedang saya pikirkan ialah bagaimana membuat bagaimana pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya sesuai grafik pertumbuhan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Paling jauh ya saya memikirkan bagaimana mempersiapkan biaya pendidikannya kelak. Dua hal itu saja sudah membuat uban saya bertambah.

Photo by JD Mason on Unsplash

Menyoal standar pemahamannya soal kecantikan sebagai perempuan, biarlah ibunya yang punya urusan. Kalau saya ya tahunya cantik itu dan seksi kalau gak Andhara Early, ya Sophia Latjuba (kalau kalian pada kenal, salaman dulu berarti umur kamu udah kepala 3). Sejauh yang saya amati, keteladanan ibunya dalam hal memandang dan mengaplikasikan kecantikan sudah menjadi standar yang tepat menjaganya hingga dewasa kelak.

Dari semua ini, saya hanya ingin berpesan kepada para pemuda yang sedang memikirkan menjadi seorang suami dan juga seorang ayah. Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu. Peran seorang anak ialah hidup taat dalam sikap hormat kepada kedua orang tuanya. Setiap peran memiliki waktu dan saatnya. Tidak salah belajar menyoal peran yang akan kamu jalani di masa mendatang. Hanya, pelajarilah dalam hikmat dan takut akan Tuhan, bukan hanya berdasarkan khayalan ataupun bualan pemikiran. Sebab, seorang pilot yang cakap dilatih menggunakan pesawat sungguhan, bukan sekadar penerbangan dalam simulasi digital.

LATEST POST

 

"Ayo, kita naik gunung bersama!" Demikian beberapa teman mengajakku, dan aku menyetujuinya...
by Olyvia Hulda | 05 Dec 2020

Satu lagi karya ajaib buatan tangan Tim Dapur Visinema yang diberkati dengan kreativitas tanpa batas...
by Grifith Mercia | 05 Dec 2020

Note: Silahkan membaca Part 1 dan Part 2 terlebih dahulu.Kini kita telah memasuki bagian akhir dari...
by Alviedo Yuda | 05 Dec 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER