Hindari "Cuci Tangan" Sejak Dini! (1)

Best Regards, Fiction, 23 May 2019
Kalau memang ada yang salah, coba dilurusin. Cari tahu juga bener nggak yang kalian omongin tadi—atau malah salah. Jangan terbiasa nuduh orang lain!


Jarum jam telah menunjukkan pukul 11 malam, tapi aku masih saja mengobrak-abrik kamarku. Bahkan laci meja yang jarang dibuka juga menjadi sasaran operasi penggeledahanku. Tetap saja hasilnya nihil. Akhirnya, aku cuma bisa terduduk lemas di dekat mejaku, mengutuki diri sendiri yang gagal menemukan target operasiku.

Andai saja chat itu tidak ada, mungkin sekarang aku sudah terlelap sambil memeluk Bubu, boneka beruangku. Cukup dengan tiga kalimat saja, perutku berhasil bersalto puluhan kali.

Jane, besok Minggu tolong bawa uang persembahannya ya. Nanti mau aku kasih ke kantor gereja. Makasih. - Edward”

Duh, kirain dia mau PDKT atau apa, pikirku saat membaca chat dari Edward—salah satu pengurus di komunitasku. Benih-benih rasa bersalahku pun bersemi lagi setelah membaca chat-nya itu.

Well, apakah kalian masih belum paham? Aku telah menghilangkan uang persembahan dari komunitasku. Aku sendiri juga tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Memang sih, aku yang membawa uang persembahan itu minggu lalu, sebelum aku berikan ke Yaya—bendahara selain aku. Tapi entah bagaimana ceritanya, Yaya bilang ke aku kalau uangnya belum aku berikan kepadanya. Ya gitu, deh… Jadi simpang siur, kan? Hedeh.

Saking takutnya aku kalau dituduh tidak bertanggung jawab, aku memutuskan untuk tidak datang ke persekutuan hari ini. “Sakit,” kataku ke Edward lewat chat tadi sore. Eh, siapa yang menyangka kalau Edward mengirimiku chat “maut” setelah itu!?

Oh my gosh! Apa kata Edward kalau aku bilang bahwa Yaya yang membawanya? Bagaimana kalau Yaya bertemu kami dan malah menuduhku balik kalau aku belum menyerahkan uang itu?

Entahlah. Aku bingung besok harus bersikap seperti apa.


***

"Jane!"

Panggilan barusan membuat jantungku berdebar tidak karuan, sekaligus membuatku mual. Tapi karena dia tetap mengulang panggilannya, akhirnya aku menoleh ke luar kerumunan jemaat yang baru saja keluar dari gedung gereja. Aku bisa melihat Edward sedang melambaikan tangannya di sisi kiri kerumunan ini, sehingga aku memutuskan berjalan ke arahnya. Okay, the show must go on.

“Eh… Hai, Ed,” kataku sambil meringis. Kami menyingkir dari keramaian, lalu duduk di kursi di dekat kantor gereja.

Edward nyengir sejenak, lalu bertanya, “Kamu sakit apa, sih? Udah mendingan belum?”

Aku hanya bisa menyunggingkan senyum sumbang, bingung mau jawab apa. Hampir saja Edward meletakkan tangannya ke atas dahiku kalau Yaya tidak menghampiri kami. Pfft.

“Hei Edward, Jane!” sapanya ceria. “Cieciecieee…. Kalian kayak udah pacaran aja, nih!”

Aku cuma bisa ketawa, sedangkan Edward tersenyum kecil. Tanpa ba-bi-bu lebih lama, cowok itu langsung membahas topik utama kami, “Jane, uangnya kamu bawa, kan?”

Aku menggelengkan kepala. “Nggak. Yaya kok, yang bawa. Udah aku kasih ke dia minggu lalu, setelah persekutuan.”

Giliran Yaya yang menyahut, “Lho, uangnya kan, aku balikin ke kamu gara-gara kemarin Sabtu aku nggak bisa dateng ke persekutuan, jadi aku nggak bisa kasih uangnya ke Edward juga.”

Kan, minggu lalu aku juga bilang, ‘Nggak apa-apa, Ya. Waktu kebaktian minggu depan kan, juga bisa kamu kasih ke Edward’,” tambahku.

“Tapi uangnya sekarang nggak ada!” kata Yaya.

Lho, kok bisa!?” tanyaku panik.

Nggak tahu! Pokoknya kamu yang salah!” Bukannya menjelaskan alasannya, Yaya justru menudingku.

Lah, aku udah kasih uangnya ke kamu, lho! Jadi bukan aku yang salah!!”

“Woi!” Edward berteriak. Untung saja tidak ada orang yang lewat di depan kami.

“Kalian ini, kan pengurus. Harusnya bisa dipasrahin tanggung jawab, dong! Jangan cuma bisa nyalahin!”

Aku dan Yaya langsung berhenti berdebat saat mendengar teguran ketua kami itu.


Edward melanjutkan kalimatnya, “Introspeksi diri kalian dulu, gih. Kalau memang ada yang salah, coba dilurusin. Cari tahu juga bener nggak yang kalian omongin tadi—atau malah salah. Jangan terbiasa nuduh orang lain!”

Setelah Edward berkata begitu, Yaya langsung pulang tanpa pamit. Kurasa dia tersinggung saat Edward berkata seperti itu. Aku pun juga langsung meninggalkan Edward, setelah berkata “maaf” kepadanya.


***


Well, aku tahu kalau kekonyolan ini harus dihentikan. Tapi bagaimana caranya?

(Baca bagian kedua untuk menemukan jawabannya)

LATEST POST

 

*in collaboration with Olivia Elena HakimSepanjang tahun 2016-2019, kita kerap membaca berita t...
by Ari Setiawan | 18 Sep 2019

Sebagian besar di antara kita menginginkan bisa berada di tempat yang kita inginkan atau kita impika...
by Aditya Seto Nugroho | 18 Sep 2019

Hai Gereja, bagaimana kabarnya? Kulihat wajahmu semakin banyak rupa Masihkah engkau setia membawa su...
by radith trinanda | 18 Sep 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER