Resolusi, Aku dan Tuhan: Melanjutkan Pencarian di Tahun 2020

Going Deeper, God's Words, 13 January 2020
Biarkanlah Tuhan bekerja seluas-luasnya dalam hidupmu


           “Apa resolusimu tahun ini?”

Sebuah pertanyaan yang sangat sering kita dengar memasuki pergantian tahun. Saya memberikan pertanyaan ini kepada seorang sahabat saya. Jujur, jawaban yang saya sangka akan ia berikan adalah resolusi-resolusi yang biasa dan bersifat objektif. Tetapi, jawaban yang sahabat saya berikan adalah jawaban yang sama sekali tidak saya sangka. 

           “Membiarkan Allah bekerja seluas-luasnya dalam hidupku”

Itulah jawaban yang ia berikan, dan jawaban itu sungguh menegur dan mengingatkan saya bahwa seringkali saya melupakan Allah dalam hal-hal yang saya lakukan dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya tidak menjadikan Allah sebagai fokus utama saya memasuki tahun yang baru ini. Saya hanya berfokus pada goals yang ingin saya capai tanpa menyadari bahwa saya kehilangan satu hal yang paling penting. Saya melupakan Allah.

“Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Pergilah, berjalanlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah kaupimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan dengan sumpah kepada Abrahan, Ishak, dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmulah akan kuberikan negeri itu – Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu dan akan menghalau orang Kanaan, orang Amori, orang Het, orang Feris, dan orang Hewi dan orang Yebus – yakni ke suatu negeri yang berlimpah susu dan madu, sebab Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, supaya aku jangan membinasakan engkau di jalan.” (Ulangan 33:1-3.)


Photo by Guilherme Stecanella on Unsplash

Ini adalah kisah tentang Musa yang meminta penyertaan Tuhan. Dalam pasal sebelumnya (Ulangan 32) kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel menyakiti hati Tuhan dengan membuat untuk mereka allah lain - berupa anak lembu emas - untuk memimpin mereka keluar dari tanah Mesir. Tuhan tidak mau menyertai bangsa Israel keluar dari tanah Mesir karena perbuatan mereka terlanjur menyakiti hati Tuhan dan ketika bangsa Israel mendengar ancaman yang sangat mengerikan itu, berkabunglah bangsa Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang memakai perhiasannya. Bangsa Israel melepas semua perhiasan yang ada pada mereka, karena perhiasan itulah yang mereka gunakan untuk membuat anak lembu emas sebagai allah mereka (Ulangan 32:2-5).


Namun Tuhan telah berfirman memberikan tanah Kanaan kepada bangsa Israel dan Tuhan sekali-kali tidak pernah – dan tidak akan pernah – mengingkari janji-Nya. Oleh karena itu, Tuhan menawarkan kepada Musa seorang malaikat untuk menyertai Musa dan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dan menuju ke tanah perjanjian. Namun Musa menolak tawaran yang diberikan Tuhan berupa malaikat untuk menyertai mereka sampai ke tanah perjanjian, dan lebih memilih berjalan bersama dengan Tuhan, walaupun Musa tahu kalau Tuhan akan “membinasakan” bangsa Israel.


“Memang Engkau berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa ini berangkat, tetapi Engkau tidak memberitahukan kepadaku, siapa yang akan Kauutus bersama-sama dengan aku. Namun demikian Engkau berfirman: Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku. Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu.” (Ulangan 33:12-13.)


Photo by Simon Matzinger on Unsplash

Musa tahu apa yang menjadi fokus utamanya, ia tahu apa yang paling penting dalam kehidupannya, dan hal itu adalah pengenalan akan Tuhan. Musa menolak tawaran yang diberikan Tuhan kepadanya, dan lebih memilih untuk berjalan bersama dengan Tuhan dibanding tujuan objektif yang bisa ia capai. Musa tahu bahwa tanah Kanaan bukanlah tujuan utamanya dan ia mau membiarkan Allah yang bekerja dalam kehidupannya.


“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari ada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan telah menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” (Filipi 3:8.)


Jadi, apa yang sebenarnya kita cari? Apa yang menjadi tujuan utama kita? Apa yang paling penting dalam kehidupanmu?


“Apa resolusimu tahun ini?”


Apa pun resolusimu tahun ini, jangan berfokus kepada kesia-siaan belaka. Fokuslah kepada Kristus. Biarkanlah ia bekerja seluas-luasnya dalam hidupmu.

            

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER