Refleksi Setahun Seorang Pengangguran

Best Regards, Live Through This, 02 February 2020
Meskipun kita seorang pengangguran, tetaplah menjadi pengangguran yang elegan.

Mungkin, aku orang yang B aja kalau menghadapi Tahun Baru. Mungkin, aku masuk dalam kategori orang yang menganggap Tahun Baru tidak identik dengan resolusi, lantaran resolusi bisa diciptakan dan dilaksanakan setiap saat tanpa momentum khusus. Tapi, bukan berarti aku kehilangan empatiku karena sibuk dengan hidupku. Tidak mungkin. Karena sedari kecil aku meniru alm. Oppung yang selalu bertindak welas asih dengan lingkungan sekitar. 

2019

Aku memang masih berempati dengan lingkungan sekitarku. Hanya saja, aku tidak dapat menyalurkan empatiku terhadap sekitarku. Karena, aku pengangguran. Sedih yah? Banget coy! Sehingga, aku tidak sesering dulu waktu masih kerja dalam hal berbagi. Boro-boro berbagi dengan orang lain, sehari-hari aja masih minta emak. Sungguh miris. 

Saking penganggurannya, aku pernah ‘diinterogasi’ 4 orang sanak saudaraku yang sungguh killer terkait arah hidupku. Tentu saja, aku orang yang tidak pernah merencanakan apapun dalam kehidupan ini, gelagapan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan sanak saudaraku itu. Aku dinasihati untuk pergi ke Jakarta karena disana lebih dihargai dalam hal cuan dibanding di Bandung, kalau ngekos biaya hidupnya mahal, bisa tinggal di rumah orang tua di Cikarang. Walhasil, aku tidak bisa tidur 2 hari dan hanya meringkuk di kosan karena ‘overloading nasihat. Aku diduga betah di Bandung karena bisa nongkrong. Padahal, tidak seperti itu, aku mempertimbangkan kalau aku sudah pindah kosan ke Jakarta dan nyari kerja di Jabodetabek-Bandung, tapi nyatanya keterima kerja di Bandung, pindahan kosan itu adalah hal yang membuang tenaga dan boros ongkos. Apalagi ngekosnya di Jakarta yang biaya hidupnya bikin keringat dingin. Kalau tinggal di rumah orang tua, malu aku pengangguran. Mending mendekam di kosan, sendirian, menyepi, jauh dari pertanyaan ini itu sambil lamar kerja yang di daerah Jakarta sebagai jalan tengah keinginan seluruh keluarga dan kesanggupanku.

Dalam masa pengangguranku, aku ambil pendidikan profesi advokat, sambil magang yang diupahi uang makan siang dan ongkos yang kadang ada kadang juga tidak. Kira-kira kalau dirupiahkan aku diupahi Rp. 35.000,- / hari. Aku frustasi dengan kehidupanku ini. Aku hanya bisa berdoa untuk dikuatkan Tuhan. Aku merasa lega setelah berdoa, tapi aku juga kian tertekan dan depresi di perhadapkan dengan lingkunganku.  Dalam telutku, aku berseru pilu meniru Kristus pada Matius 27:46

Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”



Aku sering hanya diam dan menangis, bahkan aku muntah, apabila aku sedang berdoa akibat tertekan. Puji Tuhan, aku tidak sendirian. Aku punya teman yang aku anggap abangku sendiri, seorang yang lebih lama penganggurannya, yang selalu menghiburku kala aku sedih meraung-raung. Aku pun didekatkan dengan orang baru yang energik, memiliki aura yang positif yang memampukan aku untuk bisa tetap optimis dan bersyukur di titik terendah hidupku. Mungkin, Tuhan yang mengutus. 

2020

            Karena aku didekatkan dengan orang yang membawa aura positif dan optimisme, aku merespon tahun 2020 dengan resolusi kecil, bangun lebih pagi meskipun terseok-seok, lebih mengasihi diri sendiri, belajar bersyukur dari orang yang lebih menderita dari aku, dan yang terutama menemukan pekerjaan dan tidak tergantung dengan orang tua lagi. 

            Suatu hari, aku dipanggil psikotest di salah satu perusahaan di Bandung yang tidak begitu tenar. Tapi, aku gugur. Karena, aku gak bisa (tepatnya, lebih ke benci) matematika. Karena, lokasi perusahaan itu dekat dengan kuburan alm. Oppungku, kusempatkan ziarah ke makam beliau. Aku nangis di kuburan, karena gagal masuk kerja akibat matematika. Tapi, aku membaca salah satu ayat yang mengingatkan aku di titik terendahku sebagai pengangguran, yaitu Mazmur 90:1

            “Doa Musa, abdi Allah. Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun”

Akhirnya, sambil menangis tersedu-sedu, aku baca satu perikop ayat itu. Di kuburan, aku minta ampun sama Tuhan atas segala dosa-dosaku. 


            Ketika aku sampai di kosan, aku ada panggilan tes online di salah satu BUMN, tapi yang paling membuat aku bersorak dengan riang ialah, aku diundang wawancara kerja untuk Magang Advokat di Jakarta. Setelah melalui seluruh drama-drama pencari kerja. Akhirnya, Tuhan mengizinkan aku magang di salah satu Kantor Hukum di Jakarta dengan pendapatan jauh lebih manusiawi di banding rata-rata orang magang di Jakarta. Jujur, aku terharu. Aku makin nangis kalau inget dosa-dosa aku sepanjang hidup. Tuhan amat baik.


Kesimpulan

Berdasarkan kisah hidupku sepanjang tahun 2019 sampai awal 2020 ini, aku mau berbagi beberapa hal untuk teman-teman semua:

  1. Planning atau Rencana dan Resolusi adalah hal yang penting. Ini baik, agar hidup ini tidak berlalu begitu saja. Meskipun kita tidak tahu kapan kita menikah atau bekerja. Kita perlu mempersiapkan hardskill dan softskill –nya. Kita perlu memperbaiki kekurangan kita dan menutupnya dengan kelebihan kita. Agar kita lebih siap menghadapi tantangan-tantangan masa depan.

  2. Teori Jalan Tengah. Selalu ada jalan tengah antara kesanggupan kita dan nasihat orang yang lebih tua. Tidak mendengarkan sama sekali dapat membangun pandangan bahwa orang muda adalah orang yang membangkang, kecuali kita mampu menunjukkan bahwa keputusan kita dapat mengharumkan nama kita sendiri terlebih untuk kemuliaan nama Tuhan. 

  3. Berdoa. Sesuntuk apapun dan sedepresi apapun, doa selalu melegakan hati. Lirik lagu Jangan Pernah Menyerah dari Edward Chen berbunyi demikian, “Tuhan tak pernah janji langit selalu biru, tapi Dia berjanji selalu menyertai.”

  4. Meski menganggur, harus ada kegiatan. Hal ini penting, supaya otak kita tidak mati dan tumpul. Apabila malu dengan segala kegiatan organisasi karena sudah bukan waktunya kita untuk organisasi, bacalah buku seenggaknya otak terus bekerja. 

Semangat untuk kita semua!

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER