Tidak Melihat, tetapi Percaya: Agar Peristiwa Kebangkitan Bukan Sekadar Debat Kusir

Going Deeper, God's Words, 01 April 2024
"Kristus sungguh bangkit." Oh, benarkah?

Bagi sebagian besar umat Kristiani, sejujurnya peristiwa Paskah—peristiwa kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang benar-benar sulit dibuktikan. Bahkan jauh lebih sulit dari membuktikan bahwa Yesus pernah lahir, meski kelahiran Yesus Kristus juga memicu banyak sekali perdebatan di kalangan agamawan. Namun, paling tidak peristiwa penyaliban Yesus adalah sesuatu yang validitasnya sedikit sekali diragukan. Artinya, terlepas dari faktualitas detail peristiwa natal, besar kemungkinan bahwa Kristus adalah sosok yang memang pernah menginjakkan kaki di bumi ini.


Kontrasnya adalah betapa banyaknya catatan tentang peristiwa penghukuman Yesus, tetapi sangat minim sumber di luar Alkitab yang menceritakan peristiwa kebangkitan-Nya.


Lalu, bagaimana membuktikan orang bangkit dari kematian?

Ada kemungkinan bahwa kalangan apologet melakukan pembuktian secara peristiwa dan dampak sosial maupun spiritual para murid Yesus. Misalnya, bagaimana para rasul dan para penulis kitab begitu militan dalam pemberitaan Injil. Tentu jika mereka berbohong, untuk apa bukan mempertaruhkan nyawa demi sebuah kebohongan? Bahkan Tomas yang mengaku mencucukkan jarinya sendiri ke dalam bekas paku Yesus itu menjadi seorang pemberita Injil yang cukup militan (konon dia diyakini memberitakan Injil hingga ke India dan mati sebagai martir).


Peristiwa Thomas mencucukkan jari lalu menjadi seorang pemberita injil sering dijadikan rujukan bahwa Thomas yang awalnya tak percaya saja jadi percaya malah militan.


Argumen populer lainnya adalah ada lima ratus orang saksi mata saat kenaikan Yesus. Mana mungkin ada ratusan orang berbohong atau “halu berjamaah”?


Kenaikan Yesus Kristus juga menjadi salah satu argumen yang sering digunakan, bahwa saksi atas peristiwa itu banyak orang jadi tak mungkin mereka "halusinasi berjamaah"


Atau, deduksi logika bahwa mana mungkin ada batu terguling—yang kalau dinalar saja batu sebesar itu tak mungkin terguling dengan sendirinya tanpa ada huru-hara dan tak mungkin didorong oleh manusia biasa.


"Kubur kosong membuktikan Dia hidup." - Begitulah syair sebuah lagu sekolah minggu yang terkenal


Segala argumen coba dilayangkan untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus benar-benar bangkit. Tentu saja, saya pun tertarik dengan argumen-argumen ini dan menghargai upaya Ignite People yang berhasil memancing rasa penasaran bahwa benarkah di abad pertama, ada Seorang yang bangkit dari kematian dan secara badani naik ke atas langit. Walaupun demikian, saya sendiri juga sadar, apa pun argumen yang dilempar, akan selalu ada celah untuk meragukan validitas argumen itu. Jika beberapa waktu lalu kita meributkan soal direct evidence/indirect evidence pada saat viral kembali film "Ice Cold", maka peristiwa kebangkitan lebih banyak indirect evidence-nya yang membuatnya sulit dibuktikan.


Indirect evidence (also called circumstantial evidence) is a fact or set of facts that, if true, allow jurors to infer the fact at issue. Examples include:

  • an eyewitness in a murder case who saw the defendant running from the crime scene
  • security camera video showing a robbery suspect in the vicinity of the crime scene
  • threatening emails by the defendant to a stabbing victim
  • the defendant’s browser history revealing a search for “how to commit insurance fraud”

(sumber: https://www.shouselaw.com/ca/blog/direct-evidence-defintion/)


Membuktikan Sesuatu yang Ribuan Tahun Lamanya: Nyaris tanpa Jejak

“dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu" - 1 Korintus 15 : 17 (TB)

Ucapan Rasul Paulus diatas adalah pegangan mayoritas orang Kristen. Statement ini tentu saja sangat keras dan kalau bahasa kekiniannya berbunyi, “Gue jamin, beneran terjadi, iris kuping gue, kalo Kristus nggak bangkit elu pada masih hidup dalam dosa.” Namun, kita enggak bisa menjadikan sepotong kalimat ini sebagai pembuktian. Tentu saja untuk benar-benar membuktikan secara objektif kita harus punya tools yang memadai. Sayangnya, peristiwa itu sudah lewat ribuan tahun dan pada zaman itu teknologi modern seperti sekarang belum ada. Artinya, membuktikan bahwa kubur itu benar-benar kosong dan terguling batunya pada peristiwa malam itu sangat sulit tanpa foto atau videonya. Bahkan catatan sejarah pun kurang kuat untuk peristiwa kebangkitan dan penampakan diri Yesus selain catatan para murid sendiri.

Lalu, sesuai pernyataan Paulus tadi, bagaimana jika Kristus tidak benar-benar bangkit? Apakah iman kita sia-sia?


Memaknai ulang "Tidak Melihat, namun Percaya"

Sejatinya, pesan yang cukup powerful dan menggelitik ketika Tomas bertemu Yesus yang bangkit adalah 

“Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. w  Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." - Yohanes 20 : 29 (TB)

Bagi saya, pesan ini bukanlah teguran untuk Tomas. Bukan pula ajakan untuk ya-sudah-main-percaya-saja. Pesan singkat ini akan saya baca sebagai upaya Yesus menjembatani kaum yang pinisirin dan kaum yang “sekeaar percaya” :

“Baguslah kalau rasa penasaranmu itu terjawab, tapi besok-besok orang nggak akan ketemu gue nih. Jadi mereka akan terus penasaran dan mencari. Kalau akhirnya mereka percaya, ya berbahagialah mereka.”

Bagi saya, Yesus ngerti bahwa sepanjang sejarah peristiwa kebangkitan-Nya akan terus jadi misteri. Tetapi dalam misteri itulah, iman itu justru bergelut, hidup, dan berbahagia. Saya menganggap Yesus sendiri cukup “usil” memberikan PR besar pada para murid dan pengikut-Nya dengan tak meninggalkan sedikit pun jejak.

Atau, barangkali justru bagi Yesus, "fakta kebangkitan" itu tak pernah lebih utama daripada "makna kebangkitan"?


Signifikansi Spiritual

Berita bahwa Yesus beneran bangkit atau tidak itu akan selalu menjadi misteri—kecuali suatu saat kita bisa berwisata religi memakai mesin waktu ke abad pertama di Timur Tengah saat peristiwa itu terjadi. Benda-benda relik pun sebenarnya masih diperdebatkan juga validitasnya. Namun, apakah kisah kebangkitan punya makna spiritual yang mendalam? Itu jelas tak perlu diragukan.

Kisah Yesus yang mati dan bangkit akan selalu menjadi sebuah pengharapan dalam peziarahan iman orang Kristen, bahkan salah satu sentral teologi yang penting. Konstruksi teologi Kristen sepanjang zaman juga tak pernah lepas dari bagaimana memaknai hidup dan pelayanan Kristus - sesuai yang tercatat pada kitab suci.

Barangkali, memaknai kebangkitan secara faktual mungkin penting bagi pengikut Kristus zaman itu yang dipersekusi oleh otoritas Romawi. Sebengis-bengisnya penguasa, pengikut Kristus adalah orang yang tahan banting dan tidak tunduk pada tirani penguasa. Bahkan hingga saat ini pun, di wilayah-wilayah dengan tingkat penganiayaan orang Kristen yang tinggi, iman mereka terus diuji dan tidak sedikit yang membuktikan bahwa mereka beriman dengan setia kepada Kristus sampai tetes darah terakhir (Minbi: silakan cek seri "Hard to Reach" dari Radical dan Voice of Martyrs USA sebagai contoh media yang menceritakan kisah orang-orang seperti mereka).


Barangkali, melihat Yesus bangkit secara fisiklah yang membuat pengikut-Nya pada masa itu mendapatkan kekuatan baru, yakni sebuah resiliensi perlawanan terhadap otoritas Romawi dan elit-elit agama saat itu.



Ruang Antara: Di tengah-tengah Skeptisisme dan Percaya secara Buta

Ketidaktahuan itu adalah sebuah dorongan untuk selalu terbuka dan mencari. Karena pada momen kita merasa sudah tahu, selesai sudah pertumbuhan kita, dan yang terburuk tentu saja pertunjukan arogansi rohani tentang validitas kebenaran iman. Bukankah malah ini jadi kontra-produktif?

Yang sebaliknya juga tak selalu baik. Saya percaya bahwa iman proses pencarian kebenaran itu adalah bagian dari perjalanan iman, dan ketika kita main "percaya saja". Bukankah kita juga sama saja dengan yang merasa sudah cukup bukti? Bahwa kita sadar kita tidak tahu apa-apa, lalu kita malas mencari tahu juga.

Ruang antara—yang mencari dan yang tidak mencari, antara yang ngotot membuktikan dan tidak mau tahuitu juga harus selalu ada dalam perjalanan iman. Jangan-jangan, dalil Paulus justru dapat kita mengerti sebagai ruang antara faktual dan spiritual: bahwa Yesus memang benar bangkittetapi jika "kebangkitan" itu tak juga menubuh dalam diri kita, maka seluruh kegiatan keagamaan kita pun sia-sia, dan kita tetaplah hidup di dalam dosa tanpa merengkuh kebenaran!

Jadi, mari terus merayakan Paskah sebagai kaum yang disebut “berbahagia karena tidak melihat, tetapi percaya”. 


Selamat Paskah, Selamat beriman dalam ketidaktahuan.

LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER