Gratefulness in the Sorrow

Best Regards, Live Through This, 08 July 2021
Sometimes, we can only see all the amazing blessings God has given us when we are at our lowest point.

Akhir-akhir ini, saat membuka media sosial apa saja, rasanya isinya 99% berita buruk. Si A butuh donor, si B juga, si C butuh oksigen, lalu ada si D butuh kamar rumah sakit. Belum lagi tambahan kasus yang pecah rekor terus setiap hari. Dalam kondisi seperti ini, mudah banget buat kita merasa takut. Namun, apakah kita masih bisa merasa bersyukur setiap harinya?


I recently experienced the worst of all too. Papi dipanggil Tuhan belum lama ini, dan semua terjadi dengan sangat cepat. Somehow, meski ada rasa sedih dan khawatir, yang lebih banyak kurasakan justru gratefulness. Yes, I’m grateful for my every life season, khususnya tentang Papi yang tiada. Kenapa begitu?


Sedikit latar belakang, aku anak tunggal dari keluarga yang secara ekonomi pas-pasan aja, dan aku tinggal di kota yang berbeda dari orang tua karena pekerjaan. Entah kenapa, mulai awal tahun 2021 ini, seringkali aku kepikiran dengan masa depan. Setelah ini tinggal dimana, uang darimana, kerjaan jadi gimana, dan sebagainya. Sampai-sampai aku sempat sangat anxious dan akhirnya breakdown, plus fisikku juga terkena efeknya: maag berkepanjangan. Namun, masa breakdown itu sudah berlalu. Walaupun aku masih bingung dan memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, tapi setidaknya pikiranku sudah lebih bisaterkendali. 

Tengah tahun ini, rencana aku akan pulang ke rumah saat libur Lebaran dan izin work from home (WFH). Namun, dengan larangan pemerintah, akhirnya tidak jadi. Tiba-tiba, di suatu malam, aku dapat info kalau temanku ada yang akan naik mobil ke kota tempat orang tuaku tinggal besok paginya dan menanyakan apakah aku mau ikut. Sangat mendadak, tanpa planning, tapi aku akhirnya dapat izin untuk pulang dan WFH. Besok paginya, aku langsung tancap gas dan pulang. 


Photo by Prasesh Shiwakoti (Lomash) on Unsplash


Singkat cerita, aku sudah kurang lebih 3 minggu di rumah, dan sudah hampir pulang ke indekos lagi untuk work from office (WFO). Namun, dengan kasus yang terus meningkat, akhirnya aku diperbolehkan tetap WFH. Di hari yang sama, tepatnya pada malam hari, saat Papi pulang dari kantor, beliau menceritakan bahwa di kantornya ada yang positif. Maka, langsung mulai malam itu Papi melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah, tidak menunggu lagi hasil PCR atau apapun. Beberapa hari kemudian, Papi melakukan swab PCR dan ternyata betul bahwa beliau positif. Tapi puji Tuhan, beliau hanya bergejala ringan. Namun, di hari Minggu pagi, saat saturasi oksigen papi diperiksa, ternyata justru dropdan nilainya sangat rendah. Akhirnya, kami membawa Papi ke rumah sakit dan puji Tuhan (lagi) beliaumendapatkan kamar! Padahal dimana-mana RS penuh dan sangat sulit mencari kamar kosong. Malam harinya, suster memberitahu bahwa keadaan papi membaik dan saturasi oksigennya sudah naik. Aku dan Mami seharusnya bisa tidur dengan cukup tenang malam itu. Namun entah kenapa, kami tidak bisa. Kami bergantian bangun pada malam itu karena gelisah. Ketika bangun pada keesokan paginya, kami mendapatkan telepon dari RS bahwa Papi sudah tidak ada. 


Kaget? Banget! Nangis? Pasti. Bingung? Jelas. Namun, tidak ada sama sekali rasa marah, kecewa, tidak terima, atau penyesalan. Justru yang kemudian aku rasakan setelah fakta-fakta itu meresap adalah rasa syukur. Selama Papi sakit, secara tidak sadar aku sering berdoa, "Apapun yang terbaik, ya, Tuhan, kuatkan aku dan Mami." Tapi aku tidak sadar sama sekali. Setelah kalimat itu terlontar, pasti aku merasa kaget dan bingung, "Kenapa aku berdoa seperti itu? Kok seperti berharap yang enggak-enggak?" Anehnya, ungkapan itu terulang beberapa kali. Lalu kalau dipikir-pikir lagi, Tuhan sudah memberikan padaku satu bulan terakhir di rumah untuk bisa menghabiskan waktu dengan orang tua, dan membantu menjagai Papi. Papi masih bisa dapat pertolongan di RS, dan Papi tidak merasa sesak atau sakit yang berkepanjangan. Tidak hanya itu, ada begitu banyak orang di sekitarku, komunitas-komunitasku, yang langsung dengan sigap reach out,dan mau bantu. Mendoakan, menanyakan kabar, dan membantu—bahkan dalam hal terkecil. With all of that, how can I not be grateful? 


Masih ingat dengan awal kisahku ini? Tuhan sudah mempersiapkan aku sejak awal tahun untuk mulai memikirkan masa depan. Jadi sekarang, saat diperhadapkan dengan kenyataan ini, aku sudah tidak terlalu kaget karena harus membuat keputusan untuk masa depanku dan Mami. Tuhan juga sudah mempersiapkan aku dan Mami untuk kondisi yang terburuk tanpa aku minta. Bahkan Tuhan sudah memberikan aku kesempatan juga di rumah selama satu bulan, sementara sebelumnya aku berpikir bahwa aku tidak jadi mendapatkan kesempatan untuk pulang! Ditambah lagi, Tuhan juga mengelilingiku dengan orang-orang dan komunitas yang begitu luar biasa sehingga aku tidak perlu berjuang sendirian. 

What is there to be ungrateful of? 


Bisa saja aku merespon dengan rasa marah, menyalahkan kantor Papi, menyalahkan rumah sakit, atau apapun itu. Namun,kalau aku melakukannya, untuk apa? Aku yang semakin rugi.


Photo by Gabrielle Henderson on Unsplash



Teman-teman, apapun yang sedang kalian alami, baik atau buruk, bersyukurlah.I know this can be a cliché, tetapi Tuhan tetap mengizinkan kita untuk mengekspresikan emosi apa saja yang kita rasakan (so it’s okay to be honest with your feeling). Walaupun ada kalanya tidak mudah, mari kita tetap mengingat dan percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah dan Tuhan selalu baik, karena rencana-Nya adalah yang terbaik bagi kita. Dia tidak akan memberikan suatu masalah yang diluar kemampuan kita. Yang perlu kita lakukan adalah bersyukur, berserah, percaya pada-Nya, dan do our part as best as we can. Apakah semuanya itu akan membuat kita ga bersedih lagi? Tentu tidak, tapi prosesnya akan terasa lebih mudah karena kita bersedia menjalani masa-masa suram bersama-Nya dengan hati yang lapang dada. 


Semua kembali lagi ke kita: apakah kita mau mempunyai kacamata yang negatif atau justru kacamata yang positif? 


Jika demikian, apakah kita masih bisa merasa bersyukur setiap harinya? Bisa! Seperti yang aku tuliskan di atas, Tuhan tidak pernah salah dan Dia adalah Allah yang baik dan selalu memberikan yang terbaik bagi kita anak-anak-Nya. Tuhan mengasihimu, jadi tetaplah percaya, ya Y


LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER