Natal: Momen "Menggugat" Allah yang Kuat

Going Deeper, God's Words, 20 December 2019
Ia adalah Allah yang terlibat di dalam pilihan-Nya untuk menjadi rentan bersama kita, menjadi rapuh di dalam kerapuhan kita, dan menjadi menderita bersama dengan kita.

Dalam hidup, tentu kita pernah mendapati momen ketika mengalami kepahitan. Tak jarang pula kita mencari penghiburan untuk menutupi kesedihan alih-alih menghadapinya. Berbagai cara—mulai dari sekadar bermain gadget, nongkrong dengan teman sampai tiba-tiba jadi orang super sibuk—dipakai untuk menghindari waktu-waktu rawan rapuh, yaitu ketika sendiri. Dunia seakan berteriak kepada kita : “Lupakan kesedihanmu, kawan! Kami ada untuk menghiburmu!”. Akhirnya, kita jadi semakin tergoda untuk tidak terlalu ambil pusing lagi memikirkan apa yang membuat kita sedih. 

Kita terlihat seperti punya alasan untuk melupakannya, padahal kita hanya sedang memolesnya dengan apik di hadapan dunia yang tidak toleran dengan kesedihan. Seolah dunia hanya mau menerima kebahagiaan dan kekuatan, bukan tangisan dan kehancuran. Sehingga, kita hidup dalam tuntutan dunia itu dan bahkan menghidupinya! Kita lebih memilih untuk mendengar “mereka” dan bukan suara hati.

Sadar atau tidak, bukan hanya dunia (dalam arti sekular) yang bisa membuat kita hidup dalam kepura-puraan ini. Gambaran tentang Allah yang kita miliki dapat juga membuat kita menyangkali realita pedih yang kita alami. Di dalam kehancuran hidup, pada umumnya kita meletakkan iman pada gambaran Allah yang kuat, yang sanggup menolong kita yang sedang terpuruk ini. Dengan meletakkan iman kepada Allah yang seperti ini, kita berharap kesedihan dapat segera terselesaikan. Gambaran tentang Allah yang seperti ini tidak berarti salah, satu sisi Ia memang benar-benar dapat membuat seseorang tidak kalah dan akhirnya menyerah dengan situasi yang terjadi, namun dalam hal ini kita semua juga diajak untuk menyadari kerawanannya.

Ia menjadi sebuah teologi yang rawan ketika Ia berubah menjadi sebuah pemahaman tunggal yang sebenarnya hanya dipakai sebagai romantisme spiritual semata. Alhasil, Ia tidak benar-benar menjadi sebuah gambaran yang memberdayakan kita dalam keterpurukan, tetapi membuat kita terus hidup dalam penyangkalan akan keterpurukan. Ia tak lebih dari sekadar pelampiasan spiritual yang dapat mengantar kita pada keterpurukan yang lebih dalam, yaitu ketika situasi hidup justru kian memburuk. Di titik ini, kita justru benar-benar dapat kehilangan iman akan Allah karena gambaran tentang-Nya yang selama ini kita harapkan dapat segera membuat kita menghindari realita hidup yang pedih.

Tamawiwy dalam tulisannya “De Homine Vulnerabilis, De Deo Vulnerabilis” berpendapat bahwa fakta eksistensial di mana manusia merupakan Sein-zum-Tode (ada-yang-menuju-kematian) menyingkapkan kepada kita hakikat kerentanan sebagai bagian yang inheren dalam diri manusia. Namun, doktrin kekristenan telah memposisikan Allah sebagai posisi yang sempurna dan kuat  sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan kelemahan ditempatkan dalam kaitannya dengan kelalaian manusia itu sendiri. Atau paling tidak, kerentanan manusia—yang terkait dengan kelemahan, kegagalan dan keberdosaannya—sering kali dikaitkan dalam sebuah kondisi eksistensial berupa kejatuhan manusia dalam dosa. 

Dengan kata lain, teologi ini sebenarnya menempatkan Allah dalam sebuah status quo yang tidak ramah pada kelemahan manusia. Allah diposisikan sebagai pihak yang tidak terlibat dalam realita ketidaksempurnaan yang dijumpai. Setelah kita melihat bagaimana sisi lain dari teologi Allah yang kuat ternyata dalam beberapa hal tidak ramah terhadap kelemahan manusia, Tamawiwy mengajak kita untuk melihat : Jika Allah yang diyakini oleh kekristenan selama ini adalah Allah yang bertindak dalam ruang dan waktu manusia yang notabene terbatas, bukankah itu berarti kita tidak mungkin menggambarkan-Nya tanpa diri-Nya yang rela menjadi "terbatas" - atau dengan kata lain rentan - dan menderita?

Pernyataan diri Allah melalui inkarnasi Yesus bahkan perlu dilihat sebagai realita yang nyata-nyata kontradiktif dengan gambaran Allah yang seperti itu. Di dalam peristiwa inkarnasi,  Allah justru menjadi rentan bagi kita. Ia memilih palungan sebagai saksi dari peristiwa inkarnasi sekaligus menjadikannya simbol bahwa Ia hadir dalam kerentanan dunia. Di tengah jeritan orang tua yang bayinya mati terbunuh oleh karena tirani Herodes, Ia menyatakan diri-Nya sebagai bagian yang turut menderita. Bersama dengan kelompok rentan yang terdiskriminasi oleh karena sistem politik, sosial, ekonomi, budaya dan religius, Ia justru hadir dan memihak. 

Peristiwa Natal meneguhkan bahwa Ia adalah Allah yang memihak dan mengakui kerentanan manusia. Bahkan di dalamnya, Ia memilih untuk menjadi rentan dan turut menderita bersama yang rentan itu demi sebuah cinta kasih yang hendak dinyatakanOleh karena itu, peristiwa Natal seharusnya mengubah pandangan dan pemahaman kita tentang Dia. Ia bukanlah Allah yang menghendaki kita untuk terus hidup dalam penyangkalan oleh karena termakan teologi yang kita miliki. Ia justru meneguhkan kita untuk mengakui realita kerentanan yang kita miliki, termasuk kerentanan untuk terluka dan rapuh. 

Di dalam pengakuan tersebut, Ia tidak lagi dilihat seperti Pribadi yang berada di luar diri dan realita kita. Ia tidak sekadar menjadi Pribadi yang dalam kejauhan berteriak : “Ayo kamu bisa melewati kepedihan ini”. Tetapi, Ia adalah Allah yang terlibat di dalam pilihan-Nya untuk menjadi rentan bersama kita, menjadi rapuh di dalam kerapuhan kita, dan menjadi menderita bersama dengan kita. Untuk itu, kepedihan apa pun yang kita alami di Natal ini, Ia “berkemah” di dalam keterpurukan kita. Selamat merayakan Natal dalam kerapuhan!


LATEST POST

 

Ketika aku hidup sentosa aku pernah berkata,"Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!"TUHAN,...
by Samuel Semeion | 10 Jun 2024

Jakarta, 4 Mei 2024 – Generasi muda Indonesia, yang mencapai lebih dari separuh populasi, meru...
by Admin | 29 May 2024

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER