Roh Kudus Sebagai Pribadi yang Ilahi Ditinjau dari Yohanes 14:16

Going Deeper, God's Words, 17 December 2019
"Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,"

Saat ini, tidak sedikit jumlah orang Kristen yang meragukan sifat keilahian Roh Kudus dan kesetaraan-Nya dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Bahkan berakhir pada membatasi kemampuan Roh Kudus untuk dapat berkarya dalam kehidupannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Adanya paham Arinianisme sendiri menjadi bukti bahwa topik ini sudah cukup populer di kalangan masyarakat luas. Roh Kudus di dalam sebuah buku yang berjudul “Kitab Suci tentang Roh Kudus” hanya dianggap sebagai roh yang ilahi saja tetapi Ia bukanlah Allah itu sendiri. 

Topik ini pun jadi penting untuk dibahas, karena jika masalah ini dibiarkan berlanjut, maka hal ini akan mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap kedudukan Roh Kudus dalam salah satu konsep utama Kekristenan, yaitu Allah Tritunggal. Terlebih lagi, hal ini akan menghambat pertumbuhan rohani orang tersebut secara pribadi.

Menurutku, Roh Kudus ialah pribadi yang ilahi dan setara hakikat-Nya dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Hal ini didasarkan pada penafsiran singkat John M. Frame di dalam buku Systematic Theology mengenai Injil Yohanes 14:16, Roh Kudus disebutkan sebagai seorang Penolong. Dalam bahasa Yunani, kata “Penolong” ini menggunakan istilah parakletos. Istilah yang sama terdapat pada 1 Yohanes 2:1 untuk menggambarkan Yesus, Lembaga Alkitab Indonesia menggunakan kata “pengantara” untuk mengartikannya. Sehingga Yesus sering dikatakan sebagai “first paraclete.” Parakletos sendiri mempunyai arti seorang pendamping, penasihat, atau pembela.

Photo by Joshua Eckstein on Unsplash

“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” 
(Yohanes 14:16). 

Sesungguhnya dalam bahasa Yunani, frasa “yang lain” dapat digambarkan dengan dua istilah, yaitu allos dan heteros. Di dalam buku karangan W. E. Vine yang berjudul “An Expository Dictionary of New Testament Words,” istilah allos memiliki arti menunjuk pada yang lain tetapi masih dalam jenis yang sama, sedangkan heteros sendiri berarti menunjuk pada yang lain serta jenisnya berbeda. Bahasa Yunani yang digunakan dalam frasa “yang lain” pada Yohanes 14:16, ialah allos. Ini berarti bahwa Roh Kudus yang adalah “second paraclete” itu tetaplah sama dengan Yesus yang adalah “first paraclete.” 

Penggunaan istilah allos dan bukan heteros dalam tulisan ini, mengindikasikan bahwa Tuhan Yesus dan Roh Kudus merupakan pribadi yang berbeda namun memiliki sifat-sifat yang tetap sama, yaitu sifat keilahian-Nya. Oleh sebab inilah, William Hendriksen di dalam komentarnya tentang Yohanes 14:16 berkata, “Ia adalah Penolong yang lain, bukan Penolong yang berbeda. Kata yang lain menunjukkan seseorang seperti aku sendiri, yang akan mengambil tempatku, melakukan pekerjaanku. Sehingga, jika Yesus adalah seorang pribadi, maka Roh Kudus seharusnya adalah seorang pribadi juga.” Bahkan William Hendriksen melanjutkan dengan berkata, “Untuk alasan yang sama, jika Yesus bersifat ilahi, maka Roh juga adalah bersifat ilahi.”

Jadi, berdasarkan beberapa argumentasi di atas, penulis menyimpulkan bahwa Roh Kudus adalah pribadi yang ilahi serta hakikatnya setara dengan Allah Bapa dan Allah Anak sebagai bagian dari konsep Tritunggal dalam Kekristenan. Dia layak mendapatkan segala kemuliaan, sama seperti ketika kita memuliakan Yesus dan Bapa melalui segala hal di dalam kehidupan kita. Sehingga kita pun tidak akan dan tidak seharusnya menganggap Roh Kudus hanya sebagai pribadi yang ilahi namun bukan Allah itu sendiri, atau bahkan menganggap Dia hanya sekedar roh yang tidak berpribadi dan tak berkuasa.

Semoga kita akan bisa memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai keilahian Allah Roh Kudus, serta memiliki dasar Alkitabiah yang terfokus serta kuat dalam memegang prinsip tersebut. Kuharap, Ignite People tidak hanya sekadar memahami artikel ini sebagai suatu pengetahuan saja, melainkan bisa menerapkan konsep pemahaman ini di dalam kehidupan mereka sehari-hari. Salah satunya ialah dengan tidak membatasi kuasa Roh Kudus untuk berkarya di dalam kehidupan kita, melainkan dapat lebih lagi dapat berserah kepada Allah Roh Kudus serta menikmati-Nya dalam kehidupan sehari-hari.


LATEST POST

 

Memasuki kelas 11, aku mulai dihadapkan dengan berbagai kepengurusan ekstrakurikuler di SMA aku send...
by Jerell Michael Cussoy | 02 Jul 2020

“Biasanya, anak muda itu kalau tidak underused, ya overused,” kata seorang narasumb...
by Sandra Priskila | 02 Jul 2020

Your relationship with God is more important than anything because you know for sure that's...
by Gracella Fidelia Hardy | 29 Jun 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER