Ketika Dia Menebus Kerapuhan

Going Deeper, God's Words, 27 May 2021
"Kerapuhan tidak pernah terelakkan dari manusia, tapi dalam anugerah penebusan-Nya, kerapuhan itu adalah alat melawan maut dan pesimisme kebinasaan."

Kerapuhan /ke·ra·puh·an/: perihal rapuh; kelemahan (hati dan sebagainya) - rapuh /ra·puh/: sudah rusak (patah, pecah, sobek putus); lemah, sakit-sakitan (tubuh); tidak teguh (tidak tetap pendirian dan sebagainya).

MERENGKUH KERAPUHAN

Beberapa waktu lalu, Pdt. Joas Adiprasetya dikukuhkan sebagai profesor di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta. Dalam upacara pengukuhannya pada 17 April 2021 lalu, beliau menyampaikan orasi yang naskah penuhnya dibukukan dengan judul “Gereja Pascapandemi Merengkuh Kerapuhan.” 

Saya menyaksikannya hari itu dengan penuh kekaguman (walau kadang tidak paham), mengamini elaborasi beliau akan gereja yang di masa pandemi dipaksa menyadari kerapuhannya dan menemukan kembali identitasnya. Dari hanya memenuhi program dan target, menuju pergumulan ulang lewat proses unlearning dan bertobat dari cara lama, meratap, mengambil momen hening, serta bergerak menuju pendekatan yang berfokus pada kebajikan. Saya tangkap, kembali pada kasih mula-mula, bagai teguran kepada jemaat Efesus yang sibuk namun kehilangan kasih mula-mula (Why. 2:1-7). 

Istilah kerapuhan sejatinya akrab dengan setiap kita, warga gereja. Masing-masing kita mengalami jatuh-bangun dalam upaya mengikut Kristus, meneladani Sang Guru. Namun, kita pun sadar bahwa mengikut Kristus itu mustahil bila hanya melalui upaya sendiri dalam segala keberdosaan dan kerentanannya. Mungkin benar, tak ada cara selain mendekap kerapuhan dan membiarkan Allah merengkuh.

KERAPUHAN KOK DIRENGKUH?

Namun tak lama, muncul status Facebook dari seorang senior mantan penatua yang saya hormati. Beliau menulis demikian, “kerapuhan kok direngkuh?” Beliau menuliskan artikel yang rasanya tidak dimaksudkan membalas orasi Pak Joas, tetapi tak pelak juga menyinggung topik “merengkuh kerapuhan”.

Dalam catatannya setelah membahas konsep Karl Marx tentang manusia, beliau mempertanyakan dan menantang konsep kerapuhan manusia yang tak mungkin dilawan kecuali bila direngkuh. Konsep merengkuh kerapuhan terasa seperti pesimisme yang muncul dalam dunia modern setelah Perang Dunia II. Kesadaran akan segala kebobrokan manusia hingga kini menyebabkan begitu mudahnya kita melihat manusia sebagai makhluk yang karena natur kerapuhannya pasti menghancurkan sekitarnya. 

Sebaliknya, mengikuti Marx, beliau meyakini potensi manusia melampaui yang terlihat sekarang, yang masih terkungkung dalam keterasingan (alienasi) dari hakikat hidupnya. Kerapuhan bukanlah untuk direngkuh, melainkan dilawan. Inilah sumber pengharapan baru. Manusia perlu berani menolak “berdamai” dengan pesimisme kerapuhan supaya jangan lupa menjadi manusia. Pemberontakan terhadap kerapuhan diperlukan untuk menemukan potensi manusia sesungguhnya, melampaui keadaan kini karena keterasingan manusia dari jati dirinya.

Muncul tegangan dalam perenungan. Ya, kita semua rapuh, dan rengkuhan adalah awal pemulihan. Di sisi lain, mengapa harus direngkuh? Kok terkesan mudah menyerah dan meremehkan kemungkinan melampaui segala kerapuhan?


HARUSKAH KERAPUHAN DIRENGKUH?

Saya tidak memiliki kapasitas sehebat mereka dalam mengendapkan pergumulan kerapuhan. Saya tak yakin bisa menyanggah atau menarik sintesis dari keduanya. Bahkan mungkin saja saya salah membaca mereka. Hanya saja, keduanya membawa saya melihat lebih dalam. Tegangan kedua perenungan ini menuntut saya menggumuli kerapuhan pribadi. 

Saya bertumbuh dalam keengganan merapuh. Menangis itu aib. Laki-laki tidak boleh rapuh. Hanya perempuan yang menangis. Emosi harus dijaga. Jangan mudah marah. Belajar menjadi gentleman. Saya berkembang menjadi seseorang yang datar dengan hati keras.

Sampai muncul momen-momen ketika seharusnya tangisan itu wajar, namun tak keluar. Dalam kurun waktu setahun, kakek-nenek semua berpulang. Saya seharusnya menangis, tapi tak keluar air mata, aneh. 

"Kenapa saya tidak bisa menangis dalam kesedihan? Apakah saya berhenti merasa? Apakah saya jadi fobia terhadap aspek kerapuhan manusia?"

Kegelisahan ini, diam-diam, menggerayangi saya di masa pencarian jati diri, masa beranjak dewasa. Sempat saya abaikan, sampai akhirnya depresi datang. Bertahun-tahun “melawan” dan menolak kerapuhan pribadi, akhirnya hancur pula dinding yang saya bangun. Rapuh serapuh-rapuhnya. Menangis sejadi-jadinya. Ingin mati dan menghilang. Kerapuhan tak mampu saya sangkali lagi. Kerapuhan berbalik menelan saya.

Proses pulih beberapa tahun ini menolong saya melihat dengan perspektif lebih luas. Lebih menghargai kerapuhan. Bahkan dalam upaya bangkit dari depresi yang mendalam, saya menyadari bahwa saya telah belajar “merengkuh kerapuhan” sebelum mengenal istilah ini. Namun dalam jatuh-bangun sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya, sampai kapan harus merengkuh dan menjalani kerapuhan akut ini? Tak adakah proses pemulihan yang menuntaskan segalanya? Tak bolehkah melawan kerapuhan?

KRISTUS YANG MENEBUS KERAPUHAN

Mungkin di sinilah aspek keselamatan khas Protestan, “already but not yet”, sesungguhnya merengkuh sekaligus melawan kerapuhan. Kristus Sang Penebus telah menaklukkan rezim dosa, yang menguasai segala aspek kehidupan serta merusaknya menjadi alat pembinasaan. Walau demikian, pergumulan dengan kerapuhan itu terus dijalani dalam dunia yang belum mencapai kepenuhannya. Artinya, kabar buruknya, kerapuhan manusia terus berpotensi merusak sekitarnya.

Namun kabar baiknya, kerapuhan juga dapat menjadi alat pemberontakan terhadap rezim dosa. Bukankah Alkitab mencatat kisah-kisah kerapuhan yang diputarbalikkan menjadi senjata melawan kebinasaan? Kisah-kisah kerapuhan yang meraung-raung meneriakkan kesesakan terdalam manusia, namun juga menyerukan bahwa semua akhirnya akan digenapi dalam Dia yang menebus semesta.

Ingatlah Abraham. Berkali-kali dia ingin menyerah dalam menuruti panggilan Allah menjadi bangsa besar, diuji sedemikian rupa, namun akhirnya Allah menggenapi janji-Nya.

Ingatlah Yakub. Pembohong licik yang akhirnya dalam kerapuhannya dipaksa “bergumul dengan Allah dan manusia” (Kej. 32:28). Dia menolak membiarkan lawannya pergi sebelum memberkatinya dan melahirkan Israel.

Ingatlah begitu banyak orang-orang yang Allah pakai bagi Israel. Yusuf, Musa, sampai hakim-hakim, raja-raja, pun nabi-nabi. Mereka, dalam segala kegagalannya menjalankan panggilan dan ingin menghindar, ternyata terus Dia pakai menghadirkan percikan-percikan pembebasan.

Terlebih, ingatlah Kristus. Dia yang merapuh menjadi manusia dan tampak begitu lemah saat “menyerah” di kayu salib. Namun, Dia memasuki maut terdalam dan menaklukkannya, bangkit, menampakkan diri pada murid-murid, sampai naik, tanpa kehilangan bekas luka-Nya.

Mungkin bekas luka di tubuh Yesus memang terus ada untuk mengingatkan kita. Kerapuhan tidak pernah terelakkan dari manusia, tapi dalam anugerah penebusan-Nya, kerapuhan itu adalah alat melawan Maut dan pesimisme kebinasaan.

Mungkin memang benar bahwa korban sembelihan yang berkenan kepada Allah ialah jiwa yang hancur dan hati yang patah serta remuk (Mzm. 51:19). Kerapuhan, yang ditebus dalam anugerah-Nya, ketika direngkuh sepenuhnya, adalah senjata perlawanan itu sendiri.

Kerapuhanlah yang memampukan kita ingat, dalam segala kemurungan atas ulah manusia mengelola semesta, ada kesadaran bahwa ini bukanlah akhir. Sang Penebus akan datang menggenapkan segalanya. Kita dimampukan berjuang bersama, walau tak jarang hidup terasa memuakkan. Dalam persekutuan dengan Tuhan, perjuangan kita tidak sia-sia (1 Kor. 15:58). Pengakuan akan kerapuhan tak akan memisahkan kita dari kasih-Nya, malah memampukan kita berjuang melampaui kemanusiaan masa kini yang kehilangan jati dirinya.

Selamat merapuh dan melawan. Kristus beserta dan menebus.

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER