Read The Bible As A Bible

Going Deeper, God's Words, 12 January 2022
"Biblical theology, rightly defined, is nothing else than the exhibition of the organic progress of supernatural revelation in its historic continuity and multiformity." –Geerhardus Vos

Apakah kita terkadang bosan membaca Alkitab? Atau lebih parah lagi apakah kita hanya membaca Alkitab saat kebaktian saja? Atau kita sudah sering membaca Alkitab, tapi merasa tidak mengerti, sehingga bosan dengannya?

Kita percaya Alkitab adalah firman Tuhan. Lalu apakah pengaruh keyakinan kita tersebut dalam kita membaca Alkitab? Salah satunya ialah Alkitab mempunyai Satu penulis. Ya, meskipun Alkitab terdiri dari banyak kitab yang ditulis oleh berbagai macam penulis manusia lintas zaman, di baliknya ada Satu penulis utama yang menginspirasi mereka. Dampaknya adalah Alkitab mempunyai benang merah yang mengarah pada satu ide.

Pernahkah kita merasa apa yang dirasakan murid Yesus dalam perjalanan ke Emaus pada Lukas 24:32?

 “Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"

Pada saat itu, Yesus sedang menafsirkan Perjanjian Lama kepada mereka bahwa seluruh Perjanjian Lama menunjuk kepada Dia. Kalau membaca Lukas 24 secara keseluruhan, kita akan menemukan bahwa benang merah di dalam PL itu adalah Yesus sendiri. Kemudian, ketika Dia memecahkan roti bagi para murid, "terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia."  Pertanyaannya, sudahkah kita juga memiliki kerinduan untuk mengalami penyingkapan Firman Tuhan dan menemukan Yesus di dalamnya?



Dengan membaca Alkitab sebagai satu kesatuan, kita bisa mulai mengerti dan melihat sebagai contoh mengapa Tuhan (contohnya) memakai cara membelah laut menjadi dua ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, dan mengapa Yesus harus dibaptis dan kemudian dituntun oleh Roh Kudus ke padang gurun. Artinya, kita bisa mengerti keseluruhan cerita dengan bagian-bagian Alkitab lainnya secara lebih utuh (bukannya asal comot saja lalu menafsirkannya secara mentah-mentah). Tapi bagaimana caranya kita melihat Yesus dalam semua Alkitab? Artikel ini menawarkan sebuah “kacamata” untuk melihat Yesus di dalam seluruh Alkitab. Melalui“kacamata” ini, kita akan mengerti dengan lebih baik hubungan bagian-bagian kecil Alkitab dan cerita besarnya. Dalam kesempatan kali ini, artikel ini terlebih dahulu menjelaskan dasar kenapa memakai “kacamata” tersebut. Dalam artikel lainnya, penulis akan mencoba membagikan secara lebih terperinci struktur “kacamata” itu.

Untuk melihat Yesus di dalam keseluruhan Alkitab, kita harus mengerti dahulu alur ceritanya (story line). Mungkin kita pernah mendengar tentang Creation, Fall, Redemption dan Consumation. Nah,  artikel ini dan artikel-artikel berikutnya menawarkan suatu cerita besar dari sudut pandang yang koheren keterkaitan tentang 4 hal (Creation, Fall, Redemption, Consummation) tersebut.

Alkitab merupakan satu buku, maka akan masuk akal jika kita melihat awal dan akhir Alkitab untuk mencari tujuan, framework, tema besar Alkitab. Mari kita perhatikan Kejadian 1-3 (yang merupakan awal dari Alkitab) dan Wahyu 20-22 (yang merupakan bagian akhir dari Alkitab).


a  Penciptaan langit dan bumi (Kejadian 1-2)

     b  Perjanjian Pernikahan: Adam dan Hawa – pengantin wanita datang ke dalam sebuah taman kudus, yang darimana sungai mengalir keluar kepada bangsa-bangsa (Kej 2)

                c  Kekalahan Iblis dijanjikan (Kejadian 3)

                c’ Kekalahan Iblis diselesaikan (Wahyu 20)

     b’ Perjanjian Pernikahan: Domba dan pengantin-Nya – pengantin wanita datang ke dalam sebuah kota kudus, yang darimana sungai mengalir keluar kepada bangsa-bangsa (Wahyu 21-22)

a’ Penciptaan langit dan bumi yang baru (Wahyu 21-22)2



Pada diagram di atas, kita melihat ada paralel antara ketiga pasal pertama dalam kitab pertama dalam Alkitab dan ketiga pasal terakhir dalam kitab terakhir dalam Alkitab, tetapi secara terbalik (a, b, c, c’, b’, a’). Paralel ini juga disebut kiasmus. Di sini kita bisa melihat bahwa Alkitab menampilkan kesatuan yang menakjubkan dalam hal kesatuan rancangan dan tujuan (mengingat bahwa Kejadian dan Wahyu ditulis oleh dua orang yang berbeda dan dalam rentang waktu ribuan tahun). Kita juga melihat bahwa Tuhanlah yang bekerja melalui berbagai penulis dan berbagai zaman yang berbeda dalam proses penulisan Alkitab. Paralelisme ini juga berfungsi sebagai penutup kanon Alkitab karena paralel dengan pembukanya. Di sini kita melihat bahwa kegagalan manusia dan usaha Iblis untuk menghalangi rencana Tuhan tidak akan berhasil mengagalkan rencana yang Tuhan tetapkan dari awal penciptaan.

Kita juga melihat bahwa tema-tema di kitab Kejadian muncul kembali dalam kitab Wahyu. Dari pengamatan ini, kita melihat bahwa Kejadian 1-3 berisi tema tema dasar yang akan dikembangkan oleh penulis penulis kitab Perjanjian Lama dan kemudian oleh penulis penulis Perjanjian Baru. Hal ini akan dibahas lebih mendetail dalam artikel selanjutnya.

Lalu, apa yang menjadi storyline yang menjadi dasar bagi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tersebut?

Seorang teolog Perjanjian Baru bernama Greg Beale menawarkan suatu story line (“kacamata”) untuk Perjanjian Lama :

The Old Testament is the story of God, who progressively reestablishes his eschatological new creational kingdom out of chaos over a sinful people by his word and Spirit through promise, covenant, and redemption, resulting in worldwide commission to the faithful to advance this kingdom and judgment (defeat or exile) for the unfaithful, unto his glory

Sedangkan untuk Perjanjian Baru :

Jesus’s life, trials, death for sinners, and especially resurrection by the Spirit have launched the fulfillment of the eschatological already–not yet new-creational reign, bestowed by grace through faith and resulting in worldwide commission to the faithful to advance this new-creational reign and resulting in judgment for the unbelieving, unto the triune God’s glory1



Kita melihat dari rangkuman di atas bahwa Perjanjian Lama meneruskan dan tergenapi menjadi Perjanjian Baru, sehingga Perjanjian Baru bukanlah cerita yang baru sama sekali, tapi mempunyai dasar/latar belakang berupa Perjanjian Lama. Kita juga melihat bahwa Yesus mempunyai peran utama dalam cerita besar Alkitab, karena Dialah yang menggenapi cerita besar Perjanjian Lama dalam Perjanjian Bar,u dan Perjanjian Lama mengharapkan dan menunjuk kepada Yesus. 

Tujuan tertinggi dan akhir cerita ini ialah kemuliaan Tuhan, dan cara utama yang dipakai Tuhan untuk mencapai tujuan ini ialah kerajaan eskatologi ciptaan baru yang Kristus–Adam terakhir–dirikan dan perluasan kerajaan tersebut sampai ke seluruh bumi. Cara utama inilah yang menjadi kacamata kita untuk melihat berbagai hal dalam Alkitab. Tapi tentu saja dalam membaca Alkitab, kita tidak boleh mengabaikan konteks budaya dan kesusastraan dan aspek aspek eksegesis yang lain. Kita harus memelihara aspek-aspek tersebut secara seimbang ketika membaca Alkitab dengan kacamata ini. Pada kesempatan mendatang, kita akan melihat lebih mendetail bagaimana alur cerita ini bekerja. Semoga artikel ini mengundang kita untuk boleh semakin rindu membaca Alkitab. Soli Deo Gloria.


Referensi :

1. G. K. Beale, A New Testament biblical theology : the unfolding of the Old Testament in the New (Grand Rapids: Baker Academic, 2011)

2. Miles V. Van Pelt, A Biblical-Theological Introduction to the Old Testament : The Gospel Promised (Wheaton, Ilionis: Crossway, 2016)


LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER