Mengungkap Penulis Narasi Penciptaan dalam Kejadian 1

Going Deeper, God's Words, 27 November 2019
Meskipun demikian bukti-bukti tersebut menimbulkan pertanyaan baru, yaitu bagaimana mungkin Musa dapat menuliskan narasi penciptaan yang telah terjadi jauh di masa lalu?

Orang Kristen mengakui bahwa narasi penciptaan dalam Kejadian 1 ditulis oleh Musa meskipun tidak disebutkan dalam Kitab Kejadian sendiri.  Akan tetapi, dunia diciptakan jauh sebelum Musa ada.  Bahkan segala sesuatu telah diciptakan Allah sebelum Adam diciptakan oleh Allah.Tidak ada manusia yang melihat sendiri ketika Allah menciptakan dunia.  Sebenarnya siapa dan bagaimana narasi penciptaan dalam Kejadian 1 dituliskan?   Dalam artikel ini penulis akan memaparkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa benar Musa yang menuliskan narasi penciptaan dalam Kejadian 1 dengan cara membandingkan Kitab Kejadian dengan Kitab Pentateukh lainnya serta perkataan Yesus dalam Perjanjian Baru.  Penulis melalui metode historis juga akan melihat bagaimana Musa bisa menuliskan narasi penciptaan bukan berdasarkan pemikirannya sendiri.  Musa menuliskan narasi penciptaan berdasarkan tradisi oral yang diwariskan dari nenek moyang Bangsa Israel dan tidak lepas dari karya pengiluminasian Roh Kudus.

Untuk dapat melihat bahwa memang Musa yang menuliskan Kitab Kejadian, terlebih dahulu harus mempercayai bahwa Musa yang menuliskan keempat Kitab Pentateukh lainnya.  Setelah itu dapat dilihat bahwa ada dua bukti utama yang menunjukkan bahwa Musa yang menuliskan narasi penciptaan dalam Kejadian 1.  Pertama, keempat Kitab Pentateukh (Keluaran-Ulangan) berkaitan erat dengan Kitab Kejadian. Narasi yang dicatat memiliki kesinambungan yang berkelanjutan antara kitab yang satu dengan kitab yang lain.  Contohnya seperti permusuhan antara Yakub dan Esau yang dicatat dalam Kejadian berlanjut sampai permusuhan Bangsa Israel dengan Bangsa Edom yang dicatat di dalam Keluaran. 


Bukti yang kedua adalah kesaksian dari Yesus sendiri dalam Perjanjian Baru bahwa seluruh Kitab Taurat ditulis oleh Musa, termasuk narasi penciptaan dalam Kejadian 1. Dalam Yohanes 7:19a Yesus berkata, “Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu?”  Orang Yahudi mengakui Kejadian adalah bagian dari hukum Taurat.  Dengan demikian Yesus mengklarifikasi bahwa Musa yang menuliskan seluruh kitab Taurat termasuk narasi penciptaan yang terdapat dalam Kejadian.

            Meskipun demikian bukti-bukti tersebut menimbulkan pertanyaan baru, yaitu bagaimana mungkin Musa dapat menuliskan narasi penciptaan yang telah terjadi jauh di masa lalu? Pertanyaan ini mengantarkan kita pada kesimpulan seolah-olah Musa yang menuliskan segala sesuatu berdasarkan pemikirannya sendiri.  Yang berarti narasi penciptaan dalam Kejadian tidak ada bedanya dengan legenda penciptaan lain di luar Alkitab karena sama-sama ditulis oleh manusia berdasarkan imajinasinya sendiri.  Jelas tidak demikian kebenarannya.

            Musa tidak menuliskan narasi penciptaan berdasarkan imajinasi atau pikirannya sendiri. Musa juga tidak menuliskan narasi penciptaan yang belum pernah ada sebelumnya melainkan Musa yang pertama kali menuliskannya dalam bentuk narasi. Musa mencatat narasi penciptaan berdasarkan tradisi oral Bangsa Israel pada saat itu, yaitu kisah yang diturunkan turun-temurun oleh Bangsa Israel yang diceritakan para ayah kepada anak-anaknya dari generasi ke generasi.  Adalah sesuatu yang masuk akal bila manusia sejak zaman Adam telah menceritakan dari mana diri mereka berasal kepada keturunan mereka. Manusia yang diberikan akal budi oleh Allah tidak akan sebodoh itu melupakan sejarah permulaan diri mereka.


            Oleh sebab itu, Musa dapat menuliskan narasi penciptaan karena memang dia telah memiliki latar belakang pengetahuan tentang narasi itu dari cerita-cerita yang terus diceritakan turun-temurun sampai di zamannya. Musa tidak menuliskan narasi penciptaan seperti legenda lainnya yang terkesan mistis dan tidak logis. Narasi penciptaan dicatat dengan jelas, penuh keteraturan, dan keindahan. Dalam narasi ini Allah digambarkan sebagai tokoh utama yaitu sebagai pencipta. Narasi ini bukan tentang manusia yang diciptakan melainkan Allah yang menciptakan.

            Tidak hanya berdasarkan fakta-fakta sejarah yang diturunkan secara oral, Musa sendiri adalah instrumen yang dipakai Allah untuk mencatat narasi penciptaan bagi seluruh manusia. Roh Kudus melakukan pekerjaan-Nya melalui Musa dan menjadi penyebab utama bagaimana Musa mampu menuliskan narasi penciptaan itu di awal Kitab Kejadian.  Dalam suratnya yang kedua Petrus mengatakan, “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (II Petrus 1:20-21).   Agar Musa dapat mengerti narasi penciptaan seperti apa yang harus ia catat sesuai kehendak Allah, maka Allah sendiri yang bekerja mengiluminasikan kehendak-Nya dalam hati Musa.  

Berdasarkan apa yang telah dipaparkan terbukti bahwa Musa yang menuliskan narasi penciptaan.  Bukan lagi sekedar anggapan bahwa Musa yang menuliskan narasi penciptaan dalam Kejadian 1.  Korelasi antara Kitab Kejadian dengan keempat Kitab Pentateukh lainnya menunjukkan kesinambungan antara narasi satu dengan narasi lainnya.  Selain itu, kesaksian dari Yesus sendiri dalam Perjanjian Baru dan tradisi orang Yahudi dengan jelas mengakui bahwa memang Musa yang menulis narasi penciptaan yang terdapat dalam Kitab Kejadian yang juga adalah Kitab Pentateukh.  Meskipun Musa tidak melihat sendiri bagaimana Bumi dan isinya diciptakan oleh Allah, Musa dapat menuliskan narasi penciptaan melalui tradisi oral dari bapa-bapa leluhur bangsa Israel yang menurunkan narasi penciptaan kepada keturunannya.  Selain itu, tidak terlepas dari kuasa Ilahi Allah Roh Kudus yang bekerja mengiluminasikan kebenaran-kebenaran dalam narasi penciptaan.  



*Catatan editorial: Tulisan ini hanyalah satu dari sekian konsep teologi tentang penciptaan

           

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER