Hidup Bukan Seperti Mie Instan

Best Regards, Live Through This, 20 March 2021
Kita tentu butuh laut yang tenang dalam kehidupan, akan tetapi...

Jenuh.

Kita pasti sering mendengar sebuah pepatah: ‘Seorang nahkoda yang hebat tidak lahir dari laut yang tenang’. Ketika badai menderu menghantam kapal, sang nahkoda pasti bersiap-siap mengerahkan segala daya upaya agar kapal tidak tenggelam. Berada di laut yang tenang justru membuat kita meremehkan keadaan sekitar dan menjadi tidak awas dengan  bahaya yang mengancam di sekitar kita.

Kecanggihan media sosial membuat kita terlena dan asik menonton story yang berisi tentang “Apa yang kamu pikirkan”, “Apa yang sedang kamu lakukan”, “Apa yang sudah aku capai” dan lain sebagainya. Sebagai pengguna media sosial, saya juga gemar untuk melihat tayangan berdurasi 15 detik tersebut. Uniknya, saya menemukan salah satu story yang dibuat oleh teman mengenai “passion” dan “reasons”. Dalam unggahannya, terselip satu pertanyaan yang cukup menggelitik pikiran: “Kenapa kita butuh alasan untuk orang lain?”

Pemikiran tersebut kemudian menghampiri dan membuat sadar bahwa selama ini ada dalam titik jenuh. Tidak tahu harus berbuat apa, mau dibawa ke mana hidup ini, bahkan ada masa di mana “God, I don’t know, ya udah lah.”

Berada di titik ini kemudian membuat hal produktif hanya dalam angan dan mulai membandingkan hidup dengan orang lain.

Memahami bahwa terlalu sungkan untuk bercerita, membuat semakin jauh dan semakin terombang-ambing di laut yang tenang. Anggapan bahwa diri bisa melalui segala sesuatunya dengan baik justru membuat semakin bertanya-tanya, “Jadi saya melakukan ini untuk siapa?”

Pada kenyataannya, hidup tidak menunggu kita untuk berpikir. Ia terus berjalan dan membuat kita sadar bahwa apa yang sudah kita lewati hanyalah waktu yang sia-sia. Kita bersikap seolah semua baik dan aman terkendali dalam raga jasmani kita. Kita tetap bercengkrama dengan teman, rekan kerja bahkan keluarga. Padahal, di dalam relung hati dan pikiran, ada rasa hampa dan tidak memaknai setiap pertemuan.

Tuhan selalu mempunyai cara yang unik dalam berkomunikasi dengan umat-Nya. Kisah nabi Elia yang saya dengarkan membuat diri menemukan jawaban dalam proses kehidupan. Tuhan berbicara kepada nabi Elia melalui angin sepoi-sepoi setelah peristiwa gempa bumi, angin besar dan api. Ketika mengingat kembali perjalanan hidup, di tengah berada di posisi laut tenang, Tuhan membuat yang tadinya terlena dan abai dalam merencanakan masa depan kemudian mengingatkan tentang the purpose of His plan.



Ketika pusat dunia menjadi saya, saya dan saya, dorongan dalam diri menjadi kurang kuat dan hanya dalam angan. Kita mungkin cenderung berpikir bahwa apa yang sudah kita rencanakan dan doakan akan berjalan mulus, bahkan kita melakukan negosiasi agar hambatan yang kita lalui kalau bisa tidak berat.

Sosial media yang sering kita saksikan membuat kita lupa tentang proses di dalamnya. Penyimpulan cepat membuat kita ingin langsung mendapatkan hasilnya. Hidup kita seolah-olah seperti drama 16 episode yang kita tonton dalam satu season-nya. Episode pertama menceritakan tentang bagaimana kita merencanakan kehidupan bersama Tuhan dan pada episode lainnya langsung mendapatkan jawaban dari apa yang sudah diskenariokan di episode pertama. 

Kenyataannya, hidup bukan seperti drama yang menghapus elemen yang tidak menarik dan waktu berjalan begitu cepatnya. Kita cenderung berandai “Ah skip ke episode 5 lah biar langsung hasil! Episode 2-4 membosankan”. Bahayanya adalah ketika dalam kehidupan nyata, kita merasa “Kenapa jawabannya begitu lama?”

Lamanya waktu membuat kita menjadi bosan kemudian cenderung malas untuk berusaha kembali. Hal ini yang kemudian merubah pola pikir menjadi “Ya udah, jalanin aja dulu”. "The reasons" dalam diri perlahan runtuh karena pusat hanya kepada diri sendiri sehingga menjadi abai dalam memaknai proses kehidupan.

Sudah banyak hal yang direncanakan, didoakan juga sudah, tetapi kita lupa untuk mengusahakan segala sesuatunya.

Titik jenuh inilah yang membuat saya kembali tersadar bahwa untuk segala sesuatu ada masanya. Padahal gelombang-gelombang kehidupan mulai bergulir, tetapi memilih untuk tidak waspada mempersiapkan dan justru ingin skip ke ending. Kitab Pengkhotbah pasalnya yang 3 mengingatkan kita bahwa semua sudah diatur porsinya masing-masing. Semua kembali kepada bagaimana kita mengusahakan segala sesuatunya sesuai dengan perkenanan Tuhan.

Kita tentu butuh laut yang tenang dalam kehidupan; akan tetapi terlalu lama berada di laut yang tenang juga membuat diri menjadi terbiasa dan berharap semuanya berjalan sesuai dengan rencana tanpa mempersiapkan rintangan yang menghadang dalam kehidupan. Selamat mengarungi kehidupan dan menemukan “The reasons”!

202103062307


LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER