To Solve All Problems and To Help All People

Going Deeper, God's Words, 11 November 2019
Terkadang kita bukannya tidak ingin untuk menolong, tetapi kita cenderung menunda menolong sesama karna merasa “Permasalahan gue aja belum kelar, udah disuruh nolongin orang.”

Tidak jarang kita melihat orang menceritakan masalah hidupnya di social media, baik dalam bentuk story Instagram atau status Facebook. Postingan ini seakan-akan ingin berkata bahwa, “Saya adalah orang yang paling berbeban berat.”

Saat melihat hal seperti itu, saya jadi merasa kasihan. Saya bertanya dalam benak saya, “Apa tujuan dia menceritakan kesedihannya dalam sebuah cerita yang bisa diketahui banyak orang? Mencari perhatian kah? Mencari pembelaan? Belas kasihan? Atau apa?”

Jika permasalahanmu hanya tentang gagalnya hubungan dengan kekasih, bagaimana dengan mereka yang kehilangan keluarganya? 

Jika permasalahanmu hanya tentang lelah sepulang bekerja, bagaimana dengan mereka yang masih berusaha terus-menerus mencari pekerjaan?

Jika permasalahanmu hanya karna dilukai dia yang mengkhianatimu, bagaimana dengan mereka yang berusaha tetap bertahan dengan penyakit yang dideritanya? 

Sesekali kita perlu memandang sekitar kita, tidak hanya pada diri sendiri. Kita perlu melihat ke luar diri melalui orang-orang di sekitar. Apa memang kita adalah orang yang paling menderita saat ini? Atau jangan-jangan kita sedang mengasihani diri sendiri? 

Setiap manusia yang hidup pasti juga memiliki masalah yang melekat dengan hidupnya. Masalah ini sering kali terasa tak kunjung selesai. Tapi bukankah itu pertanda kita masih hidup? 

Setiap kita memiliki permasalahan yang berbeda, dengan tingkat permasalahan yang berbeda juga. Tapi tujuannya sama, naik kelas. Tapi... Sampai kapan kita hanya fokus pada masalah diri sendiri? Kapan kita menolong mereka yang sedang dalam masalah? 

Photo by J W on Unsplash


Aku menuliskan ini karena melihat tulisan story Instagram seorang teman. “We are not called to save the world. Solve all problems, and help all people.” Benar, kita dipanggil bukan untuk melindungi dunia ini, tapi kita diajak untuk menyelesaikan permasalahan kita untuk bergegas menolong orang lain. Entah itu orang terdekatmu, atau orang yang mungkin tidak kamu kenal, baik secara langsung atau tidak langsung. 

 “Aku akan cepat menyelesaikan masalahku, sehingga aku bisa dipakai untuk menolong sesamaku.” Bukankah ini terdengar lebih indah?

Terkadang kita bukannya tidak ingin untuk menolong, tetapi kita cenderung menunda menolong sesama karena merasa “Permasalahan gue aja belum kelar, udah disuruh nolongin orang.” Pikiran seperti ini membuat kita tidak jadi melakukan sesuatu untuk orang lain, karna fokus kita masih hanya kepada diri kita sendiri.

Ayat ini boleh membantu kita untuk berpikir lebih bijaksana lagi, 

“Ajarlah kami menghitung hari- hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
-Mazmur 90:12

Semoga kita diberikan kebijaksanaan yang lebih untuk melihat permasalahan hidup. Sehingga kita menjadi seseorang yang dapat bertumbuh dewasa dan mampu lebih tekun berpengharapan. 

Malahan ada yang pernah berkata seperti ini, “Memedulikan beban hidup orang lain itu membantu kita untuk melupakan beban hidup diri sendiri.” Benarkah demikian? Mari kita sama-sama membuktikannya.

Kalau di waktu yang lalu Tuhan memakai orang lain untuk membantu kita keluar dari masalah kita; mungkin ini saatnya kita memberikan diri kita untuk dipakai membantu sesama kita menghadapi masalahnya.

Photo by Ravi Roshan on Unsplash



LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER