Apakah Kita Berhak Protes Pada-NYA?

Going Deeper, God's Words, 11 November 2019
Coba dengarkan lagu "Butiran Debu" dari RUMOR, dan renungkan.

Rumor pernah menyanyikan lagu, "Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Aku tenggelam dalam lautan luka dalam." Ngaku aja, siapa yang pernah dengar lagu ini, bahkan sampai menangis dibuatnya? Seakan penggalan lagu itu ingin berbicara: "Aku jatuh woy! Ga ada yang peduli kah?" Sejujurnya, aku termasuk penggemar lagu itu. Tapi aku bingung, "Jatuh dan nggak bisa bangkit lagi", aneh nggak sih? Terjerembab ke tanah lalu enggan berdiri lagi. Setujukah kamu?


Satu hari di senja lembayung, seorang wanita sedang berjalan melewati tepi sungai. Wanita itu berjalan perlahan dengan sandal jepitnya, sambil bersenandung lagu-lagu, yang mungkin asing didengar oleh kita. Tiba-tiba wanita itu berhenti, dan melihat setangkai bunga mawar berwarna merah muda yang cantik juga menarik. Ia berlutut dan memegang batangnya. Dia kesakitan, sambil mempersalahkan Tuhan katanya, “Mengapa bunga seindah ini memiliki duri? Mengapa duri itu harus Engkau ciptakan? Mengapa? “ Tuhan pun menjawab, “Mawar itu Aku yang ciptakan, lalu mengapa kamu yang protes? Apa hakmu untuk tidak setuju dengan keputusanku?” Mari pikirkan jawaban Tuhan ini: Apa hak kita untuk protes di setiap kejadian dalam hidup kita?

Setiap orang pasti pernah protes pada bapak, ibu, orang yang lebih dewasa, bahkan protes dengan Tuhan. Apa yang ada di pikiran manusia, saat mencoba protes dengan Tuhan? Seorang kawan pernah bertanya, “Apakah Tuhan itu ada? Is God still exist until now?” Pertanyaan ini terlontar, saat ayah yang ia sayangi dan hormati ternyata ketahuan selingkuh, dan menggugat cerai ibunya. Atau kawan yang lain yang bertanya, “Kalau Tuhan itu ada, mengapa kecelakaan mobil yang mengambil ayahku tidak dielakkan-Nya? Apakah Tuhan benar-benar ada?”. Saat itu, aku hanya bisa termenung dan diam. Aku juga belum pernah melihat Tuhan secara fisik. Diam, dan diam, aku tidak bisa berkata lebih banyak, selain menepuk pundak kedua kawanku itu. Aku nggak berani memberi jawab, karena bagiku, mereka akan menemukan jawabannya sendiri. Tetapi bagi aku beda. Bagiku Tuhan itu beda.


Aku yakin kok, Tuhan punya cara. Tapi apakah setiap orang bisa menerima cara Tuhan itu? Pertanyaan yang terus berkecamuk di dalam pikiranku adalah, jika memang rencana Tuhan itu katanya “indah”, mengapa harus ada air mata? Jika memang rencana Tuhan itu “baik”, mengapa seorang anak berusia 15 tahun saat itu harus meninggal karena leukemia? Bolehkah aku bertanya hal ini? Mungkin Tuhan punya sesuatu di balik ini semua, tetapi ini masih mungkin, bagaimana jika memang tidak ada apa-apa “di balik ini semua”? Masihkah kita percaya kepada-Nya?


Saat aku merenungkan pertanyaan itu, seperti scene film yang di-rewind, aku melihat ada yang lucu dari Tuhan. Dia selalu memberikan kejutan, ya walaupun kejutan itu kadang mengecewakan. Aku berpikir, seandainya, Tuhan tidak bertindak, apakah scene-nya akan masih seperti ini? Sadarkah kita bahwa Dia juga yang “beraksi” dalam setiap kesedihan kita (kalimat ini aku tulis bukan untuk mempersalahkan Tuhan dan rencana-Nya)? Sadarkah kita? 


Seorang kawan pernah menggambarkan Tuhan seperti pacarnya. Kawanku itu perempuan cantik dan pintar, dia menggambarkan dengan kalimat begini, “Tuhan tuh kayak pacar kita, mungkin buat kita Dia nggak sempurna, sering mengecewakan kita. Tetapi justru di saat itulah kita bisa melihat dan mengenal Tuhan lebih dalam dan lebih dalam lagi. Dan menemukan Dia seperti pacar yang selalu memberi kejutan di setiap pagi”. Saat itu aku berpikir, mungkin kalau benar Tuhan itu pacarku, kita sudah sering bertengkar, dan bahkan mungkin menjalin hubungan putus-nyambung ribuan kali.

Barusan hari Minggu ini, seorang pengkhotbah ngomong begini, "Bukan mengapa "kesialan" itu ada, tetapi bagaimana tindakan kita jika "kesialan" itu datang dalam hidup kita (aku menggunakan kata "kita" - itu berarti kamu, dan saya)? Tulisan ini masih ada sambungannya dengan tulisan saya sebelumnya (sedikit promosi boleh lah ya!). Seakan ingin ngotot, saya masih berpikir tentang Tuhan dan gambar-Nya pada kita. Apakah seperti lagu Kerispatih di atas, atau teriakan wanita muda di bagian selanjutnya, atau pendapat dari salah satu kawanku? 


Sekarang, mari kita coba pertanyakan “Tuhan” itu apa atau siapa untuk kita? Masihkah Tuhan itu ada di pikiran dan hati kita dalam setiap langkah hidup kita? Atau justru kita berpikir untuk meninggalkan-Nya dalam kekecewaan kita? Selamat merenung!


LLC - sesaat setelah kecewa karena bukan nasi sambal teri yang dipilihnya di angkringan.

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER