Kecewa dengan Allah, Bolehkah?

Going Deeper, God's Words, 17 October 2019
Kata guru sekolah Minggu, "Allah itu baik," tapi kok aku harus menderita? Kata pendeta, "Allah itu mahakuasa," tapi kok aku jatuh sampai tergeletak? Mungkin kata temanku benar, "AKU PENDOSA DAN BERSALAH!"

Pernahkah kita memikirkan alasan di balik kelahiran kita ke dunia?


Banyak motivator, pengkhotbah, maupun psikolog akan menjawab pertanyaan di atas dengan kalimat, “Kamu lahir untuk tujuan tertentu.” Namun, pernahkah terpikirkan di benak kita bahwa hidup ini memiliki "jalur" yang ditentukan; hanya mungkin kita terlalu sok pintar (bahasa gaulnya: ngide) dengan mengatakan, “Tuhan yang menyertai, kok?" 

Parahnya, kadang-kadang kita bahkan mencatut nama Tuhan atas setiap akibat dan dampak dari perbuatan kita. Kalau sudah begitu, kita juga pasti sering mendengar kalimat seperti, “Kamu sih, nggak berdoa dulu, makannya kamu gagal," atau “Kamu sih, nggak berjalan di jalan Tuhan.” Buat kamu yang pernah bicara seperti itu ke teman-temanmu, maaf jika saya harus nyablak (bahasa Jawa dari "berkata pada seseorang tanpa ada filter"), “Enyahlah kamu, Iblis!” Maaf kalau terlalu nyablak . Kenapa saya berkata demikian?

Saya mengajak teman-teman untuk membuka Kitab Ayub. Dalam Ayub 1, Ayub disebutkan sebagai pribadi yang saleh, jujur, dan takut akan Tuhan. Dia juga diberkati luar biasa (dengan 10 anak, ribuan ternak, dan banyak budak), sehingga dia tercatat sebagai orang terkaya di sisi timur Us (Ayub 1:1-3). Namun suatu hari, muncullah “notulensi rapat” antara Tuhan dan Iblis. "Notulensi" itu berisi bahwa Iblis boleh mencobai Ayub, si orang saleh itu. Jujur saja, saya tertawa saat membaca Ayub 1. Tuhan seakan-akan sedang main-main saat mengizinkan Iblis terlibat dalam sebuah scene kehidupan Ayub yang baru—dan berbeda seratus delapan puluh derajat. Hanya dalam satu malam, Ayub yang kaya itu kehilangan segalanya.

Saat menuliskan "segalanya", saya membayangkan mungkin yang tersisa pada Ayub hanya pakaian yang melekat pada tubuhnya (dan istrinya). Ngeri, kan? Apa salah Ayub? Alkitab tidak menjabarkan dosa Ayub di narasi Ayub 1 dan 2, bahkan dia belum mempersalahkan Tuhan atas semua “penderitaannya”. Ironisnya, dalam kondisi seperti ini, ketiga sahabatnya (Elifas, Bildad, dan Zofar (Ayub 2)) malah menuduh Ayub yang telah berdosa. Disadari atau tidak, peran mereka tersebut persis dengan kita yang (mungkin) juga sering berkata, ”Pasti kamu udah berdosa!”, atau, “Doa dan saat teduhmu kurang rajin, sih!”, atau, “Ini, kan akibat perbuatanmu. Tanggung sendiri akibatnya!” Sebagai bentuk refleksi, teman-teman bisa melanjutkan pembacaan kitab Ayub ini hingga selesai—untuk mengevaluasi apakah kita telah menjadi orang-orang yang lebih memilih menyalahkan orang lain atas "alasan rohani" yang tidak terpenuhi.


Photo by Freshh Connection on Unsplash 


Dalam bukunya yang berjudul Disappointment with God, Phillip Yancey mengisahkan kehidupan Ayub dengan cukup-ringan-namun-berbobot. Yancey menulis, “Penderitaan jelas ada. Bolehkah orang Kristen kecewa? Jelas boleh! Itu manusiawi.” Saya pribadi sering menjadikan pendapat Yancey ini sebagai “pembenaran akan kekecewaan” saya terhadap Tuhan. Saat itu ada yang bertanya, “Bolehkah kita kecewa dengan Tuhan?” Saya menjawab (dan balik bertanya), “Boleh, dong! Sekarang coba sebutkan orang di dunia ini yang tidak pernah kecewa dengan Tuhan!” Apalagi kalau kita berbicara dalam konteks Ayub dan merefleksikan penderitaan kita “sama” seperti Ayub. Wah, pasti jawaban saya ini akan menggembirakan dan membenarkan argumen kebanyakan orang. 


Tetapi tunggu dulu! Bagi saya, kecewa itu boleh saja... tetapi tenggelam dalam kekecewaan itu adalah hal lain. Saya kira setiap orang berhak kecewa, sama seperti Ayub; tetapi apakah Ayub berhenti pada kekecewaannya? Saat membaca Ayub 42:1-6, kita tahu bahwa Ayub “bangkit” dari kekecewaannya. Namun jangan puas kalau sudah membaca bagian itu, Guys. Kisah Ayub (khususnya Ayub 3-37)-yang-biasanya-dijadikan-"landasan teori"-atas-kekecewaan-kita-pada-Tuhan tidak hanya berhenti di situ. Di balik "move on"-nya, ada Ayub 38-41 yang mengajak kita untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi.


Kecewa, marah, bahkan bertanya, “Tuhan itu ada nggak, sih?”  boleh kok, asalkan kita mempunyai alasan yang tepat sebelum mengeluarkan argumentasi itu.


Ketika kita berada dalam pergumulan yang membuat kita meragukan kehadiran Tuhan, kita bisa meneladan Ayub melalui tiga hal berikut:

  1. Mengenal pribadi Allah terlebih dulu. Kita perlu menyadari bahwa Allah adalah Pribadi yang mendengar doa kita. Bagi saya, berkat itu urusan nanti. Yang lebih penting adalah pengenalan kita akan Allah yang terus bertambah dari hari ke hari. Pertanyaannya, Pribadi seperti apakah Allah yang kita miliki?

  2. Jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan bahwa "Ini semua karena dosaku!" Tunggu dulu! Saya bukan sedang menolak hukum sebab-akibat dari dosa, tetapi bagi saya yang terpenting adalah refleksi atas pertanyaan, "Mengapa aku begini?" Kita bisa membuat sebuah list sederhana atas berbagai kemungkinan “sebab” yang sudah kita lakukan. Lalu, menyadari dan menerimanya sebagai sebuah cerita dalam hidup kita.

  3. Melibatkan Tuhan dalam segala sesuatu, karena Tuhan nggak akan meninggalkan kita—bahkan saat kita terpuruk sekalipun. Coba baca dan renungkan lagi Ayub 38-41. Dalam situasi terburuk yang kita hadapi, Tuhan hadir di sana dan sedang mengulurkan tangan-Nya untuk mengajak kita berjalan bersama-Nya. Mari, kita melibatkan Tuhan dan mulai memikirkan solusi atas pergumulan kita—bukannya terbalik (solusinya dulu baru Tuhan “dipaksa” menyetujui rencana kita). 


“Apakah saya sedang kecewa dengan Tuhan?"

Sudahkah kita berefleksi dan melibatkan Dia dalam setiap masalah kita?”

Ayub juga sama seperti kita, kok. Dia juga manusia yang bisa kecewa, down bahkan berpikir untuk mati. Tetapi kita bisa belajar dari Ayub yang akhirnya berkata, "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal." (Ayub 42:2).


Photo by christopher lemercier on Unsplash 


Last but not least, bagi kita yang juga sering menjadi tempat curhat, mari kita belajar bersama untuk menjadi teman yang membangun melalui saran maupun telinga hati kita—bukannya asal menyalahkan orang lain. Kemuliaan Tuhan bisa kita pancarkan dengan menjadi a shoulder to cry on bagi mereka yang membutuhkannya.

Selamat berefleksi dengan kekecewaan kita, namun ingatlah untuk tidak terlalu lama berkubang di dalamnya. Tuhan menunggu kita belajar dari pengalaman pahit agar pelajaran itu dapat memberkati orang lain.




LLC, 2019-pasca TTS terakhir yang penuh dengan kekecewaan

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER