Kumulai Dari Diri Sendiri Untuk Menjadi Diri Sendiri

Best Regards, Live Through This, 22 April 2020
Bukan manusia yang membentuk dirimu, tetapi Dia yang membentukmu. Bukan dari mereka yang harus bertindak duluan, tetapi dari dirimu yang harus memulainya.

Kala itu, aku sedang mendengarkan sebuah lagu dari kolaborasi RAN dengan Hindia yang berjudul “Si Lemah”. Lagu itu baru saja dirilis tanggal 21 April, di mana pada hari itu bertepatan dengan Hari Kartini. Lirik yang dituangkan oleh Laleimanino dan Baskara Putra ini mengajak para pendengar lagu itu untuk menjadi diri sendiri meskipun di dalam dirinya terdapat perbedaan yang dianggap aneh oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, sehingga membuat dirinya merasa tidak percaya diri akan dirinya sendiri dan mulai menjadi orang lain agar bisa diterima oleh tatanan masyarakat. 

Penggalan-penggalan lirik dari lagu “Si Lemah” ini membuat diriku menjadi lebih bersyukur atas apa yang ada dalam diriku sendiri, walaupun aku memiliki perbedaan yang dianggap aneh dan hina oleh sebagian masyarakat. Lagu itu juga mengajarkan aku untuk tidak membenci diri sendiri atas perbedaan yang aku punyai karena aku adalah orang yang berarti bagi sesama. Seperti yang ada pada lirik lagu itu :

“Apa pun yang kau idap atau menghantui,

Bukan halanganmu untuk kalahkan hari.”



Dahulu, aku adalah salah satu korban bully yang dilakukan oleh sebagian sebayaku karena aku tidak “maskulin” layaknya mereka. Mereka menganggap bahwa laki-laki yang tidak menyukai olahraga, suka menangis, suka bermimpi, dan hal-hal yang berada di luar budaya patriarki adalah laki-laki yang lemah, bahkan dianggap bukan laki-laki. Aku pun tidak menyukai akan hal-hal tersebut karena menurutku hal tersebut tidaklah benar, tetapi aku seringkali mendapat hujatan dan opresi, seperti : “Dasar b*nc*ng!”, “Idih lu kayak cewek, lemah”, “Woi l*k*ng! Klemar-klemer dah lu jadi cowo!” Umpatan tersebut membuat aku depresi, trauma, bahkan memiliki niat untuk menyudahi hidupku yang berharga di mata Tuhan ini. 



Lalu agar aku dapat diterima oleh semua orang, aku pun mulai mengikuti budaya patriarki yang diyakini oleh sekitarku. Aku mulai merendahkan hal-hal yang dianggap “feminin”, mencoba berpikiran dewasa seperti anggapan mereka, bahkan rela merusak diri sendiri agar dianggap keren dan “macho”. Iya, aku memang diterima oleh orang-orang tersebut, namun lama kelamaan aku merasa aku telah membohongi diriku sendiri, bahkan aku merasa aku telah menjadi orang lain dan merusak citra diriku sendiri sebagai anak laki-laki yang diberkati oleh Allah

Aku pun tersadar dan mulai mencoba untuk lepas dari budaya ‘patriarki’ yang menurutku toksik. Aku mulai menjadi diriku sendiri yang apa adanya, menjadi terang bagi sesama, dan juga selalu memuliakan nama Tuhan dengan tulus hati tanpa memandang apa yang ada dalam diriku ini.


**

"Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139 : 13-14)

Daud di dalam doanya kepada Allah menyadari dan mengungkapkan rasa syukurnya atas kejadian-kejadian ajaib dan dahsyat yang dialami oleh Daud sendiri, sebab Tuhanlah yang membentuk buah pinggangnya dan menenunnya dalam kandungan ibunya. Doa Daud kepada Allah ini menyadarkan kita sebagai umat manusia bahwa Tuhan terlibat secara aktif dalam pembentukan diri kita sejak dalam bentuk embrio sampai kita kembali lagi ke Rumah-Nya. 

Tuhan memiliki kreativitas yang sangatlah indah dalam diri kita. 

“Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!” (Yeremia 18 : 6b). Tukang periuk adalah seseorang dengan bekerja membuat bejana dari tanah liat. Bejana akan terlihat bernilai dan bagus jika bejana itu dibentuk dengan baik oleh tukang periuk tersebut. Namun, pembentukan bejana itu membutuhkan banyak proses agar menghasilkan bejana dengan kualitas yang baik, tidak instan layaknya makanan cepat saji. Jika bejana itu rusak, maka si tukang periuk akan memperbaikinya, menurut apa yang dia anggap baik. 



Demikian juga Tuhan membentuk hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya yang baik. Tidaklah gampang bagi kita untuk dapat berproses menjadi lebih baik ke depannya, namun Tuhan tidaklah tinggal diam jika kita dalam keadaan ‘rusak’, pasti Dia akan memperbaiki diri kita yang semula rusak menjadi berfungsi dan bernilai asal kita mau dibentuk olehNya.

Jadi, pada dasarnya semua manusia masing-masing mempunyai keunikan dan perbedaan, tetapi bukan berarti dengan menjadi berbeda, kita sebagai manusia bisa semena-mena dan menjadikan perbedaan yang kita punya itu sebagai privilege untuk dapat berbuat sesuka hati kita. 

Selalu mengasihi semua orang, berhikmat sesuai dengan hikmat Tuhan, dan tidak jatuh ke dalam lubang dosa yang menghasilkan maut. Jika ada orang yang berbeda dan unik dari kita, janganlah kita tindas, melainkan selalu memiliki kasih yang murah hati kepada mereka yang berbeda dari kita.

“Menjadi berbeda dan unik itu tidaklah salah, tetapi dapat membuat semua orang dapat saling mengasihi antara satu dengan yang lain, juga dapat membuat dia bertumbuh dalam iman kepada-Nya, Tuhan Sang Pencipta yang kreatif.”

LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER