Dalam Takutku: Aku Swipe Swipe Swipe!

Going Deeper, God's Words, 25 September 2019
Terganggukah kita dengan ajakan Swipe Up dan Swipe Left di tengah ketakutan kita untuk dibilang tidak menarik? Apakah hal itu membuat kita menihilkan kehadiran-Nya dan mengabaikan bahwa Kerajaan Allah harus dihadirkan dalam hal sesederhana tentang apa yang kita pakai?

Hari ini saya sering bergumam sendiri saat berjalan-jalan di Explore Menu Instagram, atas banyaknya mbak-mbak yang sungguh terlihat cantik dan fashionable. Adalah sebuah ketertinggalan jika hanya memerhatikan sebuah angle pengambilan foto yang baik sekarang ini, karena banyak yang lebih penting, seperti: Dress-nya merk apa, sneakers-nya seri apa dan dari brand apa, lipsticknya shade­-nya yang nomor berapa, sebagai perempuan biasanya berakhir pada pertanyaan paling dasar yaitu, berapa steps skincare ya yang diterapkan mbaknya hingga wajahnya bisa glowing dan flawless? Saya, dengan penerimaan diri yang belum bener-bener amat seringnya akan segera keluar dari Instagram mbak-mbak cantik itu. Lalu menyentuh tombol back, dan sayang sekali, kenyataan yang saya dapatkan adalah:

“GAYA KAMU GITU-GITU AJA? SWIPE LEFT DAN DAPETIN DISKON SAMPAI 50% UNTUK 2 SNEAKERS SEKARANG JUGA.”

Sebuah fakta yang menyenangkan bahwa belajar Desain Komunikasi Visual selama bertahun-tahun di bangku pendidikan dan mengerjakan beberapa iklan, tetap membuat saya tidak imun dari rasa kaget pada munculnya iklan-iklan di media sosial. Menimbulkan penelisikan lebih dalam pada alam pikir saya seperti: Oh jadi gayaku gitu-gitu aja, Hmm sepertinya betul juga aku butuh sneakers baru. Iya ya, nanti kalo gayaku gitu-gitu aja aku dibilang nggak fashionable, nggak artsy, nggak estetis, nggak gini nggak gitu, nggak kayak mantannya. Banyak. Merembet. Yang berakhir pada membeli suatu produk baru sesuai di iklan supaya kece.

Lama-kelamaan produk-produk yang kita beli akan berakhir juga di gudang atau di tempat sampah. Hari ini kita hanya membeli calon-calon sampah di masa depan, begitu konsepnya. Lalu apa yang terjadi pada diri kita? Kembali lagi merasa tidak cukup cantik atau tidak cukup keren di hadapan semesta. Kembali lagi merasa ketinggalan mode. Kembali lagi takut, takut kalau berpenampilan tidak cukup baik. Iklan pun kini telah merupa sebagai manipulasi ketakutan dengan menawarkan narasi ketakutan berlebihan yang mempermainkan hasrat kita untuk membeli produk tertentu agar merasa utuh, bebas, dan bahagia sebagai manusia.

Apakah perancang iklannya yang dapat dipersalahkan? Tentu hal itu sangat mungkin, namun tentu saja kita tidak akan membahas tentang iklan lebih lanjut karena nanti salah platform. Jadi, lebih baik kita memulainya dengan memahami ketamakan.

Memahami Ketamakan 

Dalam rangkaian Khotbah di Bukit, Yesus membahas banyak sekali hal-hal mulia. Ia juga membahas tentang ketamakan pada Matius 6:19-24. James Bryan Smith dalam bukunya The Good and Beautiful Life (2009) menyampaikan mengenai perbedaan antara kerakusan dan ketamakan. Berbeda dengan kerakusan, ketamakan lebih berkaitan dengan banyak hal seperti: Perhatian, makanan, kenikmatan. Kerakusan menginginkan sesuatu lebih dari yang diperlukan. Namun ketamakan menggambarkan kerakusan akan uang dan barang. Baik yang kikir atau boros sama-sama hidup dalam ketamakan.

Pada bagian ini Tuhan Yesus tidak sedang mengampanyekan anti kemapanan atau anti kekayaan. Namun lebih kepada posisi hati kita di hadapan benda-benda dan materi yang kita miliki, atau hendak kita beli.

“Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya..” (Matius 6:20) 

Tuhan menginginkan hal-hal yang lebih indah dan kekal. Sesederhana benda yang kita miliki dan kenakan, Ia memikirkannya. Ia tidak ingin barang yang kita beli di kemudian hari menjadi sampah baru, lalu kita kembali merasa tidak berarti dan mencari arti dengan membeli calon sampah baru lagi, demikian seterusnya. Ia tidak ingin kita merasa tidak aman dan takut lalu menjadi tamak dan berfokus pada benda-benda yang lekang oleh waktu. Kita takut tidak bahagia, takut tidak aktual dan diakui di hadapan skena pergaulan, lalu kita membeli produk fashion tertentu sehingga berpenampilan menarik bahkan tak jarang dengan menahan berkat-berkat Allah yang sebenarnya bisa bermanfaat bagi manusia lainnya. Tentu saja Tuhan tidak menyuruh kita berhenti membeli produk fashion karena Ia tahu betul kita membutuhkan penampilan menarik dalam tuntutan-tuntutan hidup yang tidak sama bagi setiap orang. Namun penekanannya adalah pada sikap hati dan cara kita memutuskan setiap belanja kita.

Pasal ini ditutup dengan indah dengan ayat yang menggambarkan betapa Tuhan begitu rindu kita spesialkan. Tidak kita duakan dengan apapun.

“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24)

Saat membeli barang yang kita inginkan, kita merasa sukacita kita penuh. Sukacita kita bisa jadi juga penuh bukan saat Worship Leader di gereja bertanya “Ada sukacita?”, kita akan menjawab dengan lantang, “Haleluya!”. Dua-duanya bisa manipulatif tentu saja. Namun esensinya, ada sukacita yang bisa jadi sama antara sukacita pada benda dan pada hal-hal religius. Maka, bukan itu yang Tuhan inginkan. Ia tidak ingin ada sukacita yang lebih penuh selain sukacita karena diriNya ada. Yang Ia inginkan adalah sukacita karena Kerajaan Allah hadir sekecil-kecilnya dalam keputusan kita membeli atau memiliki benda-benda.

Di mana posisi hati kita saat berada dalam skena pergaulan? Apakah sebegitu terdistraksinya kita dengan kecantikan mbak-mbak Instagram, atau modis dan estetisnya teman-teman kita yang lain? Terganggukah kita dengan ajakan Swipe Up dan Swipe Left di tengah ketakutan kita untuk dibilang tidak menarik? Apakah hal itu membuat kita menihilkan kehadiran-Nya dan mengabaikan bahwa Kerajaan Allah harus dihadirkan dalam hal sesederhana tentang apa yang kita pakai?

Saya merasa, Tuhan bukannya tidak ingin kita cantik, keren, dan menarik. Tuhan hanya ingin tetap menjadi Tuhan yang kita Tuhankan. Berpenampilan menarik dan menuhankannya adalah dua hal berbeda. Ia ingin kita menuhankan Dia dan bukan menuhankan berkat-berkatNya atas kita. Ia mau dalam keinginan kita berpenampilan menarik, kita tetap memikirkan bahwa kita telah memiliki lebih banyak dan selalu cukup. Tidak lagi takut ketinggalan dan tidak dianggap dalam skena-skena yang gaul itu. Tidak lagi membeli karena orang lain membeli, memakai karena orang lain memakai, namun berpikir panjang sebelum membeli, menyimpan, dan mengenakan. Tuhan ingin kita tetap mengenakan Kristus di dalam baju-baju kita yang hype dan artsy sekali.

Iklan di sosial media kini bukan hanya ada, mereka melipatganda. Dari sanalah saya dan teman-teman desainer saya dapat uang dan bisa makan, saya berterima kasih karena kamu-kamu mau Swipe Up apa-apa yang kami rancang. Namun akhirnya saya mengajak, di tengah keinginan kita untuk Swipe Up sebuah iklan produk, mari berpikir dua-tiga kali dan mengambil langkah tidak populer dengan Swipe Up untuk kebutuhan-kebutuhan manusia lain, pelestarian lingkungan hidup, ruang hidup yang lebih kondusif dan membumi, serta ajakan-ajakan mendatangkan Kerajaan Allah tentu saja. 


Mari berjuang dengan berani untuk tidak takut lagi!




LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER