Kala Hidup Sedang Tidak Baik-baik Saja

Best Regards, Live Through This, 26 May 2019
Adalah hal mudah bagiku untuk mengakui diri-Nya ketika hidupku terasa baik dan dipenuhi bahagia, akan tetapi, hal sebaliknya terjadi kala roda hidupku berputar, aku tidak menjadi diriku yang begitu mengagungkan DiriNya, aku menjadi pribadi yang mengabaikan dan bahkan menyepelekan kesempurnaan dan keagunganNya.


Pagi ini, penyertaan-Nya tetap terasa. Angin semilir masih menghembus lembut rambut yang memahkotai kepalaku. Matahari pun masih terlihat gagah menerangi jejak langkah ke manapun diriku pergi. Pepohonan di tepian jalan juga bersinergi untuk melindungi dari teriknya mentari. Dengan kedaulatan dan anugerah-Nya, Ia masih bermurah hati untuk menghujaniku dengan cinta-Nya.

Meskipun ku sadari bahwa Ia selalu menjaga, namun, diriku menatap nanar kebaikanNya, aku terhanyut dalam lamunan dan keinginanku sendiri. Aku kalap dan terbuai oleh kecewa dan ambisi yang gagal untuk kuraih. Aku berjalan dalam rasio dan kekuatanku sendiri. Kasih-Nya tak lagi menghangatkan hati. Kini, hatiku dingin dan menyepelekan penyertaan-Nya. Sampai-sampai, diriku menyatakan bahwa memang sudah sepantasnya Sang Pencipta memelihara ciptaan-Nya sendiri. Benar, diriku merasa bahwa kasih-Nya yang dahulu menakjubkan, saat ini, tidak lagi demikian. Hati ini telah merespon dingin kasih-Nya yang lembut.

Leon Biss on UnsplashSiang ini pun masih serupa, diriku masih saja tak menghiraukan sapaan-Nya, padahal melalui teman-teman dan sahabat yang kukasihi, Ia tak lelah untuk menyadarkanku bahwa Dia ada bagiku. Ia menyapaku melalui mereka yang berada di lingkungan sosialku. Menyisipkan kekuatan dan penghiburan bagi ragaku yang penat dirundung pahitnya pergumulan hidup melalui senyum dan tawa dari mereka yang berada di sekitarku. Namun, alih-alih merasa terhibur dengan kebaikan-Nya melalui teman dan sahabat, jiwaku malah terbuai dalam semburan kekecewaan dan keputusasaan. Aku malah memaklumi tindakanku, mengasihani dan membenarkan seluruh perbuatanku terhadap-Nya atas dasar perasaan “itu manusiawi kok.”

Getir kurasa kehidupanku saat ini. Berat rasanya kupikul beban hidup yang kutanggung sendiri. Lelah aku menyaksikan pergumulan demi pergumulan terus membanjiri kehidupanku. Lelah aku menjalani lika-liku kehidupanku yang rumit. Aku telah datang kepada-Nya meronta untuk dikasihani. Tetapi, keadaanku tetap tak kunjung membaik dan Ia tetap menggiringku kepada jalan dan cara yang diinginkan-Nya.Langkahku kian tertatih, tubuhku lelah dan hatiku sesak. Kesedihan mengepung relung jiwa dan kekhawatiran mengisi pikiranku. Diriku gelisah dan tertekan. Aku kian tenggelam dalam kelamnya pergolakan hidup. 

Patrick Hendry on UnsplashPada malam hari, ketika rembulan sedang bersinar benderang memerangi kegelapan malam dan hamparan bintang menghiasi cakrawala yang teduh, aku memaksakan diriku yang bodoh ini untuk kembali menghadap kepada-Nya, 

“Aku hendak bernegosiasi denganMu, Tuan” 

“Apakah yang kau kehendaki?” Dia bertanya kepada ciptaanNya yang bodoh itu.

Lalu, aku pun merespons dengan ratap tangis sembari berkata “Tuan, cukup. Diriku lelah menjalani semua ini. Penat, diriku letih. Aku tidak sanggup, Tuan, sungguh. Tidak bisakah Kau menghentikan semua ini sekarang? Diriku rasanya mau mati menahan seluruh kepedihan dan penderitaan ini.” 

Ia pun membalas, “Siapa yang menyuruhmu untuk menanggungnya sendirian? Apakah Aku pernah memintamu untuk menyelesaikan segala persoalanmu seorang diri?” Kemudian balasku, “Tapi, mengapa Kau memilih diam, Tuan? Masa Kau biarkan aku menderita di sini? Mengapa Engkau enggan untuk mengambil alih kekhawatiran dan kepedihan yang kurasakan?” Namun, aku merasa Ia diam saja. Tidak ada lagi jawaban dari-Nya sejak saat itu. Gelap temaram kemudian menghias cakrawala yang senyap. Di sana aku mematung, merenung, lalu tersadar.

"Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?” sebuah bait dalam kitab Mazmur 42:11 terlintas di dalam pikiranku.

“Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”

Eric Ward on Unsplash

Aku tersentak, terisak dan menyadari kebodohanku. Alih-alih memiliki pengharapan penuh dalam Pribadi-Nya yang teguh, selama ini, diriku malah hidup dalam kecenderungan hatiku yang bengkok dan rapuh. Aku mengabaikan DiriNya dan memilih jalanku sendiri. Aku melenceng, memaksakan kehendakku di atas kehendakNya. Aku terbelenggu oleh keegoisanku dan menyalahkan Dia, Penciptaku yang mengetahui apa yang kuperlukan. Adalah hal mudah bagiku untuk mengakui diri-Nya ketika hidupku terasa baik dan dipenuhi bahagia, akan tetapi, hal sebaliknya terjadi kala roda hidupku berputar, aku tidak menjadi diriku yang begitu mengagungkan DiriNya kala hidupku terasa sempurna, aku menjadi pribadi yang mengabaikan dan bahkan menyepelekan kesempurnaan dan keagunganNya. “Apakah pergumulanmu lebih besar dari Allahmu?” Kemudian, hatiku berbisik. 

Aku tersadar bahwa selama ini diriku hanya mengandalkan kekuatanku sendiri. Terlelap hingga lupa bahwa Ia yang berdaulat atas hidupku memiliki rancangan yang indah. Diriku lupa bahwa berkatNya bukanlah berbicara tentang hal-hal yang baik saja, melainkan juga tentang pergumulan yang kuhadapi saat ini. Aku lupa bahwa Allahku yang berdaulat tetap berjalan bersamaku walau jalan yang kutempuh sedang dipenuhi oleh liku. Aku lupa untuk bersandar pada Allahku. Aku lupa bahwa Ia tidak pernah memiliki keinginan untuk meninggalkan diriku. Aku lupa untuk berpegang pada kehendakNya dan menerima didikan-Nya.

Rafael Morais on Unsplash

Akan tetapi, sekarang aku tersadar, bahwa Ia tidak berjanji memberikan jalan yang selalu mulus, Ia juga tidak berjanji matahari akan selalu bersinar, tetapi, Ia berjanji bahwa DiriNya akan memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapi setiap pergumulan hidup. Itulah yang hendak kuingat, bahwa diriku harus selalu bersandar dan berharap kepada Allah kala hidupku terasa sedang tidak berjalan dengan baik. Karena Dialah Gunung Batu, sumber pertolonganku, Allah yang menciptakan langit dan Bumi.

Pada malam itu, aku kembali berjalan menuju Cahaya. Jika kemarin aku menggantungkan harapanku kepadaNya agar Dia senantiasa memberkatiku, kini melalui pergumulanku aku belajar. Ia mengajariku bahwa melalui setiap persoalan hidup Ia ingin aku bersandar penuh pada pribadiNya. Ia ingin supaya aku taat dalam rencana-Nya. Ia ingin agar aku melekat di dalam DiriNya karena hanya melalui Dialah kekuatan, sukacita, dan pengharapanku. Sekalipun aku dalam lembah kekelaman, aku tidak takut sebab Tuhan beserta denganku. Aku berjalan kembali menuju terangNya, di situ, hatiku berdesir merespons penyertaanNya. “Ia ada di dalammu,” hatiku berbisik. 

Dan aku tak lagi takut menghadapi apapun sebab Dia ada bersamaku.

LATEST POST

 

“Dek, kamu mau gak ikut pelayanan?”“Engga.”Yups, aku yakin bahwa k...
by arthia anada | 17 Aug 2019

Bulan ini, Ignite GKI sedang membahas serba-serbi gereja. Bagiku, seiring dengan beredarnya akun-aku...
by Chintya | 17 Aug 2019

Pagi ini, sebelum ada yang datang, lelaki itu sudah tiba, mendirikan motornya, membuka pagar, mengge...
by Prioutomo | 17 Aug 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER