Ketika Tuhan Mengetik Cerita Cinta (Part 2)

Best Regards, Live Through This, 26 April 2019
Sisi yang menarik adalah ketika mengetahui ada dua orang rela terluka untuk mengusahakan sebuah langkah yang seirama setiap harinya.

Memiliki pasangan dan menjalin sebuah relasi nampaknya menjadi keinginan bagi banyak orang, namun tidak untuk saya kala itu. Lelah rasanya harus memulai lagi sebuah proses adaptasi dari fase PDKT, mengenali karakter baik dan buruknya, juga belajar untuk memahami seorang pasangan. Rasanya ini bukan lagi kerinduan yang mendesak bagi saya.

Prinsip saya kala itu: kalau dikasih pasangan ya bersyukur, kalau belum dikasih juga tidak apa, saya tetap dikasihi Bapa. Sebegitu skeptisnya saya memandang sebuah relasi dengan lawan jenis, sampai-sampai perasaan saya menjadi tumpul dan tidak peka untuk menyadari kehadiran seorang rekan yang dalam kurun waktu yang cukup lama menjadi ‘tempat sampah’ bagi saya.

Eh, Kok Jadian?

Melaui sebuah komunitas rohani tempat saya terlibat untuk berkontribusi lewat tulisan, saya mengenal seorang laki-laki juga melalui tulisannya. Ada ciri khas yang mudah dikenali dari tulisannya: sarkas, jujur, dan berani. Wow!

Ketertarikan saya mulai timbul ketika beberapa kali saya mendapati tulisannya melalui sudut pandang yang unik. Saya bersyukur, dia menyambut hangat kekaguman saya akan isi kepalanya yang dia tuangkan melalui tulisan-tulisannya. Sejak saat itu pula relasi kami sebagai seorang kawan yang baik dimulai.

Photo on Unsplash

Dalam keseharian, dia berperan sebagai kawan yang hangat dan menguatkan dalam berbagai situasi yang saya alami. Tidak, kami tidak saling tertarik secepat itu. Relasi kami sebagai seorang kawan berlangsung selama satu tahun lamanya lengkap dengan naik turunnya hidup yang membuat relasi kami menjadi kadang dekat, kadang jauh.

Fluktuasi pertemanan kami terus terjadi, hingga pada suatu ketika dia dengan nekatnya mengutarakan perasaan pada saya. Dengan sama nekatnya saya mengiyakan untuk menerima ajakan berelasi dengannya tanpa pernah bertemu sama sekali sebelumnya. Nekat, mengingat perkenalan kami dimulai melalui media sosial dan belum pernah bertatap muka sejak awal.

Relasi = Solusi?

Beberapa orang yang saya temui menganggap bahwa memiliki pasangan setidaknya menjawab dan menyelesaikan beberapa permasalahan hidup. Namun tidak demikian bagi saya dan pasangan saya. Nyatanya timbul pula beberapa permasalahan baru yang kami alami, seperti perbedaan karakter dan kebiasaan, kesulitan dalam beradaptasi untuk mengartikan bahasa kasih masing-masing yang berbeda, kebiasaan ‘unik’ yang dimiliki pasangan saya karena depresi yang dia miliki, pun juga dengan menjalani hubungan jarak jauh yang sempat membuat saya stres.

Merasa sedih dan amat sangat terbatas, ketika menyadari saya tidak bisa berbuat banyak ketika depresi pasangan saya ini kambuh. Saya tahu, dalam situasi demikian dia merasa terluka dan tersakiti karena depresi yang datang tiba-tiba. Tapi saya yang menyaksikannya pun ikut terluka karena tidak mampu berbuat banyak karena jarak yang memisahkan.

Photo on Unsplash

Saya terluka, dia terluka, kami terluka menjalani relasi ini. Saya dan dia dengan segala keterbatasan masing-masing harus rela terluka untuk memahami pergumulan satu sama lain, namun tetap mengusahakan sebuah langkah dalam perjalanan dengan irama yang sama. Tidak mudah bagi kami untuk menapaki langkah demi langkah ke depan dengan segenap kerikil tajam yang harus dilalui.

Belajar Lewat Luka

Ada suatu masa yang membuat kami sama-sama meratapi dan menangisi relasi kami yang amat jauh dari sempurna karena kelemahan dan keterbatasan kami. Namun, satu hal yang saya syukuri adalah kerelaan dan kerendahan hatinya karena sekalipun harus berjuang melawan depresi, ia juga tetap mau berjalan dan mempercayakan pergumulannya pada saya. Saya tidak mendapati dia menyerah dan menyesali relasi kami yang unik ini. Justru ia pun mengingatkan saya dalam segenap kekurangan saya bahwa relasi yang kami jalani senantiasa layak mendapat tempat untuk diperjuangkan setiap harinya.

Relasi yang jauh dari kisah manis drama percintaan ini setidaknya memiliki sisi unik yang menarik; ketika mengetahui dua orang rela terluka untuk mengusahakan sebuah langkah yang seirama setiap harinya. Berat memang, selalu ada harga yang harus dibayar. Namun sejauh ini saya bersyukur menjalani langkah yang sukar ini bersama orang yang tetap memiliki kerinduan untuk terus diperbarui, baik secara personal maupun dalam berelasi.

Percikan kebahagiaan juga saya dapati melalui pasangan saya, mengingat bagaimana dia bersedia terus ada bahkan ketika saya berada dalam masa kelam tanpa sekalipun penghakiman keluar darinya. Dengan pergumulan hidupnya yang berat bersama depresinya, dia tetap bersedia menjadi pasangan yang mengusahakan banyak hal, memberikan kehangatan juga rasa aman ketika saya mulai goyah dan mengalami krisis diri luar biasa. Tuhan sungguh baik, karena menghadirkannya sebagai seorang pasangan yang amat mengasihi dengan segenap keterbatasan saya.

Photo by on Unsplash

Basis - Bangunan Atas

Beberapa kali saya menanyakan pada pasangan saya, “Kamu kenapa sih pada akhirnya mau berelasi?” Jawabannya selalu sama: “Untuk memaknai kasih Allah dan menerapkannya kepada sekitar, dalam hal ini ya kepada pasanganku.” Respons saya kala itu, “Holy banget ya jawabannya.” Sedikit kesal, karena kalimat romantis yang saya harapkan tidak keluar darinya; namun saya tetap menerima jawabannya yang holy itu, hingga lambat laun saya juga menyadari esensi sebuah relasi.

Matt Chandler dalam bukunya yang berjudul The Mingling of Souls mengungkapkan bahwa “Hanya dengan memaafkan dan mencintai pasangan kita yang berdosa, kita mulai memahami maknanya dalam skala yang jauh lebih kecil ketika Allah yang kudus mengampuni dan menebus kita.” Saya jadi menyadari bahwa alasan pasangan saya tadi ternyata benar. Bahwa relasi yang benar sejatinya adalah gambaran kasih Allah kepada umat-Nya yang terbatas dan berdosa ini.

Layaknya seorang anak yang meneladani sikap hidup orang tuanya, pun demikian dengan kita sebagai anak-anak Allah, hendaknya mengasihi dan menggambarkan citra Allah yang penuh kasih kepada sekitar kita, termasuk pada pasangan. Kalau Yesus sudah membayar kita dengan darah yang mahal sebagai tanda kasih-Nya yang dalam pada kita, mengapa kita harus menolak bayar harga untuk mengasihi dan menerima keterbatasan pasangan kita yang sama berdosanya dengan kita? Karena kasih yang besar sudah kita dapati, apakah kita mau hanya berdiam dan tidak membagikan kabar kasih Allah kepada sekeliling? Haruskah kita bersikap se- egois itu?

Dalam perjalanan ke depan, tentu akan ditemui kesukaran dalam relasi ini. Selain bersandar kepada Allah yang begitu memelihara dan menopang kami, saya boleh sedikit sombong karena merasa aman menjalani relasi ke depan dengan orang yang sama-sama mau mengusahakan dan memperjuangkan relasi kami berdua. Terima kasih ya kamu, iya kamu :)

LATEST POST

 

“Swing low, sweet chariotComing for to carry me homeSwing low, sweet chariotComing for to carr...
by Christan Reksa | 18 May 2019

Belakangan ini sering terjadi perdebatan, bahkan perpecahan dari kedua kubu politik dimana para pend...
by Priska Aprilia | 18 May 2019

“Untuk beli bibit.. ““Untuk beli obat, Neng...”“Kemarin harga jatuh. P...
by Surya Hadi | 18 May 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER