“Banyak Dosa, Banyak Anugerah, Kan?”: Sebuah Dalih Demi Kebahagiaan yang Fana

Going Deeper, God's Words, 26 November 2020
"Praise the Lord! His mercy is more! Stronger than mountain, new every morn' Our sins there are many, His mercy is more" - Matt Boswell & Matt Papa

“Saking seringnya terjadi, hal-hal buruk menjadi sesuatu yang terasa biasa bagi kita… bahkan menumpulkan hati nurani kita sendiri.”

Pernahkah Ignite People merasakan hal tersebut?

Kita bisa melihatnya mulai dari berita yang dipenuhi dengan kejahatan di sana-sini, hingga pengalaman buruk yang menimpa kita secara langsung. Nah, udah mulai bisa ngebayanginnya, kan? Jengah, ga?

Well, you’re not alone, Ignite People: Saya juga mengalami hal yang sama.

Sebagai contoh, karena terlalu sering mendengar ada banyak orang yang bergumul dengan kesehatan mentalnya (dari yang fungsi hidupnya masih tetap oke sampai yang sudah terganggu), saya sampai khawatir kalau kepekaan saya akan semakin tumpul saking jenuhnya. Tentunya hal ini akan sangat memengaruhi seberapa jauh saya bisa berempati dan menerima orang lain apa adanya, apalagi karena dua skill ini sangat penting bagi saya sebagai calon konselor. Plus, saya juga butuh untuk bisa merefleksikan apa yang disampaikan oleh orang lain (dalam hal ini khususnya pada klien kelak). Dengan beragam masalah yang dimiliki setiap orang, sejujurnya saya tidak habis pikir dengan dampak yang luar biasa dari dosa ini. Salah satu dosen saya bahkan pernah berkata, “Sepuluh orang berarti ada sepuluh masalah.” Artinya, keunikan setiap orang membuat akar permasalahan yang sama bisa memiliki konteks yang berbeda. Itulah sebabnya kenapa di dalam konseling tidak ada resep A yang ampuh untuk menghadapi masalah A, resep B untuk masalah B, dan sebagainya. Saking bingungnya, saya sampai bertanya, “Dulu waktu Adam sama Hawa mutusin buat makan buah dari pohon yang dilarang itu mereka mikir nggak sih dampaknya bakal kayak sekarang?”


Photo by Artur Rutkowski on Unsplash 


Sebagai manusia yang gambar dirinya sudah rusak karena dosa, standar dari apa yang baik dan yang jahat jadi berubah drastis. Kalau sebelum kejatuhan dalam dosa standarnya berasal dari Allah saja, maka setelah itu… bukan hanya gambar diri manusia—sebagai gambar dan rupa Allah—yang rusak. Relasi mereka dengan Allah dan sesama juga rusak, bahkan konsep tentang benar dan salah jadi sangat relatif karena disesuaikan dengan logika manusia. Itulah sebabnya ketika manusia pertama (Adam dan Hawa) memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat, mereka sedang menunjukkan keinginan mereka untuk jadi “tuhan” atas diri mereka sendiri… dan di sinilah dosa pertama muncul. Yess, karena dosa nggak cuma fenomena perbuatan seseorang, tapi juga kondisi dan cara hidup yang melibatkan seluruh dirinya. Singkatnya, sejak kejatuhan manusia dalam dosa, bukan manusia namanya kalau nggak berdosa—saking melekatnya status keberdosaan manusia secara universal. Nggak heran kalau kita sering mendengar ungkapan seperti, “Ya kalau masih berdosa berarti kita ini masih manusia. Belum jadi malaikat.” Ironisnya, kita lupa bahwa tidak semua malaikat juga menyembah Tuhan—ingat Iblis dan para pengikutnya. HEHE.

See?

Dosa ternyata seampuh itu, dan dampaknya bukan hanya dirasakan oleh manusia—bahkan juga memengaruhi alam yang sebenarnya bukan ciptaan yang memiliki moral. Karena itulah Herman Bavinck (mengacu pada peristiwa Reformasi) berkata, “Hanya anugerah yang berlawanan terhadap dosa, bukan alam.”[1] Setidaknya ada dua bukti yang bisa kita lihat dari sini: rusaknya relasi antara manusia dengan Allah (tentunya), diri sendiri, dan sesama; serta kegagalan manusia dalam mengelola alam karena eksploitasi demi memenuhi keserakahannya. Tidak heran kalau dosa mengakibatkan maut, dan tidak ada seorangpun yang masih memiliki kemuliaan Allah dalam dirinya karena dosa telah merusak gambar diri semua orang tanpa terkecuali (Roma 6:23, 3:23).

Tapi kembali lagi mengacu pada pernyataan Bavinck yang (seharusnya) membuat kita bersyukur: karena anugerah Allah, Dia berinisiatif menyelamatkan kita dari maut dan memulihkan relasi kita dengan-Nya (melalui pengurbanan Tuhan Yesus Kristus). So the problem is solved, right?

Ups, ternyata nggak!

Memang sih, kita diselamatkan hanya oleh anugerah melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Tapi nggak berhenti di situ, kita masih harus mengerjakan keselamatan yang sudah Dia berikan bagi kita. Bukan berarti kita harus melakukan perbuatan baik hanya agar keselamatan itu semakin bertambah (atau kita semakin dibenarkan), tapi perbuatan baik itu adalah bukti bahwa kita sudah diselamatkan—dan kita bisa jadi Injil yang terbuka bagi dunia ini… Yes, sebagai orang yang sudah menerima anugerah itu, kita dipanggil untuk menjadi kitab yang menceritakan tentang karya keselamatan atas inisiatif Allah bagi manusia berdosa agar mereka—yang percaya kepada Anak-Nya yang tunggal—beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).


But let’s ask ourselves first:

“Apakah kita benar-benar sudah menjadi Injil yang terbuka itu?”


Photo by Patrick Schneider on Unsplash


Kalau mau jujur, rasanya kita sering jatuh-bangun untuk menghidupi anugerah Tuhan ini, kan? Oke deh, mungkin bukan karena kitanya yang nggak ada usaha, tapi… bisa jadi karena kita malas, bahkan berdalih dengan menggunakan ayat ini:

“Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.”

–Roma 5:20b

“Nggak apa-apalah masih bikin dosa dikit-dikit. Toh Tuhan pasti mengampuni, kok.”

“Halah, wong semua orang juga masih sama-sama punya dosa. Nanti kalau hidupnya langsung jadi alim, aku dibilang sok suci kan… sedih. Tapi Tuhan tahu kok, kalau aku masih percaya sama dia.”

“Kalau kata Paulus, 'Kedaginganku ini lemah'—jadi aku masih sering ngelakuin apa yang harusnya nggak aku lakuin.”

“Nggak apa-apalahhh… Aku masih muda, kok. Hidup tu cuma sekali, Guys. Jadi dinikmati ajaa~ Just let it flow~


Well, there will always be such that excuses, dan itu membuktikan bahwa pada dasarnya, dosa memang sudah merasuki seluruh aspek kehidupan manusia—termasuk hati nurani kita. Roma 3:10-12 menjelaskannya dengan terang-terangan:

Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.

Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.

Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna,

tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”

Kalau kita masih bisa memikirkan dan melakukan hal-hal yang baik, itu semata-mata hanya karena anugerah umum (common grace) yang diberikan Allah bagi setiap orang tanpa terkecuali. Contohnya melalui keindahan alam dimana manusia diberikan ruang untuk mengekspresikan kekagumannya pada Allah, dan kebebasan dalam memilih untuk tetap hidup dalam dosa atau taat kepada Allah. Tapi bagi orang percaya, Allah juga memberikan anugerah khusus (special grace)—anugerah dimana Dia memanggil (call), membenarkan (justify), dan menguduskan (sanctify) mereka sebagai umat pilihan-Nya. Anugerah seperti ini tidak akan pernah bisa didapatkan manusia dengan usahanya sendiri, karena dosa sudah mencemari apapun yang dilakukannya.

“Lho tapi tadi bukannya kita disuruh buat ngelakuin perbuatan baik?”

Iya, bener. Karena itulah Yakobus 4:17 berkata bahwa kalau kita tahu apa yang baik tapi tidak melakukannya, maka kita berdosa. Di bagian yang lain, sang penulis juga mengatakan, “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” (Yakobus 2:17) Artinya, percuma kita mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, rajin pelayanan di mana-mana, tapi kita nggak mengintegrasikan iman kita ke seluruh aspek kehidupan kita (entah dalam berelasi, bekerja, belajar, bahkan soal memenuhi kebutuhan sehari-hari). Sulit? Yes, karena dosa memang sudah merajalela ke seluruh dunia dan merusak tatanan kehidupan manusia. Tapi bukan berarti itu jadi alasan bagi kita untuk jadi tetap berkubang dalam dosa. Bukankah ketika kita memutuskan untuk tetap memilih berdosa (apalagi setelah mengetahui kebenaran Firman Tuhan), kita sedang take the grace for granted?


Photo by Greg Weaver on Unsplash 


Berbicara tentang dosa dan anugerah, saya jadi teringat pada peristiwa ketika Yesus diundang ke sebuah perjamuan makan oleh seorang Farisi bernama Simon (Lukas 7:36-50). Bukannya disambut dengan penuh keramahan oleh Simon (karena pada masa itu, salah satu wujud hospitability orang Yahudi adalah dengan meencuci kaki para tamu yang datang berkunjung),  Yesus justru memperoleh sambutan tidak terduga dari seorang perempuan pendosa (yang bisa dikatakan sebagai “pelacur”). Perempuan itu menangis di kaki Yesus, menyeka kaki-Nya yang kotor (karena jalanan di sana penuh dengan debu dan pasir) dengan rambutnya, bahkan mencium serta meminyaki kaki-Nya dengan minyak wangi!

Ada kemungkinan Simon seolah-olah membiarkan perempuan itu masuk ke rumahnya karena dia ingin mencobai Yesus. Tapi menariknya, penulis Lukas menjelaskan bahwa setelah kejadian itu, Yesus menceritakan tentang dua orang yang berutang kepada orang yang sama: yang satu berutang 500 dinar, yang lain 50 dinar.

“Karena tidak bisa membayar utang mereka,” kata Yesus, “pelepas uang itu membebaskan mereka dari utang itu. Jadi di antara kedua orang itu, siapa yang akan lebih mengasihi sang pelepas uang?”

Jawabannya jelas: Pasti yang berutang 500 dinar.

Plot twist-nya, Yesus lalu membandingkan diri Simon dengan perempuan itu. Simon mungkin bisa saja bersikap sebagai orang Farisi yang taat pada peraturan agama Yahudi, tapi hatinya tidak benar-benar terbuka untuk menyambut dan mengenal Allah secara pribadi. Sebaliknya, perempuan itu justru menyambut Yesus dengan sambutan yang penuh hormat (meskipun mungkin tidak sesuai dengan adat-istiadat Yahudi untuk memperlihatkan rambutnya di hadapan umum). Bisa terlihat dengan jelas siapa yang sungguh-sungguh menghargai kedatangan Allah (melalui Yesus), kan?


Pertanyaannya, apakah kita masih akan tetap menyia-nyiakan anugerah Allah demi kebahagiaan fana di dunia yang sementara ini? Padahal kita sendiri tidak tahu sampai kapan kita akan tetap hidup (apalagi dengan pandemi serta berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi kapan saja).


Kiranya dalam pergumulan melawan godaan dosa, kita berseru seperti yang dilakukan oleh pemazmur:

“Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN!

Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.

Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan,

Tuhan, siapakah yang dapat tahan?

Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.

Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.”

(Mazmur 130:1-5)


[1] Herman Bavinck, Reformed Dogmatics (Abridged in One Volume) (Grand Rapids: Baker Academic, 2011), 496.



NB: Saya merekomendasikan Ignite People untuk membaca Grace is Greater yang ditulis oleh Kyle Idleman sebagai bacaan lebih lanjut. :)

LATEST POST

 

Buat kalian pecinta YouTube, adakah dari kalian yang merasakan hal yang berbeda di awal tahun ini? K...
by Lay Lukas Christian | 22 Jan 2021

Just imagine, or remember, if you have this kind of story of life! One day, you met your “supp...
by Timothy Aditya Sutantyo | 22 Jan 2021

Berada dalam suatu persekutuan inklusif yang membangun iman percayaku kepada Allah Tritunggal dan da...
by Jerell Michael Cussoy | 21 Jan 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER