Tiga Tahun

Best Regards, Fiction, 17 August 2019
“Tiga tahun saja,” bisiknya. "Bukankah setelah tiga tahun, mereka berani jalan mandiri?"

Dia adalah satu-satunya orang yang tak bertanda salib di gereja itu. Orang-orang di situ, baik lelaki maupun perempuan, ada yang berkalung, beranting, bahkan bertato salib. Semua berbangga dengan salib, kecuali dia, lelaki yang sedang duduk di sebelahku.

Sudah satu jam lebih aku menumpahkan kegerahan dan kegemasanku tentang gereja ini.

“Ini gereja mintanya banyak! Nuntut ini, nuntut itu, semua harus kukerjakan!”

Kira-kira itu inti dari semua kalimat yang sekarang mungkin tersangkut di bangku-bangku kayu, petak-petak lantai, dan dinding-dinding dingin, juga langit-langit tinggi dan megah. Semuanya melompong, garing, segaring salib di belakang mimbar yang menyimak pembicaraan kami yang sebenarnya satu arah ini.

Jangan-jangan, kata-kataku juga ompong, keluar dari pikiran yang juga ompong, tanpa gigi, tanpa tahanan apapun, keluar meleleh begitu saja. Mungkin kata-kataku tak punya kemampuan menggigit, terutama menggigit telinga lelaki tanpa salib di sebelahku ini, maka dia diam saja dengan kepala yang bergoyang-goyang.

“Kamu nggak lagi mendengarkan musik, kan?” akhirnya aku kesal, “Kupingmu nggak nyambung headset, ngapain sih kamu?”

Sejujurnya, aku jatuh cinta dengan lelaki ini. Dia tak pernah menyembunyikan perasaannya. Ketika hari sedang membuatnya penat, dia memilih untuk duduk di sini, di bangku tengah terdepan, mengangkat kepala, memakukan matanya pada salib, dan tentu saja, menggoyang-goyangkan kepala. Aku kagum. Dia tak butuh gawai, Youtube atau Spotify, yang tersambung dengan wifi, untuk menikmati garingnya kehidupan. Belakangan ini, aku bisa menebak warna hatinya dengan menghitung napasnya. Kali ini, dia bernapas tiap dua detik. Hatinya pasti biru laut, dengan bintik-bintik putih busa yang sampai ke pantai.

Aku sendiri perempuan, mudah-mudahan muda, baru kembali ke kotaku ini seusai kerja keras di tanah rantau. Aku lulus cepat dan kini, seperti candaan beberapa teman, “Sepandai-pandainya Cina sekolah, akhirnya jatuh di toko juga.” Aku rindu kampus itu, tempatku tumbuh dan berkembang begitu rupa. Di sini aku terguncang, bukan karena dinamikanya begitu dahsyat, melainkan karena tak ada guncangan sama sekali, tak ada goyangan yang berarti. Garing. Hanya lelaki di sampingku ini yang bergoyang-goyang kepala tapi diam saja.

Aku merindukan teman-teman bermusik di tempatku berpelayanan semasa berkuliah dulu. Masing-masing punya cerita, masing-masing menyimpan rahasia. Kami tak ada yang suci, sekalipun berusaha menguduskan, mengkhususkan diri bagi Tuhan. Ada yang harus berjuang melawan rasa bersalahnya pada masa lalu dan hanya bisa tenang ketika duduk di depan piano dan memainkannya. Ada yang ingin berteriak karena tak ada yang mau mendengarkan ucapannya yang tak jelas, dan kami tahu itu ketika ia memainkan gitarnya dengan melodi yang ganjil itu. Yang bermain drum sedang dalam masa pemulihan dari perpisahannya dengan kekasih pertamanya; matanya yang terpejam tak selalu berarti dia sedang berhitung sambil bermain. Aku sendiri bermain bas sambil memimpin mereka, tampak sebagai yang paling tenang dan tangguh, yang paling teduh, seperti lelaki yang bergoyang-goyang kepala di sampingku ini.

“Aku pengen berhenti, rehat. Biar ini gereja cari lagi yang bisa pegang Komisi Musik. Semua-mua kok dibebankan ke aku. Paskah kemarin, Natal besok. Belum lagi paduan suara yang orangnya makin dikit.”

Aku berdiri, hendak pergi, dengan hati yang menginginkan lelaki itu mengejarku, menangkap pergelangan tanganku, lalu memelukku dan mengatakan sesuatu.

Sampai di tepi bangku, aku tak mendengar suara apapun. Dua, tiga langkah menjauh dari bangku, aku juga tak mendengar suara sandalnya menepuk-nepuk lantai. Lelaki itu seperti tak peduli, tak peka dengan segala kode yang dengan usaha keras kulemparkan. Untuk apa aku jatuh cinta pada lelaki seperti itu?

Aku berhenti tepat di pintu gereja, membalikkan badan, dan terkejut. Lelaki itu berdiri satu meter di depanku dengan sandal di tangannya.

“Itulah kenapa aku tiga tahun saja,” katanya.

Aku menangis. Aku meledak seperti petasan dalam air. Aku tak mengerti kata-katanya yang terlontar tanpa kepala yang bergoyang. Aku tak bisa menghitung napasnya; aku lelap di dadanya. Yang bisa kurasakan hanyalah tangannya yang beristirahat pada bahu dan punggungku.

“Tiga tahun saja,” bisiknya. "Bukankah setelah tiga tahun, mereka berani jalan mandiri?"

LATEST POST

 

Kita semua tentu tidak asing dengan DC Comics—salah satu perusahaan komik terbesar di Amerika...
by Febrian Eka Sandi Nugroho | 09 Oct 2019

Beberapa tahun lalu, saya mengerjakan penulisan untuk sebuah majalah ‘untuk kalangan Kris...
by Sobat Anonim | 09 Oct 2019

Kekacauan di Indonesia yang terjadi beberapa pekan terakhir melukai hati saya. Bisa dibilang, setiap...
by Eleazar Evan Moeljono | 05 Oct 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER